Cherreads

The Geng ster in Bandung Era 70

1. Glomgoli adalah nama samaran untuk para gelandangan malam, para berandal, dari sebuah kelompok geng di tahun 70-an di kota Bandung. Mereka adalah julukan bagi mereka yang menguasai wilayah Bandung Square, Jalan Merdeka dan sekitarnya. Pemimpin kelompok ini adalah Ishak dan Dedi adalah anggota Glomgoli yang paling liar.

2. Perlon adalah nama kelompok geng di tahun 70-an, sama seperti Glengoli. Perlon adalah singkatan dari Vagina Predator Group (Kelompok Predator Vagina). Geng ini sangat brutal dan kejam, melakukan kejahatan terhadap perempuan. Wilayah kekuasaan mereka dari Cikosa hingga Buinong Jati. Anes, yang bukan pemimpin kelompok, adalah anggota Perlon yang paling liar, orang yang paling ditakuti di Perlon.

3 Angker Anak-anak Karees ini adalah Ujang Goup Geng ini adalah wilayah Karees Gatot Subroto Timur hingga Binong Jati Barat Wilayah Angker adalah Karees Gatot Subroto dan sekitarnya, di sebelah timur Binong Jati, berbatasan dengan Geng Perlon, perampok Nonok (Perangsang Vagina), di sebelah barat Alun-alun Jalan Merdeka, berbatasan dengan Geng Gremgoli, gelandangan malam, para pemburu liar

Bandung pada tahun 1970-an bukan hanya kota dengan semilir angin pegunungan yang sejuk dan bunga-bunga yang bermekaran; ia juga merupakan medan pertempuran kaum muda, kehormatan, dan loyalitas yang berubah-ubah. Di bawah bayang-bayang bangunan kolonial, aspal menjadi milik mereka yang cukup berani untuk mengklaimnya. Itu adalah era yang ditandai dengan deru sepeda motor modifikasi, kilatan tajam pisau tersembunyi, dan pengabdian sengit geng jalanan yang menandai wilayah mereka dengan darah dan kebanggaan.

Untuk menjelajahi kota pada masa itu, seseorang harus mengetahui peta dunia bawah.

Di jantung kota yang diterangi lampu neon, menguasai Alun-alun Bandung yang ramai dan membentang di sepanjang Jalan Merdeka, berkuasalah Glomgoli. Mereka dikenal sebagai gelandangan malam, "parang liar" pusat kota. Dipimpin oleh Ishak yang penuh perhitungan, barisan mereka dipimpin oleh Dedi, seorang pria yang kekerasan tak terkendalinya menjadikannya jiwa yang paling liar dan tak terduga di wilayah Glomgoli.

Di sebelah timur, di mana bayangan semakin gelap dan beton berubah menjadi keras dari Cikosa ke Binong Jati, terbentang wilayah Perlon—Kelompok Perempuan Loba Diheureuyan (Kelompok Predator Vagina). Brutal, kejam, dan terkenal karena kejahatan tanpa ampun mereka terhadap perempuan, mereka berkuasa melalui teror. Mereka dipimpin bukan oleh seorang dalang, tetapi didorong oleh kebencian murni Anes. Dia bukan pemimpin resmi, tetapi dia adalah anggota yang paling liar—nama yang paling ditakuti yang dibisikkan di sudut-sudut gelap wilayah kekuasaan Perlon.

Lalu, terjebak di antara parang liar dari barat dan predator kejam dari timur, muncullah Angker—Anak-Anak Karees.

Wilayah Angker membentang di sepanjang jalur Gatot Subroto yang ramai, memanjang ke timur menuju Binong Jati tempat mereka berkonflik dengan Perlon, dan ke barat menuju Alun-alun tempat mereka mempertahankan garis pertahanan melawan Glomgoli. Angker tidak berjuang untuk tirani; mereka berjuang untuk persaudaraan mereka, kelangsungan hidup mereka, dan rumah mereka. Dan di tengah persaudaraan ini ada seorang pemuda yang dikenal teman-temannya sebagai Ujang—pemuda yang kelak akan menjadi ayahku, Achmad Sutisna.

Ini bukan sekadar sejarah perang jalanan dan kebanggaan teritorial. Ini adalah kisah tentang bagaimana kaum muda bertahan hidup di tengah gejolak tahun 70-an. Ini adalah catatan perjalanan seorang pemuda dalam mencari jati diri di tengah pengkhianatan dan per alliances yang berubah-ubah, dan bagaimana, di tengah kekacauan, hati masih berhasil menemukan cinta. Dari sudut-sudut suci yang tenang di Masjid At-Tawakal hingga gema yang memilukan dari kompetisi grup vokal lokal, kehidupan Ujang adalah melodi romantis yang indah dan berliku.

Sebelum rambut beruban dan kenangan menjadi kata-kata tertulis, ada suatu masa ketika bintang-bintang di atas Bandung menyaksikan semuanya. Persahabatan yang bertahan melewati ujian waktu, kisah cinta yang mekar seperti anggrek di bawah sinar bulan, dan pengkhianatan yang lebih menyakitkan daripada sabetan parang.

Kembali ke masa-masa penuh asap, musik, dan emosi yang membara. Inilah warisan dari Seven Stars, dan dunia melalui mata bocah yang mereka sebut Ujang.

More Chapters