Proses menggambar manga berjalan dengan tertib. Bab pertama memiliki total 31 halaman, dan Sagiri menghabiskan waktu sepuluh hari penuh untuk menyelesaikannya.
Sagiri mulai mencari situs komik di internet. Dia menyaring situs-situs kecil terlebih dahulu, lalu menganalisis platform besar satu per satu. Dengan bakat menggambar tingkat dewa yang dimilikinya, dia tentu harus sangat selektif dalam memilih tempat bernaung.
Saat ini, ada beberapa platform komik digital besar yang berbayar di internet, seperti Shonen Jump, Shonen Sunday, Shonen Magazine, dan Dengeki King (Raja Sengatan Listrik).
Situs web komik seperti ini memiliki sistem yang berbeda dari majalah cetak. Mereka berdiri sendiri secara independen. Karya yang rilis di majalah cetak biasanya akan ikut diserialisasikan di internet, tetapi komik yang rilis gratisan di internet belum tentu bisa masuk ke majalah fisik.
Dengan kata lain, platform komik web adalah jendela bagi para komikus amatir untuk meraih popularitas secara daring. Jika beruntung, karya mereka akan dilirik oleh editor majalah komik ternama untuk diterbitkan dalam bentuk fisik.
Setelah menimbang beberapa saat, Sagiri menjatuhkan pilihannya pada platform Dengeki King.
Mengapa dia memilih Dengeki King dan bukan Shonen Jump yang merupakan platform paling populer?
Tentu saja ada alasan kuat di balik keputusan ini. Sebagian besar komik di Shonen Jump bergenre aksi-petualangan dengan bumbu fantasi fiksi. Mahakarya seperti "Naruto" dan "One Piece" diserialisasikan di sana. Karakteristik pasarnya sangat jelas, dan kisah bertema kehidupan sehari-hari yang imut (slice of life/moe) jelas tidak akan mendapat tempat utama di sana.
Sebaliknya, Dengeki King mencakup genre kehidupan sekolah, fantasi, cerita sehari-hari, dan sejenisnya. Karya-karya yang dipublikasikan di sini juga lebih banyak diadaptasi menjadi anime maupun gim. Di kehidupan lamanya, judul-judul populer seperti "Toaru Kagaku no Railgun", "Gabriel DropOut", dan "Mahouka Koukou no Rettousei" lahir dari platform ini.
Selain itu, Dengeki King berada di bawah naungan penerbit Media-Works. Di bumi asli, imprint Dengeki Bunko telah melahirkan banyak mahakarya legendaris, seperti "Toaru Majutsu no Index", "Sword Art Online", "Shakugan no Shana", "Durarara!!", "Oreimo (My Sister)", "Accel World", dan tentu saja "Eromanga-sensei".
Namun di dunia paralel ini, judul-judul besar seperti Index, Sword Art Online, dan Accel World sama sekali belum pernah tercipta.
Bahkan sampai sekarang, platform Dengeki di dunia ini masih didominasi oleh tren komik aksi berdarah panas. Belakangan, meskipun pihak redaksi mencoba lepas dari bayang-bayang tren komik berotot itu, hasilnya masih belum terlalu signifikan.
Sagiri merasa sangat bersemangat ketika menyadari bahwa karya-karya fenomenal tersebut belum lahir ke dunia. Tentu saja, ini baru sekadar rencana jangka panjang dalam benak Sagiri, karena jalan di depannya masih panjang dan ia memiliki banyak waktu.
Mengingat setiap judul komik memiliki karakteristik visual yang berbeda, jika dia menggambar semuanya sendirian, hal itu lama-kelamaan akan terasa aneh. Karena itu, dia harus memikirkan matang-matang konsep untuk buku keduanya di masa depan.
Beberapa detik kemudian, Sagiri mendaftarkan akun baru dengan nama pena "Ocean" (Samudra). Dia kemudian masuk ke dasbor penulis untuk membuat draf karya baru.
* Judul Mandarin: "Guru Eromanga"
* Judul Jepang: "Eromanga-sensei" (エロマンガ先生)
Setelah berhasil mengunggah seluruh berkas bab pertama, status di dasbor penulisnya kini berubah menjadi: Dalam Proses Peninjauan (Under Review).
Sagiri melirik ke sudut kanan bawah layar monitornya, waktu menunjukkan pukul 15:00, 4 Mei 2017.
Tepat pada momen itu, kepala Sagiri mendadak didekap dari belakang. Aroma harum khas gadis remaja langsung menusuk hidungnya, disusul suara lembut Raphael yang menggoda.
"Wah, ternyata Sagiri diam-diam sedang menggambar buku komik ya~" Raphael tersenyum lebar sambil memeluk erat tubuh mungil adiknya dari belakang. Dia kembali melancarkan jurus membenamkan wajah Sagiri ke dalam 'dua kelinci putihnya' yang besar dan empuk.
Wajah Sagiri memerah padam. Karena proses unggah baru saja selesai, dasbor penulis di layar komputer belum sempat ditutup, sehingga judul komiknya terlihat jelas oleh Raphael.
Gabriel sebenarnya tahu kalau Sagiri sedang menggambar komik, tetapi adiknya itu sama sekali tidak tertarik. Berbeda dengan Raphael; kakaknya ini selalu mencari kesempatan dan alasan setiap hari untuk mencubit wajah dan memeluk Sagiri.
Sekarang setelah rahasianya tertangkap basah, Sagiri yakin di masa depan kakaknya tidak akan repot-repot mencari alasan lagi untuk menggodanya.
Bulu kuduk Sagiri meremang. Baru saja ia hendak memikirkan alasan untuk mengalihkan pembicaraan, Raphael kembali berbisik.
"Sagiri-chan benar-benar makin menggemaskan saja..."
Sembari berbicara, Raphael langsung membenamkan kepala Sagiri lebih dalam ke dadanya tanpa aba-aba.
"Mmph... aku bisa mati..." rintih Sagiri pasrah.
------------------------------
Keesokan paginya di kantor redaksi, editor peninjau bagian komik baru saja masuk ke sistem dasbor untuk memeriksa karya-karya baru masuk.
"Baik, yang ini tidak ada konten sensitif yang melanggar batas, jumlah halaman melebihi delapan halaman, plot cerita orisinal... Lolos!"
"Yang ini juga sudah diperiksa, lolos!"
"Oke, yang satu ini aman, lolos!"
Editor peninjau itu menatap tajam ke arah layar komputer. Tangan kirinya memegang cangkir untuk meminum milk tea, sementara tangan kanannya terus mengeklik tetikus dengan cepat untuk memberikan persetujuan.
Ketika para kreator pemula mengunggah karya mereka, tugas utama editor peninjau awal bukanlah menilai apakah kualitas ceritanya layak dikontrak atau tidak. Fokus mereka adalah memastikan tidak ada konten ilegal, SARA, atau konten tidak bertanggung jawab yang melanggar hukum perkomikan. Jika semua persyaratan administratif dasar terpenuhi, maka komik tersebut akan langsung dinyatakan lolos tinjauan awal.
"Aduh, sudah sejam penuh aku memeriksa draf, isinya komik aksi berdarah panas semua. Apa tidak ada variasi genre baru ya?"
Editor itu mengucek matanya yang lelah. Jam baru menunjukkan pukul sepuluh pagi, baru satu jam sejak jam kantor dimulai. Secara fisik energinya harusnya masih penuh, tetapi pekerjaan memvalidasi ratusan draf ini benar-benar menjemukan. Menatap visual yang seragam dalam jumlah banyak seperti ini memicu rasa jenuh estetika (aesthetic fatigue).
"Hmm, tapi kalau komik yang satu ini, penekanan anatomi ototnya sangat berani, kontrol latarnya juga luar biasa," gumamnya sesekali saat menemukan draf yang bagus. Dia akan membacanya dengan serius, menghabiskan beberapa menit ekstra.
Tak terasa kesibukan pagi itu membawanya hingga ke pukul sebelas siang.
"Satu draf komik lagi, habis itu aku mau pergi makan siang," tekadnya. Sepanjang pagi dia merasa lemas seperti sayur layu. Jika bukan karena kecintaan yang mendalam pada industri komik, dia pasti sudah meninggalkan meja kerjanya sejak tadi.
Dia mengeklik tetikusnya, dan layar komputer beralih menampilkan draf karya berikutnya.
Seketika itu juga, tangan sang editor membeku, matanya terbelalak lebar menatap layar pantulan cahaya biru monitor komputer.
* Judul Karya: "Eromanga-sensei"
* Penulis: Ocean
Ilustrasi sampulnya menampilkan seorang gadis imut yang mengenakan kemeja putih longgar, dengan bagian kerah sebelah kiri melorot memperlihatkan pundak mungilnya. Sepasang mata besarnya yang jernih menatap malu-malu layaknya seekor hewan kecil yang menggemaskan, dengan sapuan rona merah di pipi yang terasa pas. Lewat gaya penggambaran yang sangat halus dan detail, ilustrasi ini seolah menegaskan prinsip mutlak dunia otaku: bahwa keimutan adalah keadilan sejati! (Cuteness is Justice)
Pandangan editor langsung terpaku pada halaman pertama komik.
"Gila! Halaman pertama langsung disuguhi ilustrasi visual setingkat wallpaper layar lebar! Penulis baru ini royal sekali!" serunya takjub.
Jakunnya naik-turun saat dia menelan ludah. Perasaannya saat ini tidak hanya terkejut, melainkan dipenuhi rasa antusias yang luar biasa. Ini adalah gaya penggambaran revolusioner yang belum pernah ada di pasar saat ini. Biasanya komikus pemula tidak akan berani membuang energi untuk membuat ilustrasi full-screen wallpaper di halaman pertama, gaya ini benar-benar unik.
"Detail gambarnya sangat luar biasa. Walaupun sama sekali tidak menekankan garis anatomi otot, estetika karakter-karakternya berlipat-lipat jauh lebih imut dan segar dibandingkan komik-komik populer saat ini," puji sang editor.
Pada halaman pertama, Sagiri menggambar seluruh jajaran karakter yang akan muncul dengan latar belakang langit biru cerah. Karakter-karakter tersebut tampak bersemangat dengan ekspresi wajah yang berbeda-beda serta karakteristik fisik yang kontras, langsung membangun atmosfer kehidupan sehari-hari yang ceria sejak awal.
Terutama karakter utama wanitanya, visualnya benar-benar menakjubkan. Tingkat keimutannya berada di level yang bisa mengguncang dunia, tidak ada satu pun komik saat ini yang bisa menandinginya. Sejak dari ilustrasi sampul, pesona visual heroine utama ini sudah mendominasi penuh, memberikan kepuasan estetika visual dan getaran emosional yang tiada tara.
Hanya dengan melihat lembar drafnya saja, editor tersebut langsung jatuh hati pada karakter sang heroine utama. Apakah fenomena cinta pada pandangan pertama terhadap karakter fiksi itu benar-benar nyata?
" 'Eromanga-sensei'... judul yang sangat berani dan menarik, membuatku sangat penasaran dengan kelanjutan alur kisahnya," gumamnya.
Sang editor yang sudah membaca ribuan draf komik—yang seharusnya fokus memvalidasi ada tidaknya pelanggaran konten—kini justru hanyut membaca seluruh isi bab pertama. Dia melupakan tugas resminya dan menikmati komik tersebut sepenuhnya sebagai seorang pembaca murni.
"Oh! Adegan pembuka di mana sang adik perempuan menatap malu-malu ini imut sekali! Tapi kenapa rasanya ada nuansa tabu yang mendebarkan ya? Apa ini efek sugesti dari judul komiknya?"
"Unsur siaran langsung (live streaming)? Elemen ini terasa sangat modern dan kekinian... Waduh, dia mau melepas baju? Jangan dilepas dulu! Ayo cepat ketuk pintunya dan selamatkan adikmu... Ah, adiknya membuka pintu dengan ekspresi wajah yang sangat menggemaskan! Pengenalan dan penempatan ekspresi karakternya luar biasa, sangat pas dengan situasi cerita."
Ketika dia membacanya untuk kedua kali, dia mendapati monolog batin dari karakter utama pria digarap dengan sangat matang. Penekanan kata 'imut' di sepanjang cerita benar-benar mampu menusuk langsung ke hati sanubari kaum otaku.
Tanpa disadari, editor peninjau itu terus membaca hingga jam menunjukkan pukul 11:27 siang, hanya tersisa tiga menit sebelum jam istirahat makan siang dimulai.
"Astaga, aku membaca komik ini lama sekali?"
"Pantas saja tadi rekan kerjaku mengajak pergi makan bersama, tapi entah kenapa secara ajaib langsung aku tolak begitu saja," ujarnya sambil menggelengkan kepala geli.
Dia tersenyum lalu mengarahkan kursornya untuk mengeklik tombol "Lolos Tinjauan (Approve)". Dia memproses berkas tersebut secara manual, memasukkan data komiknya ke dalam pusat pustaka sistem agar komik tersebut bisa langsung tayang di situs resmi perusahaan.
Normalnya, komik baru membutuhkan waktu sekitar satu minggu dari proses peninjauan awal hingga benar-benar tayang di sistem database. Namun, intervensi manual dari sang editor telah memotong habis jeda waktu administratif tersebut.
"Sayang sekali aku bukan editor penanggung jawab kontrak (editor in-charge), kalau tidak, aku pasti sudah langsung mengirimkan pesan penawaran kontrak kerja sama saat ini juga," desahnya.
Dia segera merapikan meja, berjalan cepat turun ke bawah untuk makan siang. Di tengah jalan, dia mengeluarkan ponselnya, lalu membagikan judul komik beserta tautannya ke grup obrolan internal divisi editorial. Dia menulis pesan yang merekomendasikan komik tersebut karena kualitas ceritanya yang sangat menjanjikan.
"Aku hanya bisa membantumu sampai di tahap ini. Semangat, Penulis!" gumamnya dalam hati. Dia sangat yakin komik ini memiliki potensi besar untuk meledak di pasaran. Ini bukan sekadar karya yang inovatif, melainkan sebuah dobrakan gaya visual baru yang segar, mampu menyentuh sisi emosional terdalam pembaca.
------------------------------
Di dalam grup obrolan divisi editorial, notifikasi pesan rekomendasi komik baru itu memicu perhatian. Saat itu, para editor sedang menikmati makan siang sambil bersantai memainkan ponsel mereka.
Ting! Ting!
"Wah, Xiao Huang merekomendasikan komik baru lagi. Tapi tunggu dulu... judul komik ini agak mencurigakan. Jangan-jangan ini komik mesum (hentai)?" tanya seorang editor wanita muda sembari mengunyah paha ayam gorengnya.
