Cherreads

Chapter 5 - Chapter V Awestern II

Bab 5

​Teror yang dibawa oleh pemuda itu instan membekukan sisa kehangatan di ruang kerja Aeon. Sapi dan domba, aset paling berharga bagi para petani yang baru saja kehilangan ladang mereka kini dibantai habis tanpa sisa.

​Jika masalah ini dibiarkan, keputusasaan akan kembali mencekik Vesthall sebelum tambang tua bahkan sempat menghasilkan sekeping perak pun.

​

​Aeon menatap pemuda yang gemetar di lantai, lalu mengalihkan pandangan tajamnya kepada ksatria berbadan tegap di sampingnya.

​"Sir Tyeo," panggil Aeon, suaranya tenang namun menyimpan otoritas yang menuntut tindakan cepat.

"Ambil tiga penunggang kuda terbaikmu. Pergi ke sektor selatan sekarang juga. Aku tidak ingin ada spekulasi liar yang menyebar di antara penduduk. Cari tahu apa yang sebenarnya menyerang ternak-ternak itu."

​Tyeo mengepalkan tangan di dada zirahnya, memberikan penghormatan militer yang mantap.

"Segera, My Lord. Saya akan memastikan tidak ada satu detail pun yang lolos."

​"Bawa obor tambahan dan tetap waspada. Jika ini adalah monster, jangan terlibat pertempuran sendirian. Cukup amati dan laporkan kembali," tambah Aeon.

​Dengan anggukan cepat, ksatria itu berbalik dan melangkah pergi, langkah kakinya yang berat berdenting di sepanjang koridor kastil yang sunyi.

​

​Satu hari berlalu dengan ketegangan yang merayap di setiap sudut Vesthall. Pendaftaran pekerja tambang yang diurus oleh Jenn berjalan lancar, namun bisik-bisik ketakutan tentang monster penghisap darah di sektor selatan mulai membuat para penduduk enggan keluar rumah setelah matahari terbenam.

​Sore berikutnya, sebuah surat yang dibawa oleh merpati pos tiba di meja kerja Aeon. Surat itu dikirim langsung oleh Tyeo dari pos perbatasan selatan.

​Aeon memecahkan segel lilin polosnya dan membaca baris demi baris tulisan tangan Tyeo yang kasar namun padat.

​

​Kondisi Korban: Terdapat 15 bangkai sapi dan domba. Semuanya kehabisan darah dengan luka robek besar di bagian leher, seolah arteri mereka sengaja diincar.

​Identifikasi Pelaku: Jejak kaki di lumpur mengonfirmasi bahwa ini bukan ulah monster bayangan, melainkan kawanan Dire Wolves (Serigala Raksasa) liar yang bermigrasi dari lereng gunung utara.

​Prediksi Perilaku: Kelaparan membuat mereka agresif. Mereka telah membuat sarang sementara di batas hutan pinus selatan dan diprediksi akan kembali menyerang pemukiman malam ini untuk mencari mangsa baru.

​Aeon meletakkan surat itu, jemarinya mengetuk meja mahoni secara berirama. Dire Wolves. Di dalam game, kawanan serigala ini biasanya menjadi misi sampingan tingkat rendah untuk para petualang pemula.

Namun, bagi wilayah Vesthall yang pertahanannya sedang keropos, kawanan predator ini bisa menjadi mimpi buruk yang nyata.

​

​"Kita tidak bisa hanya bertahan dan menunggu mereka menyerang," gumam Aeon.

​Dia berdiri, menatap peta taktis wilayah Vesthall yang terbentang di mejanya. Tangannya menunjuk ke titik merah yang menandai perbatasan hutan pinus selatan.

​"Jenn, kumpulkan seluruh prajurit garnisun yang tersisa di kastil," perintah Aeon tanpa ragu.

​"My Lord?" Jenn memiringkan kepalanya sedikit, sepasang matanya yang sedalam malam menatap Aeon dengan rasa ingin tahu yang dingin.

"Apakah Anda berniat memimpin perburuan ini?"

​"Aku akan membiarkan Tyeo memimpin taktik di lapangan, tetapi aku akan ikut mengawasi dari garis belakang," jawab Aeon, matanya berkilat di balik bayang-bayang lampu minyak.

​

​Patroli Aktif: Membagi prajurit garnisun menjadi tiga regu patroli untuk memblokade akses masuk ke pemukiman warga.

Menggunakan sisa bangkai ternak yang diolesi racun bius ringan untuk memperlambat gerakan kawanan serigala. Tyeo dan para ksatria terbaik akan menyergap kawanan dari arah belakang begitu mereka terpancing keluar dari hutan.

​"Jika kita membiarkan serigala-serigala itu hidup, tambang kita tidak akan pernah aman, dan rakyat akan kehilangan kepercayaan padaku. Sampaikan perintah ini pada Tyeo. Kita berangkat begitu bulan mencapai puncaknya."

​"Dimengerti, My Lord," Jenn membungkuk khidmat, sebelum tubuhnya perlahan menyatu dengan bayangan di sudut ruangan dan menghilang tanpa suara.

​

​Malam semakin larut. Di halaman kastil, suara denting senjata dan tapak kaki kuda mulai terdengar saat para prajurit bersiap untuk berangkat berburu.

Aeon sedang mengenakan pelindung dada kulitnya ketika pintu ruang kerja diketuk dengan sangat perlahan, ketukan yang tidak biasa, seolah pembawa berita di balik pintu sedang menahan napasnya.

​Jenn melangkah masuk. Namun, kali ini ekspresi wajahnya yang biasanya datar dan tanpa emosi tampak sedikit menegang.

​Di atas nampan perak yang dibawanya, tidak ada cangkir teh hangat atau laporan pajak. Hanya ada selembar surat yang terbuat dari perkamen mahal berwarna putih gading, diikat dengan pita sutra hitam dan disegel menggunakan lilin berwarna merah darah.

​Stempel pada lilin itu berbentuk bunga mawar es yang mekar di atas belati yang patah.

​Crest dari House Holtingster.

​"My Lord," suara Jenn terdengar lebih rendah dari biasanya, hampir seperti bisikan peringatan.

"Sebuah kiriman khusus baru saja tiba dari ibu kota barat melalui kurir sihir tercepat."

​Jantung Aeon berdegup kencang. Ingatan dari game yang tersimpan di kepalanya mendadak berputar liar, memunculkan satu nama yang paling dihindari oleh setiap karakter figuran yang ingin bertahan hidup.

​Duchess Charlotte Holtingster.

​Sang "Ice Duchess" yang dingin, kejam, dan merupakan salah satu tokoh kunci dalam faksi politik kekaisaran.

Dalam plot asli game, wanita inilah yang nantinya akan menandatangani surat perintah eksekusi mati untuk Lord Aeon Awestern atas tuduhan pengkhianatan wilayah.

​Aeon mengambil surat itu dengan tangan yang mendadak terasa dingin. Begitu dia memecahkan segel mawar es tersebut dan membuka lipatannya, aroma parfum mawar yang mahal dan tajam langsung menusuk indra penciumannya bersamaan dengan sebaris kalimat pembuka yang ditulis dengan tinta emas yang elegan namun mengancam:

​"Kepada Lord Aeon Awestern yang terhormat.

​Aku mendengar bahwa Vesthall sedang mengalami... kesulitan kecil. Kuharap kau belum mati kelaparan, karena aku akan tiba di kastilmu dalam waktu tiga hari untuk menagih janji yang belum kau selesaikan..."

Bersambung.

More Chapters