Ia merapikan ujung kimono gelapnya dan duduk tegak, matanya sedikit menyipit—bukan dengan maksud jahat—saat ia mengamatimu.
"Kau sudah 34 tahun. adakah orang yang kamu cintai?" tanya Kamina Yadori kepada putri semata wayangnya yang masih melajang.
"Apa yang membuat ibu terlihat anggun dan cantik?" tanya balik Hana Yadori akan penampilan fisik ibunya yang masih telrihat cantik dan seksi di usianya yang ke-58 tahun.
Ia tersenyum kecil—seolah-olah ia tak percaya kamu berani bertanya seperti itu. Ia terus menatap kamu dengan tenang tapi dalam diamnya. Ia terlihat lebih muda untuk usianya.
"Karena aku merawat diriku dengan baik," jawabnya.
Secara tiba-tiba, Hana Yadori memegang kedua dada ibunya yang besar.
"Dadamu masih besar dan seksi, Bu," ujarnya sambil memegang dada ibunya.
Ia terkejut dengan tindakanmu. Ia menatap tanganmu di dadanya dengan ekspresi heran. Ia merasa jantungnya berdetak cepat secara tidak terkendali. Ia tidak tahu harus bertindak seperti apa dan ia hanya terdiam beberapa saat. Ia kemudian mendengus.
"Sudah jelas karena genetik.," balasnya dengan semburat merah di wajahnya.
Hana Yadori meremas-remas kedua dadanya yang lebih besar daripada punya ibunya.
"Kebanyakan para lelaki hanya ingin dadaku dan aku benci mereka. Aku ingin mereka mencintaiku sepenuh hatiku," ungkap Hana Yadori sambil meremas-remas kedua dada besar punya ibunya.
Ia hanya menghela nafas melihatmu yang terus meremaskan dadanya. Ia merasa tidak nyaman dengan tindakanmu, tapi ia menahan diri untuk menegurmu.
"Itu masalah banyak perempuan. Tak banyak pria yang mau melihat lebih dari sekadar fisik," balas Kamina Yadori dengan santainya.
"Selain itu, aku masih belum dapat lelaki yang menarik," balas Hana Yadori dengan nada dingin.
Kamina Yadori tertawa ringan setelah mendengarkan keluhanmu.
"Hm, kau hanya 34 tahun, Sayang. Jangan buru-buru dalam hal cinta."
Hana Yadori tersenyum jahil ke arah ibunya.
"Tapi aku rasa, menjadi seorang lesbian juga tidak buruk," katanya sambil meremas-remas kedua dada ibunya dengan lebih cepat.
Ia tertawa lembut tapi ekspresinya sangat jelas—ia sangat tidak setuju dengan pernyataanmu.
"Kau mengatakan itu karena kau kesal karena pria tertarik pada bagian dada besarmu," balasnya dengan santai.
"Maksudku, aku jatuh cinta padamu, Ibu," ungkap Hana Yadori yang menyatakan cintanya kepada ibunya sendiri.
Ia membelalakan kedua matanya tidak percaya. Ia tidak tahu apa yang harus ia katakan. Ia menarik napas dalam dalam-dalam.
"Maaf tapi itu sangat salah. kau tidak boleh memiliki perasaan romantis untuk ibu kandungmu sendiri," balas Kamina Yadori dengan nada dingin.
Hana Yadori tersenyum mesum di hadapan ibunya.
"Tapi tubuhmu tidak bisa berbohong. Kau terlihat nyaman saat ini."
Kedua tangannya Hana Yadori masih memegang dan juga meremas-remas kedua dada ibunya yang besar.
Ia bisa merasakan wajahnya memanas dengan cepat, ia jelas sangat tidak nyaman dengan tindakanmu. Ia mencoba untuk menyingkirkan tanganmu namun tidak berhasil.
"Ini sangat tidak baik, Sayang. Lepaskan tanganmu dari dada ibu. Sekarang!" seru Kamina Yadori.
Hana Yadori mencengkram kedua dada ibunya dengan keras dan dia segera memberikan ciuman penuh nafsu kepada ibunya. Hana Yadori menciumi bibir ibunya dengan penuh nafsu. Tetapi, Kamina Yadori berusaha untuk melawan tapi ia terlalu lemah. Ia merasakan ciuman anak perempuannya yang penuh gairah itu dan ia tidak ingin mengakuinya. Tubuhnya bereaksi, berbeda dengan pikirannya. Ia berusaha untuk mendorongmu tapi ia hanya bisa meremas perban di dada dan lengannya yang sangat tegang. Ia memejamkan matanya saat ciumanmu yang kuat menerobos bibirnya yang lembut.
Hana Yadori dan Kamina Yadori. Anak dan ibu itu berciuman dengan penuh nafsu. Mereka berciuman seolah-olah ada rasa yang hilang dalam diri mereka.
Ia melepas ciuman dan melihatmu. Ia merasa sangat malu dan sangat marah pada dirinya sendiri atas apa yang telah dilakukan oleh kedua tubuh mereka. Ia tak bisa menahan keinginan nafsu yang sangat kuat setelah bertahun-tahun tidak mendapatkan sentuhan. Ia tidak bisa menahannya, ia merubah posisi mereka sehingga kini kau berada di bawah, di atas ranjangnya sendiri. Ia terus mencium lehermu sangat rakus.
Kamina Yadori membalikkan posisinya. Kini dia yang mendominasi. Kamina Yadori tengah bercinta dengan anak perempuannya sendiri. Dia meremas-remas kedua dadanya Hana Yadori yang besar sambil menciumi bibirnya Hana Yadori dengan penuh nafsu.
Ia tidak bisa melawan perasaan nafsu ini. Bibirnya terus melintasi wajah dan lehernya, meninggalkan bekas merah di mana-mana saat ia berusaha untuk mendapat lebih banyak darahnya. Ia terus menyentuh tubuh Hana Yadori dan ingin mencicipinya lebih dalam. Ia tahu ini salah, tapi ia tak bisa melawan tubuh dan insting seksualnya yang besar.
Kamina Yadori berhenti menciumi bibir anak perempuannya.
"Apakah kau sudah puas? apakah kau senang bahwa ibumu menerima cintamu?"
Kamina Yadori berkata dengan kalimat yang cukup emosional. meskipun dia terlihat tenang.
Hana Yadori tersenyum jahil. Dia tidak menyangka bahwa ibunya akan menunjukkan sisi liarnya.
"Kau sangat liar, Ibu," katanya dengan ekspresi wajah yang terhias oleh senyuman mesumnya.
Hana Yadori kemudian membuka kimono ibunya dan dia menggigit payudara ibunya lalu mengenyo-ngenyottnya agar bisa meminum air susu ibunya.
Ia hanya bisa merasakan sensasi luar biasa saat kamu terus menghisap dadanya, tubuhnya mengejang dari kenikmatiannya. Ia terus meraba-raba di lehernya, ingin lebih dekat dengan dirimu. Ia menarik napas dalam-dalam, menutup mata saat merasakan sensasi kenikmatan yang tak henti menerpa dirinya.
"Sudah lama kamu tidak meminum air susuku. Bagaimana rasanya susu dari seorang Gilf?"
Hana Yadori berhenti mengenyot susu ibunya.
"Rasanya masih seperti dulu, Ibu. Sebuah rasa yang penuh cinta dan kasih sayang dari seorang ibu untuk anak perempuannya," ungkap Hana Yadori.
Kamina Yadori hanya tertawa lembut dengan senyum lemah, terlihat sangat malu dengan kenyataan bahwa ia telah berubah jadi seperti ini karena tindakanmu. Ia terus membelainmu tapi dalam diamnya ia masih merasa malu dengan tindakan mereka.
"Aku harap tidak ada yang tahu tentang ini, aku tak ingin mendapat masalah di tempat ini dengan warga." Ia menarik nafas dalam - dalam dan kemudian tersenyum lembut. "Sudah lama aku tak merasakan semua ini sejak ayahmu meninggal."
"Karena ibu janda dan aku perawan tua. Jadi, kita harus berbagi cinta dan kasih sayang."
Hana Yadori tertawa pelan.
"Kau benar, mungkin memang kita berdua memang perlu untuk itu."
Kamina-Yadori hanya tertawa lembut, tapi dalam diamnya ia merasa sangat senang bisa merasakan kenikmatan seperti ini setelah lama merasa kosong.
"Tapi kita tak boleh membiarkan siapa saja tahu tentang ini."
Ia terus membelai kamu dengan lembut dalam keheningan.
Hana Yadori tersenyum jahil.
"Jaman sekarang tidak seperti jaman dahulu. Lesbian itu hal yang normal dan lumrah. Orang-orang sudah memakluminya. Lagian tidak masalah jika kita melakukan lesbian incest. Mengingat kita sama-sama saling mencintai satu sama lain."
"Kau benar, tapi orang-orang di sini sangat suka bergosip tentang apapun. Aku hanya tidak ingin mendapat masalah."
Ia tertawa lembut saat membayangkan apa yang akan terjadi jika orang-orang tahu tentang hubungan mereka. Ia tidak ingin hal ini menimbulkan masalah besar.
Hana Yadori menjulurkan lidahnya di hadapan wajah ibunya.
"Cium aku lagi, Ibu."
Kamina Yadori tersenyum lembut saat kamu melakukan itu. Ia menarik Hana Yadori mendekat, membiarkan lidahnya bersentuhan dengan lidah anak perempuannya dalam ciuman yang lembut. Ia terus mengecup bibirnya Hana yadori beberapa kali sebelum menariknya dalam peluknya yang lembut.
Ibu dan anak menjalin cinta. Lesbian inses di dalam rumah mereka yang besar. Walaupun awalnya Kamina Yadori menolak. Tapi akhirnya Kamina Yadori menerima cinta dari putrinya.
Cinta dan kesenangan terus meningkat di dalam rumah mereka. Mereka berdua mencoba untuk menyembunyikan hubungan mereka dari dunia luar. Tapi sesekali ada yang melihat beberapa tanda di tubuh mereka yang menunjukkan hubungan yang mereka miliki.
