Di dalam kokpit Skycrimson, Storm menarik napas panjang. Seluruh indikator energi berkedip merah. Armor itu telah mencapai batasnya.
Storm perlahan memejamkan mata. "...Tak ada pilihan lain lagi."
Suara mekanisme terdengar pelan. Panel-panel Skycrimson mulai terbuka. Cahaya merah yang selama ini menyelimuti tubuh Storm perlahan menghilang. Enam lengan Armor Ashura lenyap menjadi partikel-partikel energi. Pedang Ashura menghilang.
Beberapa saat kemudian... Dimensi Ashura runtuh. Lautan merah yang memenuhi ruang perlahan retak seperti kaca. Seluruh ruang buatan itu pecah menjadi jutaan serpihan cahaya sebelum akhirnya lenyap.
Dalam sekejap... Konstelasi Draco kembali terlihat sebagaimana mestinya. Hamparan bintang. Nebula. Dan debu kosmik yang masih bertebaran akibat pertempuran.
Storm kini berdiri sendirian di ruang hampa. Tanpa Skycrimson. Tanpa senjata. Tatapannya tetap tajam mengarah kepada Zyron yang masih berada dalam wujud naga bersayap enam.
Zyron mengernyit. "Kau melepaskan armormu? Menyerah bukan sifat manusia."
Storm tidak menjawab. Ia hanya menutup kedua matanya. Keheningan menyelimuti ruang angkasa. Lalu... Dari dalam tubuhnya, muncul denyutan energi yang sama sekali berbeda. Bukan energi mekanis. Bukan pula aura manusia. Melainkan sesuatu yang jauh lebih tua. Jauh lebih asing.
---
Di dalam alam bawah sadar Storm...
Sebuah lautan api kosmik membentang tanpa ujung. Di tengah kobaran api itu berdiri sesosok entitas yang selama ini memilih bersembunyi. Velora Zynira. Salah satu dari Sebelas Penjaga Pilar Triesverse. Sebuah alam semesta lain yang keberadaannya begitu jauh hingga nyaris menjadi legenda. Velora dahulu memikul tugas sebagai salah satu penjaga keseimbangan Triesverse. Namun suatu hari... Ia meninggalkan tugasnya. Sejak saat itu, para Pilar lainnya memburunya. Untuk menghindari pengejaran tersebut, Velora menyembunyikan keberadaannya di dalam alam bawah sadar Storm.
---
Storm membuka matanya. Sepasang matanya berubah menjadi kobaran api kosmik. Tubuhnya mulai diselimuti nyala api merah keemasan. Energi itu membesar tanpa henti. "Kalau begitu... Aku akan menggunakan kekuatan ini."
Api kosmik meledak ke segala arah.
*DUUUUUUM!! *
Konstelasi Draco seketika dipenuhi hawa panas yang luar biasa. Nebula-nebula di sekitar mereka berkilauan diterpa cahaya api. Gelombang energi menyapu ribuan kilometer ruang angkasa. Bahkan sensor Ginga Stars langsung mengalami gangguan.
"Pembacaan energi di luar batas..." ucap Proxi. "Fenomena ini... Tidak berasal dari Skycrimson."
Arabels hanya mampu menatap dengan mata membelalak.
---
Tubuh Storm mulai berubah. Api kosmik membungkus seluruh dirinya. Bentuk manusianya perlahan menghilang. Sebagai gantinya... Muncul sosok monster yang diselimuti kobaran api kosmik. Tanduk-tanduk panjang tumbuh dari kepalanya. Tubuhnya dilapisi zirah alami berwarna hitam kemerahan yang dipenuhi retakan bercahaya. Dua pedang besar perlahan terbentuk dari api di kedua tangannya. Setiap bilah memancarkan panas yang mampu membuat ruang di sekitarnya bergetar.
"Xyrares Vonalys." Suara Storm terdengar lebih dalam. Lebih berat. Seolah dua kesadaran berbicara secara bersamaan. Tekanan yang dipancarkan sosok itu terus meningkat. Bukan hanya memenuhi Konstelasi Draco. Gelombang energinya bahkan meluas hingga keluar dari batas konstelasi, membuat wilayah-wilayah di sekitarnya ikut merasakan keberadaannya.
---
Di hadapan Storm... Zyron membeku. Tubuh naga raksasa itu bergetar. Nalurinya sebagai pejuang naga berteriak memperingatkan bahaya. "Kekuatan ini..." gumamnya pelan. "...Apa sebenarnya kau?" Keenam sayapnya mengepak perlahan, tetapi kini tidak lagi dipenuhi keyakinan mutlak. Sebaliknya... Ada kewaspadaan yang belum pernah muncul sebelumnya.
Storm—atau lebih tepatnya Xyrares Vonalys—mengangkat kedua pedang apinya. Kobaran api kosmik membelah ruang angkasa. Kini... Bukan lagi Storm yang terdesak. Melainkan Zyron yang dipaksa berhati-hati menghadapi kekuatan misterius yang baru saja terbangun.
