Cherreads

Chapter 387 - Langit yang Membara

Risveyland berubah menjadi medan perang cahaya.

Langit malam yang seharusnya gelap kini dipenuhi kilatan merah dan biru yang saling bertabrakan.

Storm melesat maju.

Enam tangan baja Mode Ashura bergerak serempak—dua memadatkan tekanan ruang, dua membentuk bilah energi merah, dua lainnya menstabilkan inti tenaga di punggungnya.

Naga berkepala lima itu meraung dan menyapu udara dengan kelima lehernya, masing-masing melepaskan semburan petir bercabang.

Ledakan demi ledakan mengguncang tanah datar.

Storm berputar di udara, enam lengannya bergerak seperti bayangan yang tak terhitung.

Satu tangan mematahkan arus petir.

Satu tangan menghantam rahang salah satu kepala.

Dua tangan lainnya menahan cakar raksasa yang mencoba mencabiknya dari samping.

Dentuman keras menggema.

Gelombang energi merah menyapu tanah, mengangkat debu dan batu hingga puluhan meter.

Di kejauhan—

Di balkon apartemen.

Di jalan raya yang mulai sepi.

Di atap gedung-gedung tinggi H2700.

Penduduk kota menatap langit.

Kilatan merah menyala berulang kali dari arah Risveyland, seperti badai aneh yang tidak berhenti.

"Petir lagi?"

"Itu bukan badai biasa…"

"Lihat warna merahnya…"

Beberapa orang merekam dengan perangkat mereka.

Beberapa hanya terdiam.

Langit seperti terbakar.

Di udara, Jester menggertakkan giginya.

"Tuan Rem benar-benar tidak memberi celah…"

Napstylea memegang pedangnya lebih erat, namun tetap menjaga jarak sesuai perintah Storm.

Cluster 29-334 memindai gelombang energi yang semakin liar.

Arabels menatap layar dengan napas tertahan.

"Inti energinya terus naik… Kak Rem mendorong sinkronisasi terlalu tinggi…"

Zero melirik pembacaan suhu armor.

"Kalau terus begitu, armornya bisa overload."

Lira berbisik pelan,

"Tapi naga itu juga mulai kehilangan kestabilan pola energinya…"

***

Di tengah medan—

Naga itu menyatukan kelima kepalanya ke arah Storm.

Petir tidak lagi ditembakkan terpisah.

Semua elemen listrik dikumpulkan menjadi satu bola energi raksasa di depan mulut-mulutnya.

Udara bergetar hebat.

Storm berhenti melayang.

Enam tangannya terbuka lebar.

Velora bersuara di dalam kesadarannya.

"Jika kau menahannya lagi secara langsung, struktur Ashura bisa retak."

Storm tersenyum tipis di balik helmnya.

"Kalau begitu… jangan ditahan."

Bola petir raksasa ditembakkan.

Cahaya putih membelah malam seperti matahari kedua.

Storm melesat maju.

Bukan menghindar.

Bukan bertahan.

Ia menembusnya.

Enam tangan baja berputar membentuk spiral energi merah yang memotong inti serangan dari dalam.

Ledakan raksasa mengguncang Risveyland.

Langit berubah menjadi lautan cahaya merah.

***

Dari kejauhan—

Penduduk kota menyaksikan satu kilatan paling terang malam itu.

Seolah cakrawala terbakar.

***

Di tengah ledakan, siluet Storm muncul, menerobos arus listrik yang tercerai-berai.

Ia muncul tepat di depan naga.

Dua tangan atas mencengkeram salah satu leher.

Dua tangan tengah menghantam dada bersisiknya.

Dua tangan bawah mengumpulkan energi tekanan ruang dalam satu titik.

"Membunuhku…" gumam Storm pelan.

"Tidak akan mengembalikan rasmu."

Ia menghantamkan energi itu tepat ke tubuh naga.

Dentuman dahsyat memekakkan udara.

Naga itu terpental jauh, menghantam tanah Risveyland hingga membentuk kawah besar.

Debu membumbung tinggi.

Langit masih menyala merah.

More Chapters