Cherreads

Chapter 8 - Singularity Wings

Malam itu sekali lagi awan yang tersenyum tampak murung.

Mereka tidak ingin lagi menerangi siapapun dengan cahayanya.

Percikan garam menyapu aspal.

Membawa beberapa barang tak terpakai bersamaan dengan mereka.

Suara gelombang aneh bergemuruh dari kejauhan.

Memancarkan cahaya beberapa saat, tak lama kemudian cahaya itu kembali bersembunyi dari pandanganku.

Beberapa orang dewasa terlihat sangatlah— muda, mungkin?

Mereka keluar dari kotak itu, membawa ikan pari di genggaman salah satu pria dewasa. Sepertinya dia salah satu yang paling muda.

Aku tidak melihat dengan jelas, apakah itu ikan pari atau jenis ikan lain. Yang pasti ... aku menyukainya.

-

-

Si Ikan terbangun. Yah, mungkin sudah banyak yang terjadi setelah terakhir kali aku menyatakan perasaanku pada—

Uhm...

Saat itu tidak ada yang mendengar, kan?

Aku heran apakah partikel virtual ini benar-benar ada.

Jika iya, aku khawatir seluruh rahasia manusia akan dibongkar oleh mereka.

"Ah, kau sudah bangun."

Matanya, aku masih mengingatmu. Tidak salah lagi ini adalah jenis ikan langka.

"Hmm ... d-di mana aku?"

Sangat lucu melihat dia masih mengeluarkan liur di umur segini.

Yah ... hal ini memang wajib bagi ikan muda yang belum dewasa.

"H-hah ... s-si-siapa kau!?"

"Aku teman masa kecilmu?"

"Teman masa kecil? Tunggu sebentar, saya harus mengingat sesuatu."

"Sudah?"

"Kau ...

Kau...

Saya sepertinya pernah...

Biarkan saya berpikir..."

Sebentar ... kenapa aku tidur di pangkuannya? Dan kenapa aku merasakan sesuatu di kepalaku.

"M-maaf boleh saya berdiri?"

Wanita itu tersenyum, lalu berkata.

"Ada yang salah ya?"

Ah, tampaknya dia juga berkeringat.

"T-tidak kok, s-saya hanya tidak enak saja, hhh huh."

Tangan wanita itu terus menahan dahiku.

"Kepalamu panas dan berkeringat, sepertinya kau tidak bisa bangun sekarang. Biarkan aku memangkumu sebentar."

Tunggu sebentar kenapa dia sangat bersikeras menaruh kepalaku di atas...

Huh!? ti- ti- dak mungkin.

Et, sebentar, tunggu sebentar, aku rasa hanya akan ada hal buruk jika aku tidak menutup pikiranku.

Aku harus melakukannya dengan sekuat jiwa.

-

Kenapa dia mencoba kabur dariku? Tolonglah tahan sebentar, masih banyak orang! Aku janji tidak akan menjadikanmu ikan bakar sambal matah yang sangat lezat sama minumannya es teh manis ya pak! MALAH NGELAWAK!

Sebentar-sebentar, ini kasus serius. aku harus tetap menahan kepalanya menutupi 'itu'-ku kalau tidak—

"Rahasiaku akan terbongkar."

"H-hah!?"

-

Aku tidak sanggup, kenapa, kenapa harus pakai kepalaku? Kenapa tidak pakai tanganmu saja! Itu cukup mudah dipikirkan! Tolonglah, aku tidak ingin mimpi buruk ini terus menghantuiku sampai hari tua.

-

"Tunggu ... kau itu ... siapa!?"

-

"Ya...?"

-

-

Yah, seingatku sih aku baru saja ditembak sama 'oknum' tak bertanggung jawab, mentang-mentang punya kuasa, menjarain orang sembarangan, tunjukin dong i****h-nya.

Itu kayaknya kasus lain.

Tapi, seingatku nih ya, seingatku.

"Pak untuk pasien satu ini gimana? Mau dihutangkan?"

"Hmmm, cih! suster, aku sudah bilang padamu kan? Cita-citaku menjadi dokter bukan untuk mengejar materi! tetapi ... perasaan bahagia orang lain saat melihat keluarga atau temannya sehat, itulah yang kucari!"

"Tapi sepertinya pasien kali ini tidak punya keluarga lagi."

"Oke, hutang dengan bunga tambahan satu persen setiap hari. Catat itu suster."

Saat itu semuanya terlihat gelap. Hanya aku dan telingaku yang menjadi saksi.

-

-

"Halo, kak!"

Ikan biasanya tidak mengedipkan mata, tapi kali ini ia bahkan tidak mengedipkan hidungnya.

Dia tampak syok.

Aku mengadahkan mataku ke langit, berharap hujan segera tiba, dan menusuk hatiku.

"Yah, siapa yang tidak syok melihat wanita dengan ****** di ***-nya?"

"****-nya?" Ikan itu bersuara.

"Eh."

"Eh."

"Kau ... si 'Sazha' bodoh dan menjijikan dari kelas B SMAN 3 itu kan?!"

Huft, syukurlah, kukira jenis ikan baru.

-

Sazha menaikkan tepi bibirnya. Kau pikir itu dia tersenyum atau dia kecewa?

Kecewa karena kau punya ***** ya?

Kupikir tidak keduanya.

-

-

Hutang, hutang, hutang~

"A-aku, d-di mana lagi ini!?"

Selamat datang di dunia hutang!

"K-kau hutangku?"

"Ya, aku hanya perwakilan dari saudara-saudaraku."

"Mereka ada seratus sebelas juta dua ratus dua puluh ribu lima ratus tiga puluh perak?"

"Ya, kau cukup bijak menggunakan kepalamu kali ini, manusia..."

"Aku hanya melihat surat utang yang besar di belakangmu itu."

"Huh?"

Dia beneran tidak tahu benda itu.

"Cih, seperti yang kuharapkan dari sampah peradaban."

"Oi, perhatikan mulutmu, tuan pemecah belah bangsa."

"Hah?"

Tunggu, kenapa dia bersikap seperti itu. Bukannya dia yang salah di sini?

"Cih, aku hanya mau menagih janjimu. Mana semua uang yang kau janjikan? Atau kau itu ... Penipu?"

"H-hah, m-mana ada p-penipu, aku t-tidak pernah menipu siapapun, jaga ucapanmu ya!"

"Lalu apa maksudnya ****, ****** *******, Sazha men****** ***** ****** teman sekelasnya, Sazha mengatakan ****** **** ****, Sazha berbuat baik ***** ***** **** ****** terbongkar, Sazha selalu ****** **** ****** ***, Sazha sebenarnya tidak pernah **** ****** **********, Sazha—"

Saat itu entah apa yang kulihat di bawah awan panas dan teriknya sinar mentari pagi yang sangat ceria di malam hari itu, seekor ikan terbang di atas dadaku, menggunakan mulutnya untuk mencekik leherku.

Hah, sejak kapan alat tukar punya leher? Bukannya ia hanya punya orang-orang "internasional"?

-

-

"Ya benar, kau dikeluarkan satu hari kemudian karena kau tidak punya apapun yang dimiliki oleh orang-orang 'internasional'."

Sang wanita memangku dagu dengan tangan putihnya.

Matanya tertuju pada ikan di dalam akuarium buatannya.

"Kurasa itu benar."

-

"Hhuuhhft..."

Mereka berdua menghela napas, meski kedua makhluk itu tidak setara satu sama lain.

"Lalu apa yang akan kau lakukan? Kau akan pergi ke atas?"

"Atas? Apa maksudmu?"

"Ikan terbang."

I-kan ter-bang...? Aku pernah mendengar kata-kata itu!

"K-kau j-jangan-jangan!?"

"Howh, jadi kamu sudah mengingatku?"

"Kau! Uang tanpa leher!"

"Payah."

-

-

Aku terbangun kembali, dan ****-nya masih terasa.

Dia sepertinya ketiduran saat aku berbicara tadi.

Aku tahu dia siapa, tetapi aku hanya diam, pura-pura tidak mengenalnya. Aku yakin ini yang diinginkannya.

Tidak ada manusia yang ingin bertemu kenalannya dalam keadaannya yang seperti ini.

Itu sudah cukup untuk menjadi kata-kata hari ini.

Meski aku yakin dia bahkan tidak peduli padaku, hanya menganggapku sebagai orang culun tanpa tanda kepriaan.

Tidak apa-apa, aku tidak dendam kepadamu.

Karena ... tidak ada manusia yang dapat mengenal orang itu, kecuali aku.

-

-

Suara angin terdengar, sebelum tertutup suara perut seseorang.

Dengan tangannya, pria itu menutupi perutnya.

"Rina, aku boleh minjam uang?"

"Mau berapa?"

"Buat makan, paling dua puluh ribu aja."

"Dompetku kutinggal di kamar. Aku akan mengambilnya."

Wanita itu berdiri dari duduknya. Berjalan ke arah kamar tempat ia dirawat. Ia berjalan. Setelah dua langkah, ia berhenti lalu menoleh ke arah seorang pria di belakang.

"Apa kau mau ikut?"

"A-apakah harus ikut?"

Wanita itu mengangguk.

Dahi pria di hadapannya mengerut.

"O-oke, a-ayo."

-

-

Sepasang wanita dan pria dengan pakaian pasien, mereka berdiri di depan sebuah pintu kamar. Wanita itu menggunakan tangannya untuk mendorong pintu. Mereka berjalan masuk. Itu hanyalah kamar pasien biasa, tidak ada yang spesial.

"Tunggu sebentar," ucap si wanita.

Wanita itu berjalan ke arah salah satu tirai, memasuki tirai itu, dan tak lama ia kembali. Wanita itu memiliki sebuah dompet beruang di tangannya. Ia membuka sang beruang, mengambil beberapa lembar uang berwarna ungu.

"Ini tiga puluh ribu," ucap wanita itu sambil mengulurkan tiga lembar uang ke arah si pria.

"A-apa ini tidak apa?" tanya si pria, satu cairan mengalir di dahinya.

"Ya, tapi kau harus mengembalikannya nanti."

"B-baiklah, terima— terima kasih, Rina."

"Ya, sama-sama." Wanita itu tersenyum.

"Apa kau akan membeli makan sekarang?" tanya si wanita.

"Ah, maaf, apa kau mau menitip juga sekalian?"

"Ya, tapi kau mau beli makan di mana? Di sekitar sini hanya ada warteg dan ayam kentucky."

"Oh, kalau kau mau beli apa? Aku ngikut aja."

"Aku mau beli ayam kentucky satu sama nasi."

"Oke, aku pergi dulu, ya."

"Ya, hati-hati."

Si pria melangkah keluar dari kamar, menuju toko ayam kentucky.

-

-

Si pria sudah menginjak aspal.

Ia berjalan di pinggir jalan.

Ia menginjak kemasan sabun.

Setelahnya ia menginjak kemasan biskuit.

Kemudian dia menginjak botol plastik.

Ia masih menginjak beberapa, setiap tiga sampai lima langkah sekali.

Sudah lebih dari dua puluh langkah.

Pria itu berjalan ke arah seorang wanita tua yang sedang menyapu halaman tokonya.

"Bu, maaf, di dekat sini ada yang jualan ayam kentucky– ayam fried chicken gak?"

"Oh, ada-ada! Coba kamu lurus terus nanti ada gang di sebelah kiri, dari situ udah keliatan tuh yang jualan ayam fried chicken-nya," ucap si ibu, sambil menunjuk-nunjuk ke arah sebuah gang.

"Oh, oke bu, makasih ya." Pria itu tersenyum, kemudian melangkah kembali.

"Iya-iya, sama-sama."

Pria itu berjalan beberapa langkah hingga tiba di depan sebuah gang.

Ia melihat toko itu, dengan tulisan Fried Chicken di spanduk tokonya.

Pria itu melangkahkan kakinya, menginjak aspal tanpa darah tikus.

Sambil berjalan, ia melihat ke bawah.

"...Dari mana si kampret itu mendapatkan uang?"

-

-

"Aku bekerja," jawab wanita itu sambil melipatkan kedua tangan di depannya.

Wanita itu memalingkan matanya dari pria di hadapannya.

Wanita itu kembali menatap pria di hadapannya.

"Kenapa? Ada yang salah?"

"M-memangnya kau kerja apa?"

Pria itu menatap lantai kamar.

Si wanita membalikkan badannya, berjalan menuju jendela di depannya.

"Yah, bukan pekerjaan mahal, dan bukan juga kerjaan kantoran...

...Aku membuat sebuah ~game~ sendiri."

Wanita itu membalikkan kembali badannya ke arah si pria.

Pria dihadapannya masih menatap lantai, terdengar suara ludah yang tertelan.

"Owh, kau buat game? Game apa?"

"Hmmm ... bukan game yang bagus sih, aku hanya mencoba sebisaku...

...Kira-kira game seperti metroidvania dan aku juga buat beberapa visual novel."

"Kau selama ini kuliah IT?"

"Iya..."

Wanita itu tiba-tiba menghindarkan tatapannya.

"...Iya, mungkin."

More Chapters