Langit H2700 berada di ambang pecah.
Varentha meraung tanpa suara, badai esnya menekan dari atas. Rantai emas Marika melilit satu lengan Storm, segel-segelnya berkilau menahan lonjakan energi. Kubus-kubus transparan Rizen memadatkan ruang, memperlambat setiap gerakan. Lgris berdiri sebagai poros dingin di tengah semuanya.
Scarlet Skycrimson berdenyut—retakan di bahunya makin terang.
Lalu—
Ruang di sisi timur langit terbelah oleh lingkaran sihir tipis berwarna ungu.
Dua siluet melesat keluar.
Napstylea mendarat lebih dulu, Armor Silver menyala penuh. Sayap energinya membentang, dan ia langsung menabrak satu struktur kubus Rizen dengan hantaman bahu.
Retak.
Geometri ruang bergetar.
Jester muncul di atas mereka, kartu-kartu tarot berputar seperti galaksi kecil di sekelilingnya.
"Maaf terlambat," katanya ringan. "Lalu lintas kiamat agak padat."
Marika menyipitkan mata.
"Napstylea…? Apa yang kau lakukan?"
Napstylea tidak menjawab dengan kata.
Ia melesat, menebas rantai emas yang melilit lengan Storm dengan bilah energi peraknya. Percikan emas dan perak meledak di udara.
Segel Marika goyah.
Storm merasakan tekanannya berkurang sepersekian detik.
Ia memutar gravitasi dan memecah sisa kompresi ruang di sekitarnya.
Rizen menatap tajam.
"Kau membantu target?"
Napstylea berdiri di sisi Storm, Armor Silver berkilau kontras dengan Scarlet Skycrimson.
"Aku membantu seseorang yang belum terbukti bersalah."
Lgris turun beberapa meter, ekspresinya mengeras.
"Ini operasi APH."
"Dan aku masih pahlawan APH," balas Napstylea dingin. "Bukan algojo."
Varentha menukik lagi.
Sebelum sinar pembekuan dilepaskan—
Jester mengangkat satu kartu tinggi-tinggi.
Kartu itu bersinar emas tua dengan simbol mahkota dan takhta.
"Arcana Emperor."
Langit bergetar.
Lingkaran segel raksasa terbuka di bawah Varentha. Rantai-rantai cahaya tipis—berbeda dari milik Marika—muncul dari kartu dan menjalar ke tubuh naga purba itu.
Varentha meraung, sayapnya membekukan udara.
Namun segel Emperor bukan sekadar ikatan fisik.
Ia adalah kontrak otoritas.
Simbol mahkota di kartu menyala, memproyeksikan takhta raksasa di udara—seolah-olah dunia sendiri mengakui perintahnya.
"Dengan nama Arcana Emperor," ucap Jester lebih serius dari biasanya,
"Aku perintahkan—diam."
Cahaya menyedot.
Tubuh Varentha perlahan terkompresi menjadi aliran partikel es, terseret menuju kartu di tangan Jester.
Lgris membelalak tipis untuk pertama kalinya malam itu.
"Mustahil…"
Dalam beberapa detik—
Naga purba itu sepenuhnya tersegel.
Kartu di tangan Jester kini menampilkan ilustrasi Varentha yang bergerak samar di dalamnya.
Jester meniup ujung kartu itu.
"Aku simpan dulu, ya."
Marika menggertakkan gigi.
"Kau menyegel makhluk kelas purba tanpa otorisasi!"
"Aku hanya meminjam," jawab Jester santai. "Nanti kukembalikan kalau suasana sudah tidak tegang."
Rizen memperluas struktur kubusnya, kali ini mengarah pada Jester dan Napstylea sekaligus.
"Pengkhianatan terhadap operasi APH akan dicatat."
Napstylea melesat menabrak satu kubus lagi, menghancurkannya dengan tinju perak yang menyala.
"Aku tidak mengkhianati apa pun. Aku mencegah eskalasi."
Lgris menatap Storm.
"Lihat apa yang terjadi karena keberadaanmu."
Storm berdiri dengan wajah tenang.
Scarlet Skycrimson masih menyala, namun kini stabil. Tidak liar. Tidak meledak.
"Aku tidak meminta kalian untuk datang," katanya tenang.
Marika mengangkat tangan, rantai emas kembali membentuk formasi tempur.
"Dan kau pikir kami akan membiarkan entitas tak dikenal berkeliaran bebas di bumi ini?"
Jester tertawa pelan.
"Kalau dia ingin menghancurkan kota, dia sudah melakukannya sebelum kalian datang."
Hening singkat.
Fakta itu menggantung berat di udara.
"Kau menahan diri sejak tadi."
Storm tidak membantah.
Napstylea berdiri tegak di udara dengan armor silvernya.
"Dan itu alasan cukup untuk tidak memperlakukannya seperti monster."
Lgris mengepalkan tangan. Armor esnya berderak.
