Kedatangan Athena telah membuat seluruh medan perang terdiam. Energi sucinya menyelimuti sebagian besar Ursa Major. Para prajurit yang sebelumnya bertarung mati-matian kini menahan diri.
Ketenangan itu tidak berlangsung lama.
Tiba-tiba — sesuatu yang jauh lebih mengerikan muncul.
*WHOOOOOMMMMMM!! *
Gelombang tekanan menyapu seluruh konstelasi. Bukan ledakan. Bukan serangan. Melainkan aura. Aura yang begitu besar hingga membuat banyak orang membeku di tempat. Napas mereka terasa berat. Jantung mereka berdetak lebih cepat. Bahkan beberapa prajurit yang lemah langsung berlutut tanpa sadar. Seolah tubuh mereka menolak berdiri.
"A-Apa itu?" "Sumber energi baru?" "Tidak mungkin..."
Suara panik terdengar di berbagai saluran komunikasi. Semua orang segera menoleh ke arah asal tekanan tersebut.
Lalu mereka melihatnya. Dan untuk sesaat — seluruh medan perang kehilangan suara.
Di kejauhan. Ruang angkasa dipenuhi armada. Bukan ratusan. Bukan ribuan. Melainkan lautan kapal perang yang seolah tidak memiliki akhir. Ratusan ribu. Bahkan mendekati jutaan unit armada kekaisaran. Mereka memenuhi langit seperti tembok raksasa yang menutupi bintang-bintang. Formasi mereka sangat rapi. Sangat teratur. Dan sangat mengintimidasi.
Di bagian paling depan. Ada satu armada yang berbeda. Seluruh kapal dalam formasi itu berwarna emas. Lambang kekaisaran terpahat di setiap lambung kapal. Dan di pusat armada tersebut — berdiri sebuah kapal utama yang ukurannya melampaui kapal perang biasa. Megah. Mewah. Dan memancarkan kewibawaan yang luar biasa.
---
Di depan kapal itu. Berdiri seorang pria.
Jubah emasnya berkibar perlahan. Rambutnya bergerak mengikuti aliran energi yang mengelilinginya. Ia tidak mengeluarkan senjata. Tidak menunjukkan niat menyerang. Namun kehadirannya saja sudah cukup membuat ruang angkasa terasa berat.
Tyrannons membelalak. Ekspresinya benar-benar berubah.
"Itu..." Ia mengenali sosok tersebut. Bagaimana mungkin tidak? Pria itu pernah menjadi gurunya. Orang yang mengajarinya berbagai hal saat masih berada di kekaisaran. Dan juga — orang yang dianggap sebagai jenderal terkuat.
"Rangers..." bisik Tyrannons. Matanya membesar. "Rangers Orithrosvar."
Nama itu langsung menyebar. Dan banyak wajah berubah pucat. Hampir seluruh galaksi mengenalnya. Salah satu dari Tiga Belas Jenderal Utama Kekaisaran. Pemimpin militer yang tak terkalahkan selama puluhan tahun. Orang yang disebut-sebut sebagai pedang terbesar Kekaisaran Galaksi. Dan yang terkuat di antara ketiga belas jenderal.
Bahkan Hydra berhenti tertawa. Semua kepalanya kini memperhatikan Rangers. Ekspresinya benar-benar serius.
Athena juga mengalihkan pandangannya. Tatapannya tenang. Namun penuh kewaspadaan. Ia memahami siapa yang baru saja datang.
---
Di sisi lain —
Virgo mengerutkan kening. Capricorn menyilangkan tangan. Sementara Taurus hanya menatap diam. Ketiganya menunjukkan reaksi yang sama. Waspada. Mereka semua bisa merasakan hal yang sama. Pria itu kuat. Sangat kuat.
*WHOOOOOMMMMM!! *
Aura Rangers kembali menyebar. Kali ini lebih jelas. Planet-planet kecil di sekitar medan perang bergetar pelan. Asteroid mulai retak. Sensor armada mengalami gangguan akibat kepadatan energi yang muncul. Padahal Rangers hanya berdiri. Tidak menyerang. Tidak menggunakan teknik apa pun. Hanya berdiri. Dan itu saja sudah cukup membuat Ursa Major bergetar.
Beberapa prajurit mulai mundur. Insting mereka memperingatkan bahaya. Meskipun Rangers belum melakukan apa pun.
---
Kemudian — Rangers tersenyum tipis. Tatapannya tertuju pada satu orang. Tyrannons.
"Dahulu kau selalu membuat masalah," ucap Rangers. Suaranya tidak keras. Namun terdengar jelas oleh seluruh area.
Tyrannons terdiam. Suara itu sangat familiar baginya.
Rangers melanjutkan. "Aku tidak menyangka akan bertemu lagi dalam situasi seperti ini."
Tyrannons menggenggam pedangnya lebih erat. Tidak menjawab.
Beberapa saat kemudian. Rangers menghela napas. Lalu menatap seluruh medan perang. Armada kekaisaran. Pemberontak. Hydra. Pegasus. Athena. Dan para Zodiac.
"Aku tidak datang untuk berperang," katanya. Kalimat itu membuat banyak orang terkejut.
Rangers mengangkat tangan kanannya. "Aku membawa perintah langsung dari Yang Mulia Oreons Galactive." Suasana langsung menjadi hening. "Perang ini harus dihentikan. Tidak akan ada penambahan konflik besar di galaksi. Itu keputusan kekaisaran."
Beberapa komandan saling berpandangan. Sebagian tidak percaya. Sebagian lainnya merasa lega. Namun tidak ada yang berani berbicara. Orang yang mengucapkan kalimat itu adalah Rangers Orithrosvar.
---
Tyrannons menatap mantan gurunya. Ia tahu satu hal. Jika Rangers benar-benar datang untuk bertarung — maka situasi akan menjadi jauh lebih buruk. Jauh lebih buruk daripada sekarang.
Meskipun tujuan Rangers adalah menghentikan perang — tak seorang pun merasa tenang. Aura yang dipancarkannya masih memenuhi seluruh Ursa Major. Tekanan itu begitu besar hingga membuat banyak orang sulit bernapas. Seolah seekor naga raksasa sedang berdiri di tengah konstelasi. Diam. Namun mampu menghancurkan segalanya jika menginginkannya.
Di atas kapal emasnya. Rangers memandang medan perang yang dipenuhi kehancuran. Lalu menutup matanya sesaat. Perintah Oreons sederhana. Hentikan perang. Jaga galaksi tetap utuh.
Namun ia tahu — melaksanakan perintah itu tidak akan mudah. Di hadapannya sekarang berdiri para pejuang terkuat dari berbagai penjuru galaksi.
Satu kesalahan kecil saja — dapat mengubah Ursa Major menjadi pusat bencana terbesar dalam sejarah galaksi.
