Sore merambat pelan di dalam kompleks raksasa X.A.R.A.
Cahaya matahari yang menembus kubah transparan memantul di lantai logam mengilap. Teknisi berlalu-lalang, drone inspeksi terbang rendah membawa modul kecil, dan layar-layar holografik terus menampilkan data orbit serta simulasi lintasan antar bintang.
Storm berjalan berdampingan dengan Arabels di koridor utama hanggar.
"Masih kesal soal ujian tadi?" tanya Arabels sambil tersenyum kecil.
Storm menghela napas pelan.
"Aku tidak suka dijadikan variabel eksperimen."
Arabels tertawa lembut.
"Itu bukan eksperimen. Itu kesempatan kita berdua."
Ia berhenti di depan jendela observasi kecil yang menghadap ke ruang perakitan mesin Nexus. Inti pelipatan ruang terlihat seperti cincin kristal raksasa yang belum sepenuhnya aktif.
"Tempat ini luar biasa," katanya lirih.
"Semua orang di sini melihat ke depan. Ke langit. Bukan ke konflik."
Storm menatap mesin itu.
Ia bisa merasakan sisa resonansi halus dari sentuhannya tadi siang.
X.A.R.A berbeda.
Tidak ada niat memburu.
Tidak ada tekanan untuk mengekang.
Hanya rasa ingin tahu.
Mereka melanjutkan berjalan menuju sektor simulasi penerbangan.
Ruangan besar itu dipenuhi kapsul latihan Navigator. Dindingnya menampilkan panorama galaksi buatan, berubah sesuai skenario latihan.
Arabels masuk ke salah satu kapsul dan duduk di kursinya.
"Coba lihat ini," katanya bersemangat.
Ia mengaktifkan simulasi lintasan darurat.
Langit buatan berubah menjadi badai partikel kosmik. Jalur aman muncul dan menghilang dalam hitungan detik.
Storm berdiri di belakangnya.
Arabels menggerakkan panel dengan cepat, memilih rute yang hampir tak terlihat.
"Kau memilih jalur yang paling sempit," kata Storm.
Arabels tersenyum.
"Karena jalur lebar biasanya jebakan gravitasi."
Storm terdiam.
Jawaban itu tidak hanya cocok untuk simulasi.
Namun juga untuk hidupnya.
Mereka keluar dari ruang simulasi dan berjalan menuju balkon luar yang menghadap ke kota H2700.
Matahari hampir tenggelam.
Cahaya oranye membelah gedung-gedung tinggi.
Angin sore bertiup lembut.
Arabels menyandarkan tangannya di pagar.
"Kak Rem… kalau suatu hari Nexus benar-benar terbang… Apa kamu akan ikut?"
Pertanyaan itu sederhana.
Namun berat.
Storm menatap langit.
"Aku tidak tahu," jawabnya jujur.
"Aku tidak pernah berpikir tentang pergi sejauh itu."
"Kamu selalu berpikir tentang bertarung," balas Arabels pelan.
Ia menoleh padanya.
"Aku tidak ingin hidupmu hanya diisi pertempuran."
Storm tidak langsung menjawab.
Ia terbiasa hidup dalam bayangan ancaman.
Entitas.
APH.
Dimensi.
Namun di tempat ini—
Untuk beberapa jam saja—
Ia hanya seorang pemuda yang menemani gadis yang ia cintai berkeliling markas penelitian.
"Aku ikut malam ini," katanya akhirnya.
"Ujian bintang itu."
Arabels tersenyum lebar.
"Bagus. Karena aku tidak mau melakukannya sendirian."
Mereka kembali berjalan, melewati ruang arsip kosmik dan laboratorium pemetaan galaksi.
Beberapa ilmuwan menatap Storm sekilas—penasaran, namun tidak bermusuhan.
Berita tentang mesin Nexus yang sempat menyala sudah menyebar diam-diam.
Di salah satu lorong, mereka berhenti di depan peta besar galaksi yang terpampang di dinding.
Titik-titik cahaya kecil menandai lokasi sistem bintang yang sudah dipetakan.
Sebagian besar masih gelap.
"Lihat itu," kata Arabels.
"Masih banyak ruang kosong."
Storm memandang titik-titik gelap itu.
Kosong.
Atau belum ditemukan.
"Semesta terlalu luas untuk dimiliki satu organisasi," gumamnya.
Arabels menatapnya.
"Dan terlalu indah untuk dihancurkan."
Langit mulai gelap sepenuhnya.
Lampu-lampu markas meredup otomatis, mempersiapkan mode observasi malam.
Dari kejauhan, Aryes dan Violys memperhatikan keduanya melalui layar pengawas.
"Mereka terlihat serasi," gumam Violys.
Aryes menjawab tenang,
"Jika mereka berhasil malam ini, Nexus akan punya arah."
Di balkon atas X.A.R.A—
Storm dan Arabels berdiri berdampingan saat bintang pertama muncul.
