Di dalam Nexus S-4473 — semua mata tertuju ke layar utama.
Di sana — Ginga Stars terlihat semakin menjauh. Cahayanya kecil. Semakin kecil. Hingga akhirnya — menghilang di antara bintang-bintang.
Hening. Beberapa saat — tidak ada yang berbicara.
Aryes berdiri diam. Menatap titik terakhir itu. "…Mereka sudah pergi."
Lira di sampingnya mengangguk pelan. "…Dan kita tidak tahu apa yang menunggu mereka."
Seorang kru menelan ludah. "…Kalau alien di sini… lebih kuat dari yang kita bayangkan…"
Kalimat itu menggantung.
---
Aryes menutup matanya sejenak. Lalu membukanya kembali. "…Storm ada di sana." Nada suaranya tidak ragu. "…Dia bukan orang yang mudah jatuh."
Namun — meski kata-kata itu terdengar yakin — tidak semua benar-benar percaya sepenuhnya. Karena satu hal — mereka tidak tahu. Seberapa kuat — makhluk di galaksi ini.
Lira menatap ke luar. "…Kita terlalu sedikit tahu…"
Aryes mengangguk. "…Karena itu kita bertahan."
---
Ia berbalik. Menghadap semua orang.
"Semua kembali ke posisi masing-masing. Pantau pergerakan. Jangan lengah."
Semua langsung bergerak. Kembali ke tugas mereka.
Layar terbagi. Menampilkan beberapa titik penting.
— Minor 4 X2 — masih bergerak mendekati kapal perompak.
— Napstylea — terdeteksi sebagai energi tinggi. Sudah berada di garis depan.
— Dan — kapal musuh — semakin aktif.
---
Aryes menatap semua itu. "…Ini penentu."
Lira membuka bukunya lagi. Namun kali ini — lebih waspada.
Di sudut lain — beberapa kru mengawasi sistem pertahanan. Yang lain memantau radar. Semua bergerak. Namun tidak panik.
Karena rencana sudah berjalan. Dan sekarang — yang bisa mereka lakukan hanyalah — percaya.
Percaya pada Storm — yang pergi ke kegelapan.
Percaya pada Zero, Violys, dan Jester — yang menyusup ke dalam bahaya.
Dan percaya pada Napstylea — yang berdiri di garis depan sendirian.
---
Ruang hampa tetap sunyi.
