Cherreads

Chapter 742 - Keberangkatan Menuju Draco

Aula utama Istana Ursa Major mulai dipenuhi kesibukan.

Para prajurit, pelayan, dan petinggi kerajaan bergerak ke berbagai arah setelah keputusan besar akhirnya diambil.

Mereka akan menuju Konstelasi Draco.

Namun tidak semua orang ikut dalam perjalanan itu.

Di atas singgasana kerajaan, Callisto duduk dengan tenang.

Tatapannya tertuju pada Arcas yang berada di dekatnya.

Berbeda dari biasanya yang penuh semangat dan mudah terpancing emosi, kali ini Arcas tampak jauh lebih santai.

Ia berbaring dengan kepala berada di pangkuan Callisto.

Matanya menatap langit-langit aula sambil berpikir.

"Aku sebenarnya ingin ikut ke Draco."

ucap Arcas pelan.

Callisto menunduk menatapnya.

"Lalu kenapa tidak ikut?"

Arcas tersenyum kecil.

"Karena seseorang harus tetap menjaga Ursa Major."

Ia memejamkan mata sesaat.

"Perang memang sudah berakhir."

"Tapi wilayah ini masih belum stabil."

"Banyak armada yang masih berjaga."

"Banyak planet yang masih memperbaiki kerusakan."

"Aku tidak bisa meninggalkan semuanya begitu saja."

Callisto memahami maksudnya.

Ursa Major baru saja selamat dari perang besar.

Meski keadaan sudah jauh lebih baik, bukan berarti ancaman benar-benar hilang.

Masih banyak kemungkinan yang bisa terjadi.

Karena itu seseorang memang perlu tetap tinggal.

Callisto mengelus rambut Arcas perlahan.

"Aku tidak mempermasalahkannya."

katanya lembut.

"Aku tahu kamu cukup kuat untuk menjaga dirimu sendiri."

Arcas tertawa kecil.

"Itu terdengar seperti pujian."

"Memang pujian."

jawab Callisto tanpa ragu.

Arcas hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum.

Tak jauh dari mereka.

Aryes dan Tyrannos berdiri berdampingan.

Keduanya menatap pasangan pemimpin Ursa Major itu.

Kemudian Aryes melangkah maju.

"Kami akan segera berangkat."

ucapnya.

"X.A.R.A akan meninggalkan Ursa Major."

Tyrannos mengangguk.

"Begitu juga Tartanos."

Suasana aula sedikit hening.

Kemudian Tyrannos menundukkan kepala dengan hormat.

"Terima kasih karena telah menerima kami selama perang berlangsung."

"Tanpa bantuan Ursa Major, mungkin kami tidak akan memiliki tempat untuk bertahan."

Aryes ikut mengangguk.

"Kami juga berterima kasih."

Callisto hanya tersenyum hangat.

"Kalian tidak perlu berterima kasih."

katanya.

"Justru kami yang seharusnya berterima kasih."

"Kalian membantu menjaga Ursa Major ketika perang terjadi."

"Dan karena itu, banyak nyawa berhasil diselamatkan."

Tyrannos tidak menjawab.

Tetapi ia menghormati perkataan itu.

Meski perang berakhir tanpa kemenangan yang diinginkan.

Setidaknya mereka berhasil mempertahankan Ursa Major.

Setelah percakapan itu selesai.

Aryes berbalik.

Ia mengaktifkan layar hologram komunikasi.

"Roxis."

panggilnya.

Wajah robot itu langsung muncul.

"Ya, Kapten Aryes."

"Siapkan Nexus S-4473."

"Kita berangkat menuju Draco."

Mata mekanis Roxis langsung menyala terang.

"Perintah diterima."

"Seluruh sistem kapal akan dipersiapkan."

Layar hologram pun menghilang.

Di sisi lain aula.

Tyrannos juga mengaktifkan komunikator miliknya.

"Semua armada Tartanos bersiap."

Perintahnya terdengar tegas.

"Kita akan bergerak menuju Konstelasi Draco."

Dalam waktu singkat.

Ratusan komandan armada mulai menerima instruksi.

Kesibukan besar segera terjadi di seluruh wilayah luar Ursa Major.

Kapal-kapal perang mulai menghidupkan mesin mereka.

Meriam energi diperiksa.

Perisai armada diaktifkan.

Persiapan perang kembali dimulai.

Sementara itu.

Astralon berdiri di depan jendela besar aula.

Tatapannya mengarah ke langit kosmik.

Armada Orion yang sangat besar sudah mulai membentuk formasi.

Seperti lautan kapal yang memenuhi ruang angkasa.

Sebagai pemimpin Orion.

Astralon akan memimpin mereka secara langsung.

Di sisi lain.

Rea juga telah menghubungi seluruh armada Cepheus.

Puluhan ribu kapal dari konstelasinya mulai bersiap bergerak.

Meski wajahnya tetap tenang.

Di dalam hatinya ia merasakan sesuatu.

Perjalanan ini tidak akan sederhana.

Tujuan mereka adalah Draco.

Tempat yang bahkan dalam legenda pun dianggap berbahaya.

Namun tidak ada satu pun dari mereka yang mundur.

Selain membantu Storm.

Mereka juga memiliki tujuan lain.

Menjadi lebih kuat.

Tyrannos memandang armada-armada yang mulai bergerak di langit Ursa Major.

Matanya perlahan menyipit.

"Kita akan kembali."

gumamnya.

"Tapi saat itu..."

"...kita harus jauh lebih kuat."

Astralon mendengar ucapan itu.

Begitu pula Aryes.

Mereka semua memahami maksudnya.

Perjalanan menuju Draco bukan hanya sebuah misi penyelamatan.

Bukan hanya petualangan.

Melainkan kesempatan.

Kesempatan untuk mengasah kekuatan.

Menghadapi musuh-musuh yang belum pernah mereka hadapi sebelumnya.

Dan mempersiapkan diri.

Untuk perang yang jauh lebih besar di masa depan.

Di luar istana.

Mesin-mesin armada mulai menyala satu per satu.

Cahaya biru, emas, merah, dan perak memenuhi langit kosmik Ursa Major.

Sebuah armada gabungan raksasa perlahan bersiap meninggalkan konstelasi itu.

Menuju satu tujuan yang sama.

Konstelasi Draco.

Wilayah para naga.

Tempat di mana legenda-legenda hidup masih berjalan di antara bintang-bintang.

More Chapters