Di Konstelasi Aquila. Perang masih berlangsung. Berbeda dengan Ursa Major yang telah berhasil dihentikan, wilayah ini masih dipenuhi ledakan dan bentrokan armada. Cahaya meriam energi terus menerangi angkasa. Kapal-kapal perang saling menyerang. Dan di pusat semua kekacauan itu — dua sosok masih menjadi perhatian utama. Kaidles. Dan Asgard.
*BOOOOOM!! *
Sebuah ledakan kembali mengguncang ruang angkasa. Tubuh Kaidles terlempar jauh. Ia menghantam pecahan asteroid yang mengambang di dekat medan perang. Batu-batu kosmik pecah berkeping-keping.
Kali ini — Kaidles tidak langsung bangkit. Ia terduduk lemah. Napasnya berat. Armor tempurnya dipenuhi retakan. Beberapa bagian bahkan sudah tidak berfungsi. Wajahnya terlihat lelah.
"Cih..." gumamnya pelan. Ia mencoba berdiri. Namun kakinya terasa berat.
Sebagai salah satu dari Tiga Belas Jenderal Utama Kekaisaran. Kaidles bukanlah petarung biasa. Namanya dikenal di berbagai penjuru galaksi. Banyak perang besar dimenangkan berkat dirinya. Banyak konstelasi pernah jatuh di bawah kekuatan yang ia pimpin.
Namun kali ini — ia benar-benar kesulitan. Karena lawannya bukan petarung biasa.
Matanya menatap sosok yang berdiri jauh di hadapannya. Asgard. Penjaga Aquila.
Asgard masih berdiri diam. Tatapan kosongnya tetap sama seperti sejak awal pertarungan. Tubuh boneka berlapis armor itu terlihat nyaris tidak mengalami kerusakan. Dan itulah yang membuat Kaidles frustrasi.
Sepanjang pertarungan — ia bahkan hampir tidak bisa menyentuh lawannya. Setiap kali mencoba mendekat. Setiap kali mencoba menyerang. Selalu ada sesuatu yang menghalanginya. Ratusan. Tidak. Ribuan proyektil energi. Mereka muncul dari berbagai arah. Seolah memiliki kehendak sendiri. Mengejar target tanpa henti. Mengubah ruang angkasa menjadi medan maut.
Kaidles mencoba menerobos secara langsung. Hasilnya?
*BOOOM!! BOOOM!! BOOOOOM!! *
Ledakan demi ledakan menghantamnya. Membuatnya terpental. Menghancurkan pertahanannya. Dan memaksanya mundur. Bahkan sekarang. Tubuhnya terasa seperti baru saja melewati badai rudal tanpa akhir.
"Monster..." gumam Kaidles. Ia benar-benar mengakui kehebatan lawannya.
---
Di kejauhan. Asgard memandangnya tanpa ekspresi. Mata yang redup tidak menunjukkan emosi apa pun. Entah mengapa — keheningan itu justru terasa menekan.
Beberapa saat kemudian. Suara Asgard akhirnya terdengar. Datar. Tenang. Dan tanpa sedikit pun emosi.
"Kau meremehkan Aquila," katanya.
Kaidles terdiam.
"Aku telah menjaga konstelasi ini selama lebih dari sepuluh ribu tahun," lanjut Asgard. "Melihat peradaban lahir. Melihat bintang mati. Melihat generasi datang dan pergi."
Asgard menatap ke arah armada Aquila yang masih bertahan. "Dan kau mengira tempat ini dapat ditaklukkan dengan mudah."
Kaidles menggertakkan gigi. Ia ingin membantah. Namun tidak bisa. Karena kenyataannya memang demikian. Ia tidak menyangka bahwa di balik wilayah tersebut — ada sosok seperti Asgard. Penjaga yang telah melindungi Aquila selama ribuan tahun.
---
Di kapal utama Aquila —
Ratu Seleneva memperhatikan pertarungan itu melalui layar besar. Matanya dipenuhi kekaguman. "Dia mengalahkan Kaidles..." gumamnya. Meski telah mengenal keberadaan pelindung itu sejak lama. Setiap kali melihatnya bertarung — ia tetap merasa takjub.
Asgard seolah keluar dari kisah legenda kuno. Sosok yang muncul ketika Aquila berada dalam bahaya. Dan menghilang ketika kedamaian kembali datang.
Di sampingnya. Crimgard masih duduk dengan tubuh yang belum pulih sepenuhnya. Ia menatap medan perang dengan mata berbinar. "Dia benar-benar kuat..." katanya pelan.
Seleneva tersenyum tipis. "Tentu saja," jawabnya. "Karena dia adalah pelindung Aquila."
---
Kembali ke medan perang —
Kaidles akhirnya berdiri. Meski tubuhnya masih terasa sakit. Meski energinya hampir habis. Ia tetap mengangkat senjatanya. Menyerah bukanlah sifat seorang jenderal utama.
Asgard memperhatikan gerakan itu. Di belakangnya. Ruang angkasa mulai bergetar. Satu. Dua. Puluhan. Ratusan. Lingkaran sihir bercahaya mulai bermunculan. Mengisi langit di belakang tubuh Asgard.
Kaidles langsung menegang. Ia tahu apa yang akan terjadi.
Dan beberapa detik kemudian — ribuan proyektil energi kembali muncul. Membentuk lautan cahaya yang menyesakkan.
