Di Urco Tastarius. Arena pertarungan kekaisaran dipenuhi sorak-sorai yang menggema ke seluruh istana. Petarung-petarung dari berbagai konstelasi saling beradu kemampuan. Dentuman senjata. Kilatan energi. Dan benturan kekuatan terus menghiasi arena batu raksasa itu. Para penonton bersorak setiap kali salah satu petarung mengeluarkan jurus yang luar biasa.
Di tepi arena. Rangers berdiri dengan kedua tangan terlipat di dada. Tatapannya tenang mengawasi setiap pertarungan. Tak ada satu pun peserta yang berani berbuat curang. Mereka tahu... Sekali saja melanggar aturan, Rangers sendiri yang akan menghentikan mereka. Tak seorang pun ingin berhadapan dengan jenderal terkuat Kekaisaran itu.
---
Sementara itu... Di balkon istana yang menghadap langsung ke arena —
Yllarxa duduk sendirian di sebuah kursi megah. Kedua tangannya terlipat. Bibirnya sedikit manyun. Tatapannya kosong menatap pertarungan di bawah sana. Pikirannya sama sekali tidak berada di arena. Ia terus memikirkan keputusan Oreons. Penaklukan konstelasi demi konstelasi masih terus berlangsung. Aquila telah jatuh. Dan sekarang... Rhythm kemungkinan sudah hampir tiba di Ursa Major.
Yllarxa mengenal Rhythm dengan baik. Jenderal itu sangat malas. Mungkin sekarang ia masih memperlambat perjalanan armadanya. Atau mungkin sudah sampai dan memilih berunding terlebih dahulu. Apa pun itu... Yllarxa tetap merasa gelisah.
Ia perlahan mengembuskan napas panjang. "Aku tetap tidak bisa menyetujui semua ini..." gumamnya pelan.
Saat itulah... Sepasang tangan perlahan memeluknya dari belakang. Yllarxa sedikit terkejut. Namun ia langsung mengenali siapa pemilik pelukan itu. Oreons. Sang Kaisar.
Oreons menyandarkan dagunya di bahu Yllarxa. Tatapannya ikut mengarah ke arena pertarungan. "Kau masih memikirkannya?" tanya Oreons dengan suara tenang.
Yllarxa hanya diam beberapa saat. Kemudian mengangguk pelan. "Saya hanya... Saya tidak ingin semakin banyak konstelasi menderita."
Oreons tersenyum tipis. Pelukannya tetap hangat. "Jangan terlalu memikirkan semua itu," katanya. "Aku tahu apa yang sedang kulakukan."
Yllarxa menundukkan kepala. "Tapi..."
Oreons memotong ucapannya. "Percayalah padaku. Semuanya kulakukan demi masa depan galaksi."
Yllarxa kembali terdiam. Ia ingin membantah. Ingin kembali membujuk Oreons menghentikan penaklukan. Tetapi... Ia tahu. Begitu Oreons sudah mengambil keputusan. Tidak ada seorang pun yang mampu mengubahnya. Bahkan dirinya. Akhirnya ia hanya menghela napas pelan. "...Aku mengerti," jawabnya lirih.
---
Oreons tersenyum kecil. Melihat Yllarxa tidak lagi membantah membuat ekspresinya sedikit lebih tenang. Ia mengusap lembut rambut panjang Yllarxa. Yllarxa membiarkan perlakuan itu. Sesekali ia melirik Oreons yang tersenyum dengan cara yang hanya diperlihatkan saat bersama dirinya. Tidak ada wibawa seorang kaisar. Tidak ada tatapan dingin penguasa galaksi. Hanya seorang pria yang menikmati kebersamaan dengan gadis yang dicintainya.
Namun... Di balik senyum itu. Yllarxa mengetahui sisi lain Oreons. Sisi yang tidak diketahui hampir seluruh penghuni galaksi. Sisi yang membuatnya selalu merasa takut. Jika suatu hari Oreons benar-benar murka... Bukan hanya satu konstelasi yang akan hancur. Seluruh galaksi mungkin akan menyaksikan kekuatan sang Kaisar yang sesungguhnya.
Itulah alasan terbesar Yllarxa selalu berusaha menghentikannya. Bukan karena ia meragukan kekuatan Oreons. Melainkan karena ia takut... Pada apa yang akan terjadi jika Oreons tidak lagi menahan dirinya.
Yllarxa memejamkan mata sejenak. Dalam hati ia hanya memiliki satu harapan. "Semoga hari itu tidak pernah datang..."
