Cherreads

Begin Again

Jati_Wahyuningtyas
7
chs / week
The average realized release rate over the past 30 days is 7 chs / week.
--
NOT RATINGS
20
Views
Synopsis
Datang ke Korea untuk melanjutkan studi, aku hanya ingin menjalani kehidupan baru dan mengejar impianku. Namun, sebuah kejadian tak terduga mempertemukanku dengan Kim Jaehwan. Awalnya kami hanyalah dua orang asing yang tidak sengaja bertemu. Tetapi pertemuan-pertemuan kecil membuat kami semakin dekat, hingga tanpa kusadari, kehadirannya perlahan menjadi bagian penting dalam hidupku. Di tengah perbedaan negara, budaya, dan kehidupan yang kami jalani, perasaan tumbuh tanpa pernah kami rencanakan. Namun, ketika aku harus memilih antara mempertahankan impian atau mengikuti perasaan, aku mulai bertanya— Apakah pertemuan kami hanya kebetulan, atau memang takdir yang mempertemukan kami?
Table of contents
VIEW MORE

Chapter 1 - Negeri Yang Asing

"Akhirnya, aku sampai juga di negara ini."

Kalimat itu berulang kali terucap dalam hati ketika kedua kakiku akhirnya menginjak lantai bandara.

Aku berhenti sejenak di dekat pintu keluar, membiarkan orang-orang berlalu-lalang di sekelilingku. Udara yang kuhirup terasa berbeda. Lebih dingin daripada udara Jogja, tetapi justru terasa begitu segar setelah berjam-jam berada di dalam pesawat.

Tanganku masih menggenggam erat pegangan koper merah marun yang sejak tadi kuseret ke mana pun aku pergi.

Aku mengembuskan napas panjang.

Jadi, ini benar-benar terjadi.

Aku berada ribuan kilometer dari rumah.

Untuk pertama kalinya, aku harus hidup di tempat yang tidak kukenal, dengan bahasa yang belum sepenuhnya kupahami, orang-orang yang sama sekali asing, dan kebiasaan yang berbeda dari apa yang selama ini kukenal.

Entah kenapa, tiba-tiba aku merindukan rumah.

Bayangan rumah di Jogja melintas begitu saja di kepalaku. Halaman kecil dengan beberapa tanaman milik Ibu, suara kendaraan yang lewat di depan rumah, aroma masakan dari dapur, bahkan suara Ayah yang biasanya mengingatkanku untuk tidak tidur terlalu malam.

Aku tersenyum kecil.

"Baru juga sampai sudah kangen rumah."

Aku menggelengkan kepala dan kembali berjalan sambil menyeret koper merah maroon .

Di dalam bandara, berbagai bahasa terdengar bersahutan. Ada yang berbicara dalam bahasa Inggris, beberapa terdengar seperti bahasa yang sama sekali tidak kukenal. Orang-orang dari berbagai negara berjalan dengan tujuan masing-masing, membawa koper, tas, dan kehidupan mereka sendiri.

Aku merasa seperti satu titik kecil di tengah dunia yang begitu luas.

Lalu pandanganku berhenti pada seseorang.

Seorang perempuan yang berdiri tidak jauh dariku. Ia mengenakan pakaian batik. Aku refleks memperhatikannya beberapa detik.

Indonesia.

Entah mengapa melihat motif batik di tengah keramaian orang asing membuatku merasa sedikit lebih dekat dengan rumah. Perempuan itu rupanya menyadari hal yang sama. Mata kami bertemu dan ia tersenyum.

"kak ,orang Indonesia juga?"

Aku mengangguk.

"Iya."

"Liburan, kak?" tanyanya

Aku tersenyum kecil. Percakapan kami singkat layaknya orang Indonesia basa basi satu sama lain merupakan budayayang tidak pernah ditinggalkan kemana pun berada. Tak lama kemudian perempuan itu melihat jam dan ponsel sepertinya dia sudah akan pergi .

"kak , saya udah dijemput sodara saya. mari kak" pamitnya dengan tersenyum manis sambil membawa koper dan beberapa tas kecil ditangan kirinya 

"Iya... mari." jawabku singkat

Percakapan singkat itu sebenarnya sederhana. Namun entah kenapa, setelah perempuan itu pergi, ada rasa hangat yang tertinggal di dadaku. Mungkin karena baru beberapa menit berada di negara asing, tetapi sudah menemukan sesuatu yang mengingatkanku pada rumah.

Aku kembali melanjutkan langkah. Kali ini aku harus mencari seseorang. Seseorang yang akan menjemput dan mengantarkanku ke tempat tinggalku selama berada di negara ini. Aku sebenarnya tidak datang untuk berlibur. Perjalanan ini adalah awal dari sesuatu yang jauh lebih besar. Aku akan tinggal di sini untuk melanjutkan studi. Keputusan itu bukan sesuatu yang kuambil dalam semalam. Ada banyak pertimbangan, banyak percakapan dengan orang tua, dan tentu saja banyak keraguan. Namun pada akhirnya, aku memilih berangkat.Aku ingin mencoba hidup sendiri mandiri. Meskipun aku sudah berada di negara orang beberapa bulan yang lalu sempat tidak dapat restu dari orang tua ku. Akupun membujuk menyakinkan merek a bahwa aku juga bisa membuktikan bahwa anak tunggal sepertiku bisa mandiri dan berjalan sendiri menentukan langkahku sendiri tanpa adanya privilege. Aku ingin melihat dunia yang selama ini hanya bisa kulihat melalui layar komputer dan buku-buku.

Dan mungkin...aku juga ingin menemukan sesuatu yang bahkan belum kuketahui sedang kucari Aku menarik koperku melewati pintu keluar. Beberapa orang terlihat memegang papan nama, menunggu seseorang yang baru datang. Mataku bergerak dari satu papan ke papan lainnya.

Tidak ada namaku.

Aku mulai sedikit panik. Jangan-jangan aku salah tempat?

Aku membuka ponsel dan memeriksa pesan terakhir yang dikirimkan kepadaku.

"Begitu keluar dari pintu kedatangan, tunggu di dekat informasi. Saya akan memakai pakaian suster. Jangan khawatir, saya pasti menemukanmu."

Aku membaca pesan itu sekali lagi.

Suster Lucia.

Itulah nama orang yang akan menjemputku.Suster Lucia merupakan seorang biarawati yang telah lama tinggal di negara ini. Usianya sekitar sepuluh tahun lebih tua dariku. Ia ditugaskan untuk membantu mengurus sebuah panti asuhan yang berada tidak terlalu jauh dari tempat tinggalku nanti. Lucia bukan orang asing bagi keluargaku. Ia adalah anak dari pemilik panti asuhan tersebut. Dan yang lebih mengejutkan, ia masih memiliki hubungan keluarga dengan orang tuaku di Jogja. Sepupu jauh, kata Ibu. Ayah Suster Lucia orang asli Korea sedangkan Ibunya orang Jogja.Walaupun hubungan darah kami cukup jauh, Ibu selalu mengatakan bahwa aku bisa mempercayainya.

"Kalau ada apa-apa di sana, hubungi Suster Lucia. Dia keluarga kita." kata ibu beberapa hari sebelum aku berangkat

Aku masih mengingat pesan Ibu sebelum berangkat.

Saat itu aku hanya tertawa.

Sekarang?

Aku mulai berharap pesan itu benar-benar berlaku.

Aku berdiri di dekat meja informasi sambil memeriksa ponsel sekali lagi.

Lima menit. Sepuluh menit. Belum ada tanda-tanda. Aku mulai memainkan ujung tali tas yang menggantung di bahuku.

"Jangan bilang aku ditinggal...atau jangan jangan beliau lupa menjemputku"

Aku menghela napas.

Baru saja aku hendak menelepon ketika seseorang melambaikan tangan dari kejauhan.Seorang perempuan mengenakan pakaian biarawati berjalan mendekat. Wajahnya terlihat ramah. Aku langsung mengenalinya dari foto yang pernah dikirim Ibu.

"Suster Lucia?"

Perempuan itu tersenyum lebar.

"Kamu pasti..."

Ia berhenti sebentar, memperhatikanku dari atas sampai bawah.Kemudian tersenyum semakin lebar.

"Sudah besar sekali."

Aku tertawa kecil.

"Padahal Suster baru lihat aku sekali waktu aku masih kecil."

"Memang. Tapi wajahmu masih sama."

"Serius?"

"Serius."

Ia kemudian mengambil salah satu pegangan koperku.

"Berikan sini. Kamu pasti capek."

"Tidak usah, Suster. Saya bisa."

"Sudah, jangan membantah. Kamu baru sampai."

Aku menurut.

Kami berjalan berdampingan menuju pintu keluar.

"Perjalananmu bagaimana?"

"Capek, tapi baik."

"Sudah makan?"

Aku menggeleng.

Suster Lucia tertawa.

"Nah, itu. Orang Indonesia kalau perjalanan jauh yang dipikirkan cuma sampai tujuan. Makan lupa."

Aku ikut tertawa.

Percakapan ringan itu membuatku merasa sedikit lebih tenang.

Namun ketenangan itu tidak berlangsung lama.

Saat kami keluar dari gedung bandara, aku melihat sebuah mobil hitam terparkir di area penjemputan. Suster Lucia berhenti. Aku ikut berhenti.Ia memandang mobil itu beberapa saat. Kemudian seseorang keluar dari kursi pengemudi.

Seorang laki-laki. Tinggi. Mengenakan kemeja putih dengan lengan yang digulung sampai siku. Ia berdiri di samping mobil sambil melihat ke arah kami. Entah kenapa, tatapannya membuat langkahku terhenti. Aku tidak mengenalnya. Setidaknya, aku yakin belum pernah bertemu dengannya.

Suster Lucia justru tersenyum seperti sudah mengenal laki-laki itu sejak lama.

"Oh, ternyata dia datang juga."

Aku menoleh.

"Dia siapa, Suster?"

Lucia tidak langsung menjawab.

Laki-laki itu berjalan mendekat. Semakin dekat.

Dan semakin jelas wajahnya.

Ada sesuatu dalam tatapannya yang membuatku merasa tidak nyaman.

Bukan karena ia terlihat menyeramkan.

Justru sebaliknya.

Wajahnya tenang.

Terlalu tenang.

Ia berhenti tepat di depan kami.

Suster Lucia memperkenalkan kami.

"Kenalkan."

Aku menatapnya.

Laki-laki itu mengulurkan tangannya.

"Nama saya Adrian."

Aku terdiam sesaat sebelum akhirnya menyambut uluran tangannya.

"Nama saya..."

Aku belum sempat menyelesaikan kalimatku ketika ia mengatakan namaku terlebih dahulu.

"Aku tahu."

Aku mengernyitkan dahi.

"Kamu..."

Adrian hanya tersenyum tipis.

"Akhirnya kamu datang juga."

Jantungku berdetak sedikit lebih cepat.

Aku menatap Suster Lucia.

Namun perempuan itu hanya tersenyum seolah tidak ada sesuatu yang aneh.

Padahal bagiku...

ada sesuatu yang jelas-jelas tidak beres.

Karena aku tidak pernah bertemu Adrian sebelumnya.

Lalu bagaimana mungkin dia mengenalku?

Dan yang lebih membuatku bertanya-tanya...

mengapa kalimat pertamanya kepadaku terdengar seperti seseorang yang sudah lama menungguku?