Di dalam Mecha raksasa Ginga Stars — suasana ruang kendali kembali dipenuhi ketegangan. Layar radar terus berbunyi memperingatkan keberadaan besar yang mendekat.
Yang paling pusing saat ini — adalah Arabels. Gadis itu memijit pelipisnya sambil menghela napas panjang. "…Aku benar-benar tidak mengerti jalan pikiranmu."
Di depan kursi kemudi — Storm justru terlihat santai mengendalikan arah Ginga Stars. Dan yang membuat Arabels semakin bingung — Storm baru saja membelokkan jalur mereka menuju Antares. Membatalkan rute ke Aquila.
Proxi yang berdiri di dekat layar hologram juga terlihat khawatir. "Perubahan jalur telah dikonfirmasi. Tapi kemungkinan bertemu ancaman meningkat drastis." Robot itu menatap Storm. "Aku harap kau memiliki rencana matang."
Saat ini — mereka sedang diburu oleh entitas tidak dikenal dari Scorpio.
---
Storm hanya tetap tenang. Bahkan ia tertawa kecil sambil melirik Arabels. "Jangan terlalu serius begitu."
Arabels langsung menatapnya kesal. "Kita sedang diburu monster luar angkasa!"
Storm mengangkat bahu santai. "…Dan kita masih hidup."
Jawaban itu membuat Arabels makin pusing.
Storm perlahan menatap cahaya merah besar Antares di depan mereka. Tatapannya mulai berubah lebih serius.
"Aku menuju Antares bukan karena salah jalan."
Proxi sedikit terdiam.
Storm melanjutkan dengan tenang. "…Aku sengaja memancing mereka keluar."
Suasana ruang kendali mendadak sunyi. Arabels membelalak kecil. "Kamu sengaja?!"
Storm mengangguk pelan. "Kalau terus bersembunyi — mereka akan tetap memburu kita." Tatapannya mengarah pada gelapnya luar angkasa. "Aquila juga tidak akan aman."
---
Storm tahu satu hal dengan pasti. Selama mereka dianggap keberadaan asing — maka siapa pun di galaksi ini akan tetap mengejar mereka. Baik Zodiac. Kekaisaran. Ataupun kelompok lain.
Karena itu — lebih baik menghadapi ancamannya langsung.
Aura merah mulai muncul di tubuh Storm. "…Jadi." Ia tersenyum kecil. "…lebih baik kita buat mereka datang sendiri."
