Cherreads

Chapter 23 - Bab 23 Penilaian

Mereka berpindah ke area latihan luar ruangan, tempat yang biasa mereka jadikan tempat untuk berlatih, langit senja mulai meredup. Angin berhembus pelan membawa aroma tanah dan rumput basah.

Raida berdiri di tengah lapangan, menatap satu persatu, "ada beberapa aturan dalam duel ini, pertama duel ini adalah duel satu vs satu, kedua aku tak ingin ada kecurangan, ketiga ingat batasan."

Fey melangkah ke tengah lapangan, sambil meregangkan lehernya. "Siapa duluan"

Zeks melangkah ke depan, ia menghunuskan pedangnya, "Aku"

Raida memberi aba aba, "Mulai"

Zeks menyerang dengan cepat, tebasannya lurus penuh tenaga, Fey memiringkan tubuhnya, tebasan itu meleset tipis. Dalam satu gerakan singkat, Fey menepuk pergelangan tangan Zeks.

Duk!

Pedang zeks terlempar dan tertancap di tanah.

"Sudah?" tanya Fey datar

Zeks terdiam, lalu menghela nafas. "Sial... Kenapa begitu cepat"

Berikutnya sarah, ia maju tanpa banyak bicara, auranya lebih tenang tapi tajam. Serangannya lebih terukur, kombinasi langkah dan ayunan presisi. Fey terlihat lebih serius, namun hasilnya sama dalam berapa pertukaran, Sarah terdesak dan akhirnya berhenti.

"Teknikmu rapi," ucap Fey singkat "tapi masih kurang pengalaman."

Sarah menghela nafas, lalu mengangguk dan mundur.

Giliran Rey. Ia maju dengan senyum tipis, lalu melesat. Gerakannya liar namun terkontrol tipuan, loncatan, sudut serang tak terduga. Untuk sesaat, Fey tampak tersenyum kecil.

Namun satu kesalahan kecil cukup. Fey menangkap celah, menyentuh bahu Rey, dan tekanan itu membuat Rey terhuyung lalu berlutut.

Rey tertawa pendek. "Oke… aku akui."

Arena kembali hening.

Amel melangkah maju terakhir.

Raida tanpa sadar menegakkan tubuhnya.

"Siap?" tanya Fey.

Amel mengangguk. "Siap."

Begitu duel dimulai, aura Amel berubah. Udara di sekitarnya terasa lebih berat, lebih padat. Cahaya samar membungkus tubuhnya tenang, tapi dalam.

Serangan Fey kali ini tidak ditahan. Ia bergerak cepat, jauh lebih cepat dari sebelumnya. Namun Amel menahan satu langkah mundur, satu langkah ke samping lalu membalas. Benturan mereka memecah tanah, meninggalkan retakan panjang.

Detik demi detik berlalu. Sarah dan yang lain terdiam. Ini berbeda. Amel mulai mendorong lebih jauh. Nafasnya tetap stabil, tatapannya fokus. Energinya berlapis seolah ada sesuatu yang terbangun lebih dalam, lebih matang dari sebelumnya.

Fey mengernyit, lalu tersenyum lebar. "Menarik."

Ia meningkatkan tekanan. Amel terhuyung, namun bertahan. Ia mengangkat tangannya, cahaya di sekitarnya berdenyut, dan untuk sesaat hanya sesaat energi itu beresonansi aneh.

Raida membeku.

Perasaan itu. Bukan sama… tapi mirip.

Dadanya terasa sesak. Ingatan lama berkelebat cara energi itu mengalir, ketenangan di tengah kekuatan, ritme yang ia kenal terlalu baik.

Lily…

Tangannya mengepal tanpa sadar.

Duel berakhir ketika Fey menghentikan serangan dan mengangkat tangan. "Cukup."

Amel terhuyung, lalu berdiri tegak. Nafasnya agak berat, tapi matanya tetap menyala.

Fey menatapnya lama. "Kau… bertahan paling lama."

Ia menoleh ke yang lain. "Jauh."

Amel menunduk sopan. "Terima kasih."

Raida melangkah maju, wajahnya kembali netral. "Cukup untuk hari ini."

Tak satu pun menyadari bahwa Raida menatap Amel sedikit lebih lama dari biasanya tatapan yang menyimpan sesuatu yang tak ia ucapkan.

Ia berbalik lebih dulu.

Dan tetap diam.

Raida melangkah pergi tanpa menoleh lagi. Suara langkahnya perlahan menjauh, menyatu dengan desau angin malam yang mulai datang. Sosoknya makin kecil, lalu hilang di balik bayangan pepohonan di ujung area latihan.

Keheningan tertinggal.

Zeks memecahkannya lebih dulu dengan menarik napas panjang. "Dia… langsung pergi."

"Biasanya juga begitu," ujar Rey

"Biasanya dia selalu bilang satu kalimat. Minimal satu." balas Zeks

Sarah mengangguk pelan. "Saat Amel bertarung, raut wajahnya tiba tiba saja berubah."

Amel sendiri masih berdiri di tengah lapangan. Cahaya di sekitarnya telah lenyap sepenuhnya.

Tiba tiba saja Sarah memeluknya dari belakang "Amel... Apa kau baik baik saja, aku tadi khawatir padamu"

"Tapi tadi kau sangat hebat, kau hampir menyaingi si fey" ucap Rey sambil mengacungkan jempol

"Benar... Tak ku sangka kau bisa sekuat itu, ajari aku caranya," kata Zeks

Fey mendekat "itu tadi cukup hebat aku terkesan, tapi kekuatan kalian belum cukup untuk bisa melawan musuh musuh di luar sana, kekuatan kalian masih perlu di asah lagi" ujarnya lalu pergi

"Dia benar... Kita tidak tau musuh seperti apa yang akan menyerang bumi nanti, kita harus berusaha agar bisa menjadi lebih kuat lagi" ujar Rey

Raida berhenti di balik sebuah pohon besar tak jauh dari area latihan. Batangnya menutupi sebagian tubuhnya, dedaunan di atas berdesir pelan diterpa angin malam. Dari sana, suara mereka masih samar terdengar tawa kecil, percakapan singkat, nada lega yang bercampur kagum.

Raida menutup mata.

Langkah kaki mendekat dari arah berlawanan. Raida membuka mata tanpa menoleh. Ia sudah tahu siapa itu.

"Kau kabur terlalu cepat," ujar Fey.

Raida tetap menghadap ke depan. "Duelnya sudah selesai."

Fey berhenti di sampingnya, menyandarkan punggung pada pohon lain. "Bukan itu yang ingin kau hindari."

Hening sejenak.

Angin meniup dedaunan, membawa aroma tanah yang lembap.

"Aura Amel," lanjut Fey pelan. "Itu bukan kebetulan, kan?"

Rahang Raida mengeras. "Ia berbakat."

"Bakat tidak menghasilkan resonansi seperti itu," balas Fey tenang. "Terutama resonansi yang membuatmu sampai… pergi."

Raida akhirnya menoleh. Tatapannya dingin. "Apa yang kau rasakan?"

Fey menyilangkan tangan. "Lapisan energi yang stabil. Tidak liar. Tidak memaksa. Seolah sudah lama… dilatih untuk menahan diri."

Raida memalingkan wajah kembali. "Dan yang lain?"

"Zeks agresif, tapi reaksinya masih terbaca. Sarah presisi, kurang jam tempur. Rey kreatif, tapi terlalu mengandalkan insting." Fey berhenti sejenak. "Mereka bisa berkembang. Tapi Amel berbeda."

Raida diam.

Hening kembali menyelimuti mereka berdua. Angin malam semakin dingin, membuat dedaunan di atas berdesir lebih keras.

Fey melirik Raida dari sudut matanya. "Ada satu hal lagi yang ingin kutanyakan."

Raida tidak menjawab, namun ia tidak pergi. Itu sudah cukup bagi Fey.

"Asal kekuatan mereka," ucap Fey pelan. "Terutama Amel. Cara energinya terbentuk… itu bukan hasil latihan singkat, bukan pula kebangkitan acak. Itu seperti fondasi yang sudah ada sejak lama."

Raida menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan. "Sebagian orang lahir dengan jalur yang lebih… peka."

"Jalur tidak menjelaskan resonansi," balas Fey. "Energi mereka khususnya Amel, dan saat dia menggunakan tekniknya tadi ekspresimu berubah"

Raida mengepalkan tangannya, urat di punggung tangannya menegang. "Kau terlalu banyak menarik kesimpulan."

Fey tersenyum tipis. "Dan kau terlalu cepat pergi."

Raida menoleh tajam. "Apa maksudmu?"

"Kau pergi bukan karena latihan selesai," jawab Fey tenang. "Kau pergi karena kau takut mengonfirmasi sesuatu."

Hening.

Angin membawa suara tawa samar dari lapangan latihan, namun bagi Raida, suara itu terdengar jauh.

"Apa yang kau takutkan?" tanya Fey, kali ini lebih pelan.

Raida menatap ke depan, ke arah gelap di antara pepohonan. "Aku tidak takut."

"Kalau begitu," lanjut Fey, "mengapa kau tidak tinggal dan menatapnya lebih lama?"

Raida terdiam cukup lama sebelum akhirnya berkata, suaranya rendah dan terkontrol, "Karena jika aku mengatakannya… aku bisa menghancurkan mereka."

Fey mengangkat alis. "Dengan kebenaran?"

"Dengan harapan," jawab Raida singkat.

Ia menutup mata sejenak. Bayangan Lily kembali muncul. Dan cara ia selalu berkata bahwa kekuatan sejati bukan soal menang, tapi soal menahan diri.

"Kekuatan mereka," lanjut Raida, "belum sepenuhnya milik mereka. Masih terlalu cepat bagi mereka mengetahui rahasia di balik kekuatan mereka. Untuk sekarang mereka hanya harus menjadi lebih kuat dari sekarang"

More Chapters