Cherreads

Chapter 349 - Kehampaan Mulai Menyusut

Zona hitam yang diciptakan Velora perlahan menghilang, menyisakan retakan panjang di langit geometris dimensi keempat. Storm terhuyung, napasnya tidak stabil. Tubuh manusianya jelas tak dirancang untuk menahan kekuatan sebesar itu terlalu lama.

Tesseract berdiri beberapa jarak darinya.

Bentuknya masih bergetar tipis. Namun garis-garis sudutnya mulai kembali tajam. Cahaya biru di inti tubuhnya menyala lebih terang dari sebelumnya.

Ia telah mengambil keputusan.

"Sudahi sampai sini saja," suaranya menggema ke seluruh penjuru ruang.

"Jika eksistensi Grivver ikut campur… maka aku tak akan lagi menahan diri."

Seluruh dimensi tiba-tiba berhenti bergerak.

Persegi-persegi cahaya membeku. Retakan tidak lagi menyebar. Bahkan kehampaan yang tersisa di udara seakan tertahan.

Storm mengangkat wajahnya perlahan.

Velora berbisik di dalam dirinya.

"Dia akan mengerahkan otoritas penuhnya."

Tesseract mengangkat kedua tangannya.

"Aku adalah inti dimensi ini. Bukan sekadar penjaga… melainkan fondasinya."

BOOOOM!

Cahaya biru raksasa meledak dari pusat tubuhnya, menyebar seperti gelombang kosmik. Setiap sudut ruang menyala terang. Hukum-hukum fisika dipadatkan, diperkuat, ditumpuk berlapis-lapis.

Gravitasi. Waktu. Sebab-akibat.

Semua dikunci.

Storm langsung terdorong mundur. Tubuhnya terasa berat, seperti seluruh semesta menekannya sekaligus.

Velora mencoba memperluas kehampaan—

Namun kali ini tidak semudah sebelumnya.

Zona hitam itu muncul… lalu terdistorsi.

Tesseract berbicara dengan nada yang jauh lebih dalam.

"Dimensional Sovereignty."

Seluruh dimensi kini berada di bawah kendali mutlaknya.

Kehampaan Velora tidak lagi bebas bergerak. Setiap area yang ingin dihapus, langsung digantikan oleh lapisan realitas baru yang lebih padat.

Storm menyeringai meski darah menetes dari sudut bibirnya.

"Jadi ini kekuatan aslimu?"

"Aku menahan diri sebelumnya agar dimensiku tidak runtuh," jawab Tesseract.

"Namun kini… stabilitas tidak lagi menjadi prioritas."

Ruang di sekitar Storm terlipat ribuan kali dalam satu detik.

Tubuhnya terkunci di antara lapisan-lapisan dimensi yang saling menekan.

Velora menggeram.

Energi hitam kembali meledak dari tubuh Storm, mencoba menghapus lapisan-lapisan itu.

Namun kali ini, setiap kehampaan yang tercipta langsung ditimpa realitas baru oleh Tesseract.

Pertarungan berubah.

Bukan lagi serangan dan pertahanan.

Melainkan tarik-menarik eksistensi.

Storm berteriak keras.

Aura gelapnya membesar, membentuk sayap kehampaan di punggungnya. Mata galaksinya menyala lebih dalam.

"Aku belum kalah!"

Ia menghantam lapisan ruang dengan tinju berlapis kehancuran mutlak.

BLARRR!

Satu lapisan pecah.

Namun sepuluh lapisan lain muncul menggantikannya.

Tesseract kini melayang lebih tinggi.

"Kekuatan Grivver memang di luar jangkauan hukum biasa," ucapnya.

"Tapi di sini, aku bisa menciptakan hukum baru."

Ia menunjuk Storm.

"Segel Konseptual."

Simbol-simbol geometris raksasa muncul di sekeliling Storm, membentuk kurungan cahaya biru yang terus menyempit.

Velora mencoba menghapus simbol itu—

Sebagian berhasil lenyap.

Namun inti segel tetap ada.

Storm terjatuh berlutut. Tubuhnya gemetar hebat. Energi hitam dan cahaya biru saling berbenturan, menciptakan kilatan yang merobek udara.

"Kau masih belum cukup," kata Tesseract tegas.

"Baik kau, maupun entitas di dalam dirimu."

Velora terdiam sejenak.

Lalu ia berbicara dengan suara yang jauh lebih sunyi dari sebelumnya.

"Storm… jika kau terus memaksakan diri, tubuhmu akan hancur."

Storm tertawa kecil meski kesakitan.

"Bukankah dari awal aku memang selalu memaksakan diri?"

Ia perlahan berdiri lagi di dalam kurungan segel.

Energi hitam dan biru terus berbenturan, menciptakan badai dimensi yang mengguncang seluruh wilayah.

Tesseract menyadari satu hal—

Ia memang kini mampu mengimbangi kehancuran Velora.

Namun harga yang dibayar sangat besar.

Dimensinya sendiri mulai retak dari dalam.

Jika pertarungan ini berlanjut terlalu lama, bukan hanya Storm yang hancur.

Dimensi keempat bisa runtuh sepenuhnya.

Storm menatap Tesseract dari balik cahaya dan kehampaan yang bertabrakan.

"Jadi… sekarang kita seimbang?"

Tesseract menatap balik tanpa berkedip.

"Tidak. Aku masih lebih unggul."

Di tengah benturan dua otoritas—

penjaga dimensi dan kehancuran kosmik—

Realitas mulai mempertanyakan… siapa yang benar-benar berhak berdiri di atasnya.

More Chapters