Dimensi itu masih dipenuhi retakan. Sisa kehancuran belum sepenuhnya menghilang. Semua orang masih terpaku pada apa yang baru saja terjadi.
Namun — di tengah keheningan itu — Storm tiba-tiba terhuyung.
"…Ghah…"
Tubuhnya sedikit goyah. Tangannya sempat menahan kepalanya. Napasnya menjadi tidak teratur. Matanya menyipit — bingung.
"…Apa yang terjadi…"
Lalu — sesuatu muncul.
Dari mata kirinya — percikan kecil. Api. Namun bukan api biasa. Warnanya gelap. Seperti menyala dari kehampaan.
CRRRT…
Percikan itu muncul lalu menghilang. Namun beberapa detik kemudian — muncul lagi. Lebih jelas.
Storm terdiam. Tangannya perlahan menyentuh wajahnya. "…Ini…"
Tubuhnya terasa berbeda. Energi di dalam dirinya — tidak stabil. Berubah. Bergetar.
Di kejauhan, beberapa orang mulai menyadari.
Marika menyipitkan mata. "Apa itu…?"
Herena menatap dengan serius. "Reaksi energi…"
Arabels membeku. Matanya tidak lepas dari Storm. "…Storm…"
Sementara itu — di depan semua itu — Dooms tetap berdiri. Tenang. Tidak bergerak. Seolah ia sudah menunggu momen ini. Matanya tertuju pada Storm. Lebih dalam. Lebih tajam.
"…Akhirnya." Suaranya terdengar pelan, namun jelas.
Storm masih terhuyung. Seolah ada sesuatu di dalam dirinya yang berusaha keluar. Mengambil alih.
Dooms melanjutkan. "Entitas itu…" Sedikit jeda. "…sepertinya mulai merespon."
Percikan api di mata kiri Storm kembali muncul. Lebih kuat. Lebih tidak stabil.
Storm menggertakkan giginya. "…Diam kau…"
Namun — itu bukan sesuatu yang bisa ia hentikan dengan mudah.
Dooms menatapnya tanpa emosi. "Jika ia benar-benar muncul — ia bisa mengendalikanmu sepenuhnya."
Angin dalam dimensi itu bergetar. Aura Storm menjadi tidak stabil. Kadang meningkat — kadang menurun. Seperti dua kekuatan yang saling bertabrakan.
Di dalam dirinya — sesuatu mulai bangkit. Sesuatu yang selama ini hanya memberi sedikit bantuan — kini mulai menunjukkan keberadaannya.
Velora.
Dan kali ini — bukan hanya sebagai sumber kekuatan. Namun — sebagai sesuatu yang mungkin — mengambil alih.
Storm berdiri di tengah dimensi itu. Tubuhnya masih goyah. Namun matanya tetap terbuka.
Berusaha tetap bertahan.
