Di luar galaksi Bima Sakti.
Sebuah planet berwarna biru keperakan terlihat dari kejauhan, dikelilingi cincin cahaya tipis yang memantulkan sinar bintang.
Dua sosok melayang di ruang angkasa.
Yang pertama adalah seorang gadis berambut cokelat bernama Meracles Agyctive.
Ia berasal dari Andromeda dan merupakan seorang ahli elemen tanah yang memiliki kemampuan mengendalikan bebatuan, mineral, serta energi alami dari sebuah planet.
Meracles dikirim langsung oleh Ratu Andromeda untuk menyusul Xyros Sealactive.
Namun, dalam perjalanannya menuju Bima Sakti, ia bertemu dengan seorang pejuang dari NGC 604.
Namanya Recluster Nxc-13.
Recluster merupakan utusan dari Tringgulung, Galaksi terbesar ketiga di Local Group.
Pertemuan mereka sebenarnya tidak direncanakan.
Namun, setelah mengetahui bahwa keduanya memiliki tujuan yang hampir sama, mereka memutuskan untuk pergi bersama menuju Urco Tastarius.
Kini mereka telah tiba.
Di hadapan mereka terbentang sebuah planet besar dengan kota-kota yang terlihat seperti lautan cahaya.
Meracles memandangnya dengan mata berbinar.
"Wow..."
Ia melayang sedikit lebih dekat.
"Jadi, di luar Andromeda ternyata ada banyak planet yang jauh lebih indah dari yang kubayangkan."
Recluster hanya melirik ke arah planet itu.
Ia kemudian mengangkat pedangnya.
Pedang tersebut memiliki bentuk yang cukup sederhana, tetapi bilahnya dipenuhi pola seperti duri yang memanjang dari pangkal hingga ujung.
Ia meletakkan pedang itu di atas bahunya.
"Indah belum tentu nyaman."
Meracles menoleh.
"Hah?"
Recluster memandang planet tersebut dengan tenang.
"Jangan terlalu terpukau oleh pemandangan."
"Keindahan tidak selalu berarti tempat itu aman."
Meracles terdiam sejenak.
Kemudian ia tersenyum kecil.
"Kau terlalu serius."
"Aku hanya realistis."
Keduanya kemudian turun menuju permukaan planet.
Tujuan mereka adalah Urco Tastarius.
Tempat yang menjadi pusat pemerintahan Galactic Empire.
Beberapa saat kemudian.
Langit Urco Tastarius berubah.
Dua sosok turun dari atmosfer dan melayang menuju area altar istana.
Para prajurit yang berjaga langsung melihat mereka.
Alarm berbunyi.
WUUUUUUNG!
Ratusan prajurit keluar dari berbagai sisi.
Senjata mereka diarahkan kepada kedua pendatang tersebut.
Meracles mengangkat kedua tangannya.
"Tunggu!"
"Kami bukan musuh!"
Namun para prajurit tidak menurunkan senjata.
Bagi mereka, dua orang asing yang tiba-tiba muncul dari luar planet merupakan ancaman.
"Berhenti!"
"Identifikasi diri kalian!"
Recluster menghela napas.
"Sepertinya mereka tidak mau mendengarkan."
Meracles mengangguk pelan.
"Sepertinya begitu."
Salah seorang komandan memberikan perintah.
"TANGKAP MEREKA!"
Pasukan langsung bergerak.
Ribuan prajurit mulai memenuhi altar.
Meracles mundur beberapa langkah.
"Aku rasa kita punya masalah."
Recluster menatap pasukan yang terus berdatangan.
"Masalah besar."
Gelombang pertama menyerbu.
Meracles menghentakkan kakinya.
DUUM!
Tanah altar bergetar.
Retakan menyebar ke segala arah.
Pilar-pilar batu muncul dari permukaan tanah dan menghentikan gerakan beberapa prajurit.
Meracles kemudian mengangkat tangannya.
"Tanah... dengarkan aku."
Tanah di bawahnya bergerak.
Bongkahan batu besar terangkat ke udara dan meluncur ke arah pasukan.
Tidak ada korban jiwa.
Namun, barisan depan prajurit langsung terpental dan kehilangan keseimbangan.
Recluster mengayunkan pedangnya.
SWOOSH!
Gelombang energi dari tebasannya menyapu area di depannya dan membuat sejumlah prajurit mundur.
Namun jumlah mereka tidak berkurang.
Justru semakin banyak yang berdatangan.
Recluster memandang sekeliling.
"Serius?"
Ia menghela napas panjang.
"Kenapa jumlah mereka hampir tidak ada habisnya?"
Meracles terus mengendalikan tanah untuk menghalangi pasukan.
"Kita harus melewati mereka!"
"Aku tahu!"
"Kalau begitu lawan!"
Recluster menatapnya.
"Tujuanku ke sini bukan untuk bertarung."
Meracles menunjuk ke arah istana.
"Kalau kita ingin masuk ke istana, kita harus melewati para penjaga ini!"
Recluster terdiam.
Kemudian ia mengangkat pedangnya kembali ke bahu.
"Baiklah."
Aura mulai muncul di sekitar tubuhnya.
"Kalau begitu, kita lakukan dengan cepat."
Pasukan kembali menyerbu.
Meracles tersenyum percaya diri.
"Jangan sampai tertinggal!"
"Justru aku yang seharusnya mengatakan itu."
Keduanya bergerak bersamaan.
Meracles menghentakkan kedua tangannya ke tanah.
BOOOOM!
Gelombang batu menyebar dari altar.
Sementara Recluster menerobos dari sisi lain, menggunakan pedangnya untuk membuka jalan tanpa berniat mencederai para prajurit secara fatal.
Namun, semakin mereka mendekati istana...
Semakin kuat pasukan yang menghadang mereka.
Meracles mulai menyadari sesuatu.
"Recluster..."
"Apa?"
"Para penjaga di tempat ini..."
Ia menatap istana di kejauhan.
"...jauh lebih kuat daripada yang kukira."
Recluster tersenyum tipis.
"Akhirnya kau mengakuinya."
Meracles mengepalkan tangan.
"Kalau begitu kita harus semakin cepat."
Keduanya kembali maju.
