Di dalam Nexus S-4473, terdapat sebuah ruang latihan yang dirancang untuk menguji kemampuan bertarung para anggota X.A.R.A. Ruangan itu dipenuhi dinding logam berlapis pelindung energi agar mampu menahan benturan dari berbagai jenis serangan. Saat itu... Dua sosok saling berhadapan di tengah arena. Jester dan Proxi.
"Mulai."
Begitu suara sistem terdengar, Jester langsung menggerakkan tangannya. Puluhan kartu Arcana melayang di sekeliling tubuhnya. Satu per satu kartu itu bersinar sebelum melesat ke arah Proxi. Dalam sekejap... Ratusan kartu memenuhi arena seperti hujan bilah tajam.
Proxi tetap tenang. Tubuh robot itu bergerak ringan, menghindari setiap kartu yang datang dengan selisih jarak yang sangat tipis. Tidak satu pun serangan berhasil mengenainya.
Jester tersenyum tipis. "Masih sama seperti biasanya. Kau sulit disentuh."
Proxi tidak menjawab. Lampu di kedua matanya berubah warna. "Mode... R-10." Seketika, berbagai garis analisis memenuhi bidang pandangannya. Kecepatan kartu. Sudut lintasan. Tekanan udara. Hingga pola gerakan Jester. Semuanya diproses dalam waktu yang nyaris seketika.
Proxi melangkah ke samping. Lalu bergerak maju. Seluruh kartu yang mengarah kepadanya berhasil dihindari tanpa gerakan yang sia-sia. "Pergerakan telah diprediksi," ucap Proxi dengan suara datar.
Jester kembali mengayunkan tangannya. Kartu-kartu Arcana berubah arah dari berbagai sisi. Namun hasilnya tetap sama. Proxi mampu membaca seluruh lintasan serangan hanya dengan kemampuan analisisnya. Mode R-10 memungkinkan Proxi memprediksi arah pergerakan lawan dan menganalisis teknologi maupun pola serangan berkecepatan tinggi hanya melalui penglihatannya.
---
Di sudut ruangan... Napstylea berdiri dalam diam. Ia memperhatikan duel latihan itu tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Meski sesekali matanya mengikuti pergerakan Jester dan Proxi... Perhatiannya justru beberapa kali beralih ke arah lain. Di luar ruang latihan... Storm sedang berjalan perlahan di koridor kapal. Napstylea memandang ke arah itu. Di dalam hatinya, ia ingin menghampiri Storm. Ada banyak hal yang ingin ia tanyakan. Tentang kekuatan yang mampu mengguncang Konstelasi Draco.
Belum sempat ia melangkah. Arabels lebih dahulu menghampiri Storm. Keduanya mulai berbincang sambil berjalan menyusuri koridor. Napstylea menghentikan langkahnya. Ia tersenyum tipis, meski nyaris tak terlihat. "...Lain kali saja," gumamnya pelan. Ia mengurungkan niatnya. Bukan karena kecewa. Melainkan karena tidak ingin mengganggu percakapan mereka. Napstylea kembali mengalihkan pandangannya ke ruang latihan. Meski begitu... Sesekali ia masih melirik ke arah Storm dari kejauhan. Baginya... Melihat Storm dalam keadaan baik-baik saja sudah cukup.
---
Sementara itu, duel antara Jester dan Proxi terus berlanjut. Kartu-kartu Arcana kembali memenuhi arena. Sedangkan Proxi tetap menganalisis setiap lintasan serangan dengan ketepatan yang nyaris sempurna. Latihan itu belum memperlihatkan kekuatan terbaik mereka. Tetapi bagi anggota X.A.R.A, duel semacam ini menjadi cara untuk terus mengasah kemampuan sebelum menghadapi peperangan besar yang menanti di depan.
