Cherreads

Chapter 680 - Sang Legenda Aquila

Di Konstelasi Aquila. Perang masih membara. Langit dipenuhi armada yang saling berhadapan. Perhatian sebagian besar pasukan kini tertuju pada satu titik. Satu pertarungan yang bahkan membuat para komandan menghentikan diskusi mereka. Pertarungan antara salah satu dari Tiga Belas Jenderal Utama Kekaisaran — melawan sang pelindung Aquila.

*BOOOOOOM!! *

Tubuh Kaidles kembali terpental. Jenderal itu menembus sebuah gugusan asteroid. Puing-puing batu angkasa berhamburan ke segala arah. Beberapa detik kemudian — ia keluar dari reruntuhan dengan cepat. Jubah militernya masih berkibar. Meski beberapa bagian armornya mulai menunjukkan kerusakan.

"Cih..." Kaidles mengusap darah tipis di sudut bibirnya. Lalu menatap lawannya.

Di kejauhan. Asgard masih berdiri diam. Tidak bergerak. Tidak berbicara. Tidak menunjukkan emosi sedikit pun. Tubuhnya tampak seperti boneka yang dilapisi armor kuno berwarna emas samar. Wajahnya tidak berubah. Tatapannya datar. Kosong. Seolah tidak memiliki jiwa.

Namun Kaidles tahu lebih baik. Makhluk itu jauh dari tidak berbahaya.

*WHOOSHH!! *

Puluhan cahaya muncul di sekitar Asgard. Awalnya hanya titik-titik kecil. Namun dalam sekejap berubah menjadi proyektil energi. Masing-masing berbentuk seperti tombak bercahaya.

Kaidles langsung mengutuk dalam hati. "Lagi?!"

Proyektil-proyektil itu melesat. Bukan sekadar lurus. Mereka berbelok. Berputar. Mengubah arah. Seolah memiliki kesadaran sendiri.

Kaidles segera menghindar. *WHOOSH! * Satu proyektil lolos. Dua. Tiga. Namun puluhan lainnya terus mengejar. "Kau benar-benar menjengkelkan!"

*BOOOM!! *

Salah satu tombak energi akhirnya mengenainya. Tubuh Kaidles kembali terlempar. Belum sempat stabil — tiga proyektil lain menghantamnya berturut-turut.

*BOOM!! BOOM!! BOOM!! *

Ledakan beruntun mengguncang ruang angkasa.

---

Di kapal utama Aquila —

Suasana jauh berbeda. Para perwira memperhatikan pertarungan itu melalui layar raksasa. Dan di antara mereka — Ratu Seleneva duduk dengan tenang. Meski perang sedang berlangsung. Meski Aquila masih berada dalam bahaya. Matanya tetap tertuju pada sosok Asgard.

Sulit dipercaya. Bahkan sampai sekarang. Makhluk itu terasa seperti sesuatu yang keluar dari legenda kuno. Seorang pelindung yang muncul ketika Aquila berada di ambang kehancuran. Seorang penjaga yang tidak meminta imbalan apa pun. Dan kini — bahkan salah satu Jenderal Utama Kekaisaran kesulitan menghadapinya.

"Itu luar biasa..." gumam Seleneva.

Tak jauh darinya. Crimgard duduk sambil menyandarkan tubuhnya. Luka-luka akibat pertarungan sebelumnya masih terasa. Napasnya belum sepenuhnya stabil. Setidaknya ia masih hidup. Dan itu sudah lebih dari cukup.

Crimgard menatap layar. Di sana Kaidles kembali menghindari serangan Asgard. Meski sulit. Meski terus terdesak. Jenderal itu masih bertahan. "Dia kuat," ucap Crimgard pelan.

Seleneva mengangguk. "Kaidles memang salah satu jenderal terbaik kekaisaran."

Crimgard mengepalkan tangannya. Ia masih mengingat pertarungan mereka. Perbedaan kekuatan itu begitu besar. Begitu jelas. Ia bahkan tidak mampu memaksa Kaidles bertarung serius. Namun Asgard berbeda.

Seleneva menoleh ke arah Crimgard. Matanya sedikit melunak. "Kau tidak perlu bergerak lagi," katanya. "Kau sudah melakukan cukup banyak."

Crimgard tersenyum kecil. Kali ini ia memang tidak punya tenaga untuk berdebat. Tubuhnya masih terasa berat. Dan setiap kali mencoba berdiri — rasa sakit langsung menjalar ke seluruh tubuh.

Seleneva memperhatikan itu. Lalu menghela napas pelan.

Banyak orang melihat Crimgard sebagai pengawal kerajaan. Sebagian melihatnya sebagai ksatria. Sebagian lagi menganggapnya sebagai pahlawan Aquila. Bagi Seleneva — Crimgard jauh lebih dari itu.

Ia masih mengingat hari pertama mereka bertemu. Seorang anak kecil. Sendirian. Di sebuah planet yang hampir musnah. Planet yang dihancurkan konflik. Planet yang sudah kehilangan masa depannya. Saat itu Seleneva memungutnya. Membawanya ke Aquila. Memberinya rumah. Dan sejak saat itu — Crimgard tidak pernah meninggalkan sisinya. Tidak pernah mengkhianatinya. Tidak pernah meninggalkan Aquila.

"Kau selalu terlalu memaksakan diri," ucap Seleneva.

Crimgard tertawa kecil. "Tidak separah itu."

"Itu bohong," balas Seleneva cepat.

Crimgard langsung terdiam. Karena memang benar. Ia sering kali memaksakan dirinya. Terutama ketika Aquila berada dalam bahaya. Namun kali ini — bahkan dirinya harus mengakui batas kemampuannya. Ia tidak bisa melawan Kaidles lagi.

---

Di layar utama —

*BOOOOOOOOM!! *

Kaidles kembali dihantam. Tubuhnya menabrak reruntuhan stasiun perang yang telah hancur. Jenderal itu segera bangkit. Meskipun napasnya mulai berat. Matanya tetap tajam. Tetap penuh semangat bertarung.

"Makhluk sialan..." gumamnya.

Di hadapannya. Asgard masih berdiri diam. Wajahnya tetap kosong. Tidak menunjukkan kemenangan. Tidak menunjukkan kesombongan. Seolah semua yang dilakukannya hanyalah sesuatu yang biasa.

Justru itu yang membuat Kaidles semakin frustrasi. Semakin lama pertarungan berlangsung — semakin jelas satu kenyataan. Asgard belum menunjukkan seluruh kemampuannya.

---

Di kapal utama. Crimgard dan Seleneva memperhatikan tanpa berkedip. Sementara di luar sana — pelindung Aquila terus berdiri menghadapi salah satu jenderal terkuat kekaisaran.

Harapan mulai tumbuh di hati banyak rakyat. Selama Asgard masih berdiri — Aquila mungkin masih memiliki kesempatan untuk bertahan.

More Chapters