Cherreads

Chapter 705 - Pengamat

Jauh dari pusat pertarungan. Di perbatasan luar Sistem Antares. Sebuah armada raksasa berdiri diam di tengah kehampaan ruang angkasa. Ribuan kapal perang membentuk formasi yang begitu luas hingga menyerupai konstelasi kecil. Panji-panji Orion berkibar melalui proyeksi energi yang menyelimuti armada.

Namun tidak satu pun kapal bergerak maju. Tidak satu pun meriam diarahkan ke medan tempur. Mereka hanya mengamati.

Di kapal komando utama. Seorang pemuda berdiri di depan jendela observasi raksasa. Tangannya terlipat di belakang punggung. Tatapannya tidak pernah lepas dari cahaya merah Antares yang memenuhi cakrawala kosmik. Astralon. Pemimpin atau Pangeran Konstelasi Orion.

Wajahnya tenang. Kedua matanya memperlihatkan ketertarikan yang jarang muncul.

"Pertahankan posisi," ucapnya. Perintah itu segera diteruskan ke seluruh armada. "Tidak ada kapal yang bergerak tanpa izinku."

"Siap!" jawab para operator serempak.

Salah satu perwira Orion tampak ragu. "Tuan Astralon. Apakah kita tidak perlu membantu?"

Astralon tidak langsung menjawab. Ia tetap memperhatikan medan pertempuran yang sangat jauh di depan sana. Di dekat Antares. Ginga Stars berhadapan dengan tiga Sacred Zodiac sekaligus. Scorpios. Cancer. Dan Pisces. Pemandangan yang bahkan sulit dipercaya.

"Belum," jawab Astralon akhirnya. "Aku ingin melihat hasilnya."

Perwira itu terdiam. Ia memahami maksud pemimpinnya. Ini bukan sekadar pertarungan biasa. Ini adalah bentrokan yang mungkin akan tercatat dalam sejarah galaksi. Pertarungan antara sebuah mecha raksasa melawan tiga Sacred Zodiac. Dan Astralon tidak berniat melewatkan momen itu.

---

Di atas panel komunikasi —

Puluhan notifikasi terus bermunculan. Panggilan masuk. Panggilan prioritas. Panggilan darurat. Semuanya berasal dari dua nama yang sama. Tyrannons. Dan Rea.

Operator komunikasi menoleh. "Tuan. Panggilan dari Tyrannons masuk lagi."

Astralon melirik sebentar. Lalu mengalihkan pandangannya kembali ke Antares. "Abaikan."

Operator itu berkedip. "Untuk yang keempat belas kalinya?"

"Abaikan," ulang Astralon.

Tak lama kemudian. Notifikasi lain muncul. "Panggilan dari Rea."

Astralon bahkan tidak menoleh. "Abaikan juga."

Operator komunikasi hanya bisa menghela napas.

Sementara itu. Astralon tetap menikmati pemandangan di hadapannya. Bukan karena ia membenci Rea. Bukan pula karena ia meremehkan Tyrannons. Saat ini. Perhatiannya sepenuhnya tertuju pada satu hal. Pertarungan para raksasa.

---

Di layar observasi —

Cahaya Antares terus bergejolak. Bintang merah raksasa itu begitu besar hingga tampak seperti dunia yang tak memiliki akhir. Semburan plasma menjulang ke segala arah. Gelombang energi terus menghantam ruang di sekitarnya. Dari posisi armada Orion saat ini — sensor masih harus bekerja keras untuk menstabilkan pengamatan.

"Itulah alasan aku tidak mendekat," gumam Astralon.

Beberapa perwira mengangguk. Mereka memahami maksudnya. Banyak orang berpikir armada besar bisa pergi ke mana saja. Namun Antares bukan tempat biasa. Semakin dekat seseorang ke sana. Semakin besar risiko yang harus ditanggung. Panas ekstrem. Gangguan gravitasi. Badai plasma. Dan tekanan energi yang terus meningkat. Bahkan armada perang sebesar Orion pun tidak akan bertindak sembarangan di dekat bintang sebesar itu.

Sementara mereka masih menjaga jarak aman. Ginga Stars dan ketiga Zodiac justru bertarung di dekat pusat kekacauan tersebut. Sebuah tindakan yang bagi sebagian besar makhluk galaksi terdengar gila.

Astralon tersenyum tipis. "Ini di luar dugaanku." Tatapannya tertuju pada siluet Ginga Stars yang terlihat kecil dibandingkan Antares. Justru mecha itulah yang kini menjadi pusat perhatian.

Di hadapannya berdiri tiga Sacred Zodiac.

More Chapters