Setelah menatap halaman‑halaman pertama yang berisi tulisan berkilau dalam tinta perak, Kael menurunkan Sunblade perlahan‑lahan, seolah‑olah takut dikurung makna yang belum terungkap.
"Kitab ini berbicara dalam bahasa yang tidak hanya ditulis, melainkan diproyeksikan melalui energi ley‑line," ucap Maelon, suaranya berderak‑derak seperti gemericik aliran air di bawah batu. "Jika kita dapat merasakan resonansi di antara huruf‑hurufnya, kita akan menemukan cara menyebarkan cahaya ke seluruh Eldoria."
Lyra mencondongkan kepalanya, matanya menyapu teks yang tampak berdenyut pada tiap baris. "Ada pola—seperti detak jantung. Setiap tiga baris, energi menurun, kemudian naik secara dramatis. Bukan sekadar tulisan, melainkan ritme magis."
Dian menekan jari‑jarinya pada permukaan hologram Sistem yang melayang di belakang punggung. Sebuah sinar biru tipis menyebar, menggambarkan fluks energi di ruang itu. "Saya mendeteksi titik fokus di tengah buku—sebuah nexus yang terhubung ke menara itu sendiri. Jika kita mengaktifkannya, menara akan memancarkan energi ke langit-langit."
Kael menatap mereka, lalu menatap menara yang menjulang di luar jendela kaca kristal. "Kita butuh jaminan. Jika hal ini salah, seluruh El'goroth bisa runtuh."
Sementara mereka berdebat, suara lembut berderak di lorong, seolah‑olah menembus dinding-dinding batu. Sebuah siluet besar muncul dari cahaya ungu yang menetes dari celah-celah atap. Wajahnya terbalut cahaya perak, mata berkilau seperti bintang yang baru lahir. Aeralis, penjaga Eldoria, berdiri di depan mereka—badan setengah iblis, setengah dewa, dengan sayap kristal yang bergetar pada setiap desah napasnya.
"Pengunjung," suara Aeralis menggema, "kalian menapaki jalan yang dipilih oleh ribuan generasi. Kitab El'goroth bukan sekadar pengetahuan; ia adalah janji. Jika niat kalian murni, aku akan menguji kalian. Jika tidak, bayangan akan memperparah kalian terlebih dahulu."
Kael mengangkat Sunblade sedikit, lalu menurunkan pedangnya, menandakan ketundukan. "Kami di sini untuk melindungi Eldoria, bukan menguasainya. Kami memerlukan cahaya itu untuk menumpas bayangan yang berkuasa di ujung dunia."
Aeralis mengangguk, lalu melayang ke atas meja. Tangannya menyentuh halaman terbuka, dan huruf‑huruf itu berkilau, berubah menjadi aliran energi yang berwarna ungu keemasan. "Ritual ini disebut Penyatu Penyainaran . Tiga langkah—kesadaran, persekutuan, dan pengorbanan. Setiap anggota harus mengikat diri pada satu aliran ley‑line."
Maelon menutup matanya, mengalihkan pikirannya ke jaringan leylines yang ia kenal sejak kecil. "Aku mengikat diriku di Ley‑Strand Utara; energi mengalir melalui nadiku, menenangkan getaran menara."
Lyra mengangkat tangannya, mata birunya menelan cahaya. "Aku menghubungkan diri ke Ley‑Strand Timur—puncak observasi, tempat para peramal menatap masa depan. Aku akan menyiapkan mata strategi kami, menebak gerakan bayangan."
Dian mengaktifkan Sistem secara total, memproyeksikan hologram jaringan ley‑line yang melingkupi seluruh kota. "Aku menjadi titik pusat. Aku akan mengalirkan data, menjaga ketertiban, memastikan tidak ada kecacatan dalam aliran."
Akhirnya Kael memegang Sunblade di depan dada, menggerakkan pedang searah matahari terbenam yang muncul melalui jendela menara. "Aku mengikatkan diriku ke Ley‑Strand Selatan—pemusnah kekuatan, di mana api tanah yang menyerang. Dengan Sunblade, aku akan memfokuskan cahaya menjadi sinar yang menembus kegelapan."
Saat keempatnya memegang tangan, energi berkelok‑kelok mengalir di antara mereka, menyatu dalam spiral berwarna zaitun dan emas. Aeralis memperkuat cahaya dengan sayapnya. Lampu-lampu di menara berpendar lebih terang, menembus jendela-jendela kristal dan mengirimkan serangkaian cahaya yang menarik ke seluruh El'goroth.
Namun, di luar menara, di antara bayang‑bayang senja, segerombolan siluet hitam bergetar. Saat mereka menatap ke arah menara, seberkas cahaya muncul dari pusat buku—sebuah lingkaran berwarna merah menyala yang berputar seiring setiap langkah energi mereka.
"Bayangan telah merasakan perubahan," bisik Lyra, suaranya bergetar. "Mereka tidak akan tinggal diam."
Aeralis menatap mereka, matanya menyiratkan pengertian yang dalam. "Mereka menunggu. Inilah ujian pertama kalian—menyalakan cahaya, lalu melindunginya. Jika kalian gagal, bayangan akan menyusup ke dalam kata‑kata kitab itu, mengubahnya menjadi petunjuk kelam."
Dengan Sunblade bersinar di dadanya, Kael menatap ke luar, melihat gelombang gelap yang menebar selaput di antara menara dan langit. "Kita tidak punya pilihan," katanya, "kita harus melawan sebelum mereka menyerap cahaya sepenuhnya."
Aeralis melangkah kembali ke kegelapan, meninggalkan gema sayapnya yang berderak. Ruangan kembali tenang, hanya terdengar desah ringan dari Sistem dan bisik lembut kitab yang kini terbuka di halaman baru—halaman yang bertuliskan Ritual Penyembuhan Bumi .
Kelompok itu bersiap, mengencangkan ikatan mereka pada ley‑line, menyiapkan diri untuk menghadap gelombang bayangan yang akan datang. Di atas mereka, menara El'goroth berpendar, menjadi mercusuar harapan sekaligus medan perang yang akan menentukan nasib Eldoria.
Mereka melangkah keluar, Sunblade bersinar lebih terang dari matahari, sementara bayangan di cakrawala menebar jari-jarinya yang gelap. Deru langkah mereka bergelombang di antara batu‑batu kuno, menandai dimulainya babak baru dalam kisah—babak di mana cahaya dan kegelapan akan bertarung dalam tarian tak terduga, demi napas terakhir Eldoria.
