Planet Urco Tastarius. Pusat kekuasaan galaksi. Aula rapat kekaisaran yang biasanya dipenuhi perdebatan kini justru tenggelam dalam keheningan.
Tidak ada yang berbicara. Tidak ada yang saling menyindir. Lord Rylos yang biasanya gemar memancing keributan memilih diam.
Beberapa saat yang lalu — semua orang merasakan sesuatu. Sesuatu yang begitu besar. Begitu mengerikan. Dan begitu jauh melampaui pemahaman mereka. Tekanan itu hanya muncul sesaat. Namun cukup untuk membuat seluruh galaksi merasakannya.
Beberapa petinggi saling bertukar pandang. Mereka mencoba menebak apa yang baru saja terjadi.
"Apakah itu senjata baru?" gumam salah satu petinggi.
"Tidak mungkin," jawab yang lain. "Tak ada senjata yang mampu memancarkan tekanan sebesar itu."
"Kalau begitu entitas?"
"Kemungkinan besar seperti itu."
Suara-suara pelan mulai terdengar di berbagai sudut aula. Kesimpulan mereka hampir sama. Ada sesuatu yang muncul. Sesuatu yang sangat mengerikan. Meski hanya sesaat.
---
Di bagian paling depan aula —
Oreons masih duduk di singgasananya. Kepalanya bertumpu pada kepalan tangan. Tatapannya tenang. Namun jelas terlihat sedang berpikir. Sebagai Kaisar Galaksi. Ia juga merasakan tekanan tersebut. Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama — rasa penasaran muncul di benaknya.
"Siapa sebenarnya..." gumamnya pelan. Tidak banyak hal yang mampu menarik perhatian Oreons. Namun keberadaan yang muncul tadi jelas salah satunya.
Di samping singgasana. Yllarxa berdiri dengan tenang. Ia juga merasakan tekanan itu. Berbeda dengan para petinggi lain. Ia tidak terlalu memikirkannya. Jarak sumber tekanan tersebut terlalu jauh. Bahkan sistem pemindaian kekaisaran tidak mampu menemukan asalnya dengan jelas. Maka memikirkannya sekarang hanya akan membuang waktu.
Keheningan kembali memenuhi aula. Lalu Oreons akhirnya berbicara.
"Tenanglah," ucapnya. Suaranya langsung membuat seluruh aula terdiam. "Aku tidak merasakan niat permusuhan dari tekanan itu."
Para petinggi langsung memperhatikan.
Oreons melanjutkan. "Jika itu benar-benar musuh galaksi — maka situasinya akan jauh berbeda."
Beberapa orang mengangguk pelan. Mereka cukup percaya pada penilaian sang Kaisar. Meski tidak menghilangkan rasa khawatir sepenuhnya. Setidaknya mereka sedikit lebih tenang.
Oreons lalu menoleh ke arah Yllarxa. Gadis itu langsung menundukkan kepala dengan sopan. Oreons hanya tersenyum tipis.
"Kau juga merasakannya, bukan?" tanyanya.
Yllarxa mengangguk. "Ya, Yang Mulia. Tekanannya sangat besar."
Oreons tertawa pelan. "Itu benar. Tapi aku tidak takut."
Aula kembali sunyi. Oreons menyandarkan tubuhnya ke singgasana. Seluruh tatapan tertuju kepadanya.
"Selama aku masih berada di sini — aku tidak akan kalah hanya karena tekanan seperti itu."
Tidak ada kesombongan dalam suaranya. Justru itulah yang membuat kata-katanya terasa lebih berat. Semua orang di aula tahu. Oreons bukan seseorang yang suka membanggakan diri. Jika ia mengatakan sesuatu — maka ia benar-benar mempercayainya.
Yllarxa perlahan menundukkan kepala. Ia mengenal Oreons lebih baik daripada siapa pun di ruangan itu. Ia tahu. Oreons memang tidak pernah takut. Dan jika suatu hari keberadaan yang memancarkan tekanan itu benar-benar muncul di hadapannya — kemungkinan besar Oreons justru akan menantangnya.
Pemikiran itu membuat Yllarxa menghela napas pelan. Ia juga mengetahui sisi lain dari Kaisar Galaksi. Sisi yang tidak pernah diperlihatkan kepada kebanyakan orang. Sisi yang sangat keras. Sangat kejam. Dan tidak pernah mundur dari siapa pun.
---
Di dekat pintu aula —
Rangers berdiri santai. Kedua tangannya terlipat di dada. Ekspresinya tetap tenang seperti biasa. Seolah tekanan yang baru saja mengguncang galaksi tidak berarti apa-apa.
Beberapa petinggi melirik ke arahnya. Jika ada seseorang yang mungkin mampu memahami situasi ini selain Oreons — maka orang itu adalah Rangers.
Namun sang jenderal terkuat hanya mengangkat bahu. "Tekanan memang besar," katanya santai. "Tapi ketakutan tidak akan menyelesaikan apa pun."
Beberapa petinggi tersenyum kecut mendengarnya. Kalimat itu terdengar mudah diucapkan oleh seseorang yang disebut sebagai jenderal terkuat kekaisaran.
Rangers kemudian menatap langit kosmik di luar aula. Matanya sedikit menyipit. Entah mengapa. Ia merasa bahwa kemunculan tekanan tadi bukanlah akhir. Melainkan awal. Awal dari sesuatu yang jauh lebih besar.
