Cherreads

Chapter 486 - Es yang Membekukan Ruang

Sisa distorsi dari kekuatan Tesseract perlahan menghilang. Namun — tekanan tidak berkurang. Justru semakin dalam.

Di tengahnya, Storm berdiri. Matanya tidak goyah. Meski serangannya barusan tidak berhasil — ia tidak mundur.

"…Kalau begitu…"

Tangannya perlahan terangkat. Udara di sekitarnya berubah. Suhu turun drastis. Embun beku mulai terbentuk — namun bukan hanya pada tanah — melainkan pada ruang itu sendiri.

"Ice Emperor."

Namun kali ini — berbeda. Energi es itu tidak hanya membekukan materi — melainkan dimensi. Di sekeliling Storm, ruang mulai membeku. Retakan-retakan kecil terbentuk. Seolah realitas menjadi rapuh.

Dari tangannya — sebuah pedang muncul. Panjang. Tajam. Berwarna biru pucat. Namun aura yang dipancarkannya lebih dingin dari kehampaan. Pedang es pembeku ruang.

Storm menggenggamnya erat. Matanya menatap Dooms. "Aku tidak butuh memahami sepenuhnya." Ia sedikit menunduk. "Cukup untuk menghancurkanmu."

WHOOOOOSH!!!

Dalam sekejap, Storm menghilang. Kecepatannya melampaui batas sebelumnya. Hampir — secepat cahaya.

Rizen terdiam. "…Dia jadi lebih cepat lagi…"

Lgris mengencangkan genggamannya. "Dan ruang di sekitarnya — membeku…"

Storm muncul tepat di depan Dooms. Tanpa ragu — ia mengayunkan pedangnya.

SLAAASH!!!

Tebasan itu membelah ruang. Jejaknya meninggalkan retakan beku. Dimensi di jalurnya — membeku lalu pecah. Serangan itu bukan hanya fisik — namun merusak ruang itu sendiri.

Namun — Dooms masih berdiri. Matanya mengikuti pergerakan Storm. Tenang. Tanpa panik.

Storm tidak berhenti. Ia bergerak lagi.

WHUSH! SLASH! CRACK!!

Serangan bertubi-tubi. Setiap tebasan — membekukan ruang — lalu menghancurkannya. Dimensi itu mulai dipenuhi retakan es. Seolah dunia itu sendiri akan runtuh.

Storm terus menyerang. Cepat. Tanpa celah. Tanpa ragu. Ia tahu — Dooms tidak bisa disentuh dengan cara biasa. Karena itu, ia menghancurkan ruang di sekitarnya. Memaksa realitas runtuh — agar Dooms ikut terkena dampaknya.

"Terima ini!"

SLAAASH!!!

Satu tebasan besar mengarah langsung ke Dooms. Ruang di depannya membeku total — lalu pecah seperti kaca.

Namun — di tengah kehancuran itu — Dooms tetap berdiri. Tidak mundur. Tidak menghindar. Hanya — mengangkat tangannya sedikit. Menyentuh ruang yang membeku itu.

Dan — retakan itu berhenti.

Storm terkejut sesaat. "…Apa?"

Dooms menatapnya. Matanya tetap tenang. "Pendekatan yang menarik." Ia melihat sekeliling — dimensi yang retak dan membeku. "Kau mencoba menghancurkan ruang itu sendiri."

Sedikit jeda. "Namun…" Aura Dooms meningkat perlahan. "…kau lupa satu hal."

Ruang di sekitarnya mulai stabil kembali. Es yang membeku — mulai retak — lalu lenyap.

"Di sini…" Dooms menatap langsung ke mata Storm. "…aku juga bisa mengendalikannya."

Tekanan tiba-tiba meningkat drastis. Storm terdorong sedikit ke belakang.

Namun — ia tetap berdiri. Pedangnya masih di tangan. Matanya tetap tajam.

Karena satu hal jelas — serangan biasa tidak cukup.

More Chapters