Qin Tianyang mulai menjalankan rencananya dengan ketelitian seorang pemahat. Ia tahu bahwa ayahnya, Tuan Wang, adalah seorang kultivator tingkat tinggi yang memiliki insting tajam terhadap ancaman langsung. Maka, serangan itu tidak boleh datang dari pedang, melainkan dari dalam cawan perak yang selalu terisi penuh.
Racun yang Tersembunyi dalam Bakti
Setiap malam, Qin Tianyang mengunjungi kediaman ibunya, Nyonya Mei, di paviliun terpencil. Di sana, di bawah cahaya lilin yang redup, ibunya yang merupakan ahli botani dan obat-obatan kuno, membantu putranya meracik sesuatu yang tak berbau dan tak berwarna.
"Ini bukan racun yang membunuh seketika, Tian'er," bisik Nyonya Mei sambil menyerahkan serbuk halus dari kelopak bunga GHOST EMBRACE. "Ini akan menyatu dengan qi miliknya, membuat jalur energinya mengeras perlahan seperti batu. Ia akan merasa lebih kuat di awal, namun esensinya akan membusuk dari dalam."
Qin Tianyang menerima serbuk itu dengan tangan dingin. "Terima kasih, Ibu. Dia harus merasakan bagaimana rasanya kehilangan segalanya saat dia merasa berada di puncak dunia."
Sandiwara Anak Kebanggaan
Keesokan harinya, Qin Tianyang kembali ke sisi ayahnya. Ia membawakan arak terbaik yang telah dicampur dengan dosis yang sangat kecil. Dengan gerakan yang sangat sopan dan penuh hormat, ia menuangkannya untuk Tuan Wang.
"Ayahanda, hamba menemukan arak ini di gudang rahasia Lin Feng. Konon, ini bisa mempercepat sirkulasi tenaga dalam," ucap Qin Tianyang sambil bersujud rendah.
Tuan Wang menyesap arak itu, matanya terpejam menikmati sensasi hangat yang menjalar. "Luar biasa! Kau benar-benar anak yang berbakti, Tian'er. Dulu... aku mengaku salah karena membuang mu. Aku pikir kau hanya sampah yang tidak berguna, tapi ternyata kau adalah mutiara yang terpendam."
Tuan Wang tertawa bangga, menepuk-nepuk bahu putranya. Ia tidak menyadari bahwa setiap tepukan itu adalah langkah menuju kuburannya sendiri. Ia merasa sangat perkasa, tanpa tahu bahwa "anak kebanggaannya" sedang menghitung hari hingga jantung ayahnya berhenti berdetak.
Percakapan di Singgasana
Suatu sore, saat matahari terbenam menyinari aula klan yang baru, Tuan Wang duduk di singgasana sambil memandangi wilayah kekuasaannya yang luas. Qin Tianyang berdiri diam di bayang-bayang pilar, seperti anjing penjaga yang setia.
"Tian'er," panggil Tuan Wang dengan nada emosional yang jarang ia tunjukkan. "Setelah aku tiada nanti, semua ini akan menjadi milikmu.
Kau telah membuktikan bahwa darah Wang mengalir kuat di nadimu. Tidak ada satu pun dari saudaramu yang lain yang bisa menandingi kelicikan dan loyalitasmu."
Qin Tianyang tersenyum tipis sebuah senyum yang disalahartikan Tuan Wang sebagai rasa bangga. "Hamba hanya melakukan apa yang seharusnya dilakukan oleh seorang putra, Ayahanda. Hamba ingin Ayahanda melihat dunia ini dari puncak tertinggi sebelum... beristirahat selamanya."
Celah di Formasi Penjara
Sementara itu, efek dari "kebaikan" Qin Tianyang mulai terasa hingga ke penjara. Karena Tuan Wang sangat mempercayai putranya, pengawasan di penjara bawah tanah sedikit melonggar atas perintah "terselubung" Qin Tianyang dengan alasan penghematan energi klan.
Ye Chen dan tiga murid lainnya menyadari bahwa tekanan dari Formasi Sembilan Lapisan mulai berdenyut tidak stabil. Ada getaran frekuensi yang sengaja dikirimkan Qin Tianyang melalui aliran energi klan untuk memberi mereka ruang bernapas.
Kondisi di penjara bawah tanah mulai berubah secara drastis namun sunyi. Suatu sore, denting nampan perak menggantikan bunyi kasar mangkuk kayu yang biasa dilemparkan penjaga.
Jamuan di Balik Jeruji
Keempat murid itu tertegun saat melihat nampan yang disodorkan melalui celah bawah sel. Alih-alih bubur basi dan air kotor, di hadapan mereka kini tersaji daging panggang yang masih hangat, roti gandum segar, dan buah-buahan. Aroma lezat itu sempat membuat mereka ragu, mengira ini adalah "jamuan terakhir" sebelum eksekusi.
Namun, Ye Chen yang paling waspada, segera menyadari sesuatu. Saat ia mengangkat piring dagingnya, ia menemukan selembar kertas kecil yang sangat tipis terselip di balik alas kain nampan tersebut.
Pesan-Pesan Tersembunyi
Ia segera memberi kode kepada Xuanyin dan dua murid lainnya untuk mendekat. Dengan suara berbisik, mereka membaca pesan singkat yang ditulis dengan tinta yang hanya muncul di bawah cahaya redup obor penjara:
"Makanlah untuk memulihkan qi kalian. Setiap suapan mengandung ekstrak tanaman Sun-Root untuk menetralisir efek penyerapan energi dari formasi ini."
Keesokan harinya, di bawah mangkuk sup, pesan baru kembali muncul "Aku masih menjadi bayangan di samping pria tua itu. Jangan tunjukkan kekuatan kalian yang mulai pulih. Tetaplah terlihat lemah dan sekarat di depan penjaga lain."
Dan hari berikutnya, pesan itu menjadi lebih spesifik
"Tuan Wang mulai membusuk dari dalam. Saat ia kehilangan kendali atas sirkulasi energinya, Formasi Sembilan Lapisan ini akan melemah. Bersiaplah pada malam bulan purnama."
Harapan yang Bersemi Kembali
Penderitaan fisik mereka perlahan berkurang. Tubuh mereka yang tadinya kurus kering mulai berisi kembali, meski mereka sengaja mengoleskan debu dan kotoran pada wajah agar tetap terlihat menderita di mata mata-mata Tuan Wang.
Harapan yang sempat mati kini menyala kembali. Mereka mulai mengerti bahwa Qin Tianyang tidak sedang berpaling dari mereka; ia sedang memainkan peran paling berbahaya dalam hidupnya untuk menghancurkan musuh mereka dari puncak tertinggi.
Sementara itu, di atas sana, Tuan Wang terlihat semakin bangga pada "putranya", tidak menyadari bahwa setiap makanan mewah yang ia izinkan untuk dikirim ke penjara (atas saran "ekonomis" Qin Tianyang agar tahanan tidak mati sebelum diinterogasi) adalah paku tambahan untuk peti matinya sendiri.
Tuan Wang mulai batuk darah hitam saat sedang berlatih tanding dengan Qin Tianyang.
Kecurigaan itu datang dari Wang Shuo, putra tertua Tuan Wang yang merasa posisinya sebagai pewaris mulai terancam oleh kehadiran Qin Tianyang.
Wang Shuo adalah seorang pria yang kasar dan penuh emosi, namun ia memiliki insting binatang yang tajam terhadap pengkhianatan.
Mata yang Mengawasi dari Kegelapan
Wang Shuo berdiri di balkon lantai atas, memperhatikan Qin Tianyang yang baru saja keluar dari area penjara bawah tanah dengan langkah tenang. Ia menyipitkan matanya, memutar-mutar cincin giok di jarinya.
"Anak selir itu..." gumam Wang Shuo kepada pengawal pribadinya. "Dia terlalu sempurna. Terlalu penurut. Tidak ada manusia yang dibuang selama belasan tahun lalu kembali dengan rasa bakti sebesar itu, kecuali dia sedang merencanakan sesuatu."
Kecurigaannya memuncak saat ia memeriksa laporan logistik dapur. Ia menemukan adanya pengeluaran bahan makanan berkualitas tinggi daging rusa dan rempah pemulih yang dikirim ke penjara bawah tanah atas perintah Qin Tianyang.
Konfrontasi di Lorong Istana
Malam harinya, saat Qin Tianyang berjalan menuju paviliun ibunya, Wang Shuo menghadangnya di lorong yang sepi. Di belakangnya berdiri dua pengawal tingkat tinggi.
"Ada apa dengan menu makanan di penjara, Adikku tersayang?" tanya Wang Shuo dengan nada mengejek. "Aku tidak tahu sejak kapan Klan Wang menjadi yayasan amal bagi sampah-sampah dari sekte Lin Feng. Apakah kau mencoba menjalin persahabatan dengan mereka di balik punggung Ayah?"
Qin Tianyang tidak menunjukkan kepanikan sedikit pun. Ia langsung membungkuk hormat, serendah mungkin, menunjukkan gestur "anjing yang patuh" yang selama ini ia mainkan.
"Kakak Besar, Anda salah paham," jawab Qin Tianyang dengan suara tenang namun tegas. "Ayahanda menginginkan informasi tentang sisa-sisa harta terpendam Lin Feng. Jika mereka mati karena kelaparan sebelum membuka mulut, kita akan kehilangan ribuan batu roh. Aku memberi mereka makanan agar nyawa mereka bertahan sedikit lebih lama untuk disiksa secara mental."
Benih Keraguan
Wang Shuo maju satu langkah, mencengkeram kerah baju Qin Tianyang. "Kau bicara manis, tapi matamu dingin. Aku akan melaporkan keanehan ini pada Ayah besok pagi. Kita lihat apakah dia masih menganggap mu 'putra kebanggaan' setelah tahu kau memberi makan musuh-musuhnya dengan daging rusa."
Qin Tianyang hanya tersenyum tipis, sebuah senyum yang membuat bulu kuduk Wang Shuo berdiri. "Silakan, Kakak. Ayahanda sangat membenci orang yang mencoba merusak kegembiraannya saat ini. Jika laporanmu tidak terbukti, Ayah mungkin akan berpikir Anda hanya cemburu pada keberhasilanku."
Wang Shuo melepaskan cengkeramannya dengan kasar dan pergi sambil mendengus marah. Namun, Qin Tianyang tahu waktu permainannya semakin sempit. Ia harus mempercepat dosis racun untuk ayahnya sebelum Wang Shuo berhasil mengumpulkan bukti yang lebih nyata.
Sore itu, suasana istana begitu tenang. Qin Tianyang sedang berjalan santai di taman samping bersama ayahnya, Tuan Wang, untuk menghirup udara segar. Tuan Wang tampak sedikit pucat, sesekali terbatuk kecil efek dari racun yang selama ini diberikan Qin Tianyang secara halus.
"Kau anak yang baik, Tian'er. Menemaniku jalan-jalan seperti ini membuat perasaanku lebih baik," kata Tuan Wang sambil bersandar pada tongkatnya.
"Ini sudah menjadi kewajiban hamba, Ayahanda," jawab Qin Tianyang dengan senyum rendah hati.
Saat mereka melewati sayap bangunan tempat kamar Wang Shuo berada, Qin Tianyang tiba-tiba berhenti. Matanya menatap ke arah jendela kamar kakak tirinya yang terbuka sedikit.
PRANGG!
Suara benda pecah yang sangat keras terdengar dari dalam kamar Wang Shuo. Seolah-olah ada seseorang yang sedang menggeledah atau menyembunyikan sesuatu dengan terburu-buru. (Padahal, itu adalah tikus mekanisme kecil yang sudah disiapkan Qin Tianyang sebelumnya).
"Suara apa itu? Shuo'er seharusnya sedang berada di tempat latihan," dahi Tuan Wang berkerut.
Ia memberi isyarat pada pengawal pribadi untuk mendekat. "Ayo kita periksa."
Penemuan yang Mengejutkan
Dengan rasa ingin tahu yang dipaksakan, Qin Tianyang mengikuti ayahnya masuk ke dalam kamar. Ruangan itu tampak sedikit berantakan, beberapa laci terbuka.
Di lantai, dekat meja rias, terdapat sebuah kotak kecil yang terjatuh dan isinya berserakan.
Salah satu pengawal memungut sebuah botol porselen kecil berwarna hitam yang menggelinding ke arah kaki Tuan Wang.
"Tuan Besar... ini..." Pengawal itu ragu, namun segera menyerahkan botol itu.
Tuan Wang membuka tutup botolnya dan seketika wajahnya berubah menjadi sangat merah, lalu memucat. Bau pahit yang khas keluar dari sana bau yang sama dengan aroma "obat" yang belakangan ini membuatnya sering merasa sesak napas. Di dekat botol itu, juga ditemukan secarik kertas berisi catatan dosis racun yang telah dipalsukan oleh Qin Tianyang agar mirip tulisan tangan Wang Shuo.
Amarah yang Tak Terbendung
"JADI SELAMA INI...!" Tuan Wang berteriak hingga urat-urat di lehernya menonjol. Ia meremas botol itu hingga pecah di tangannya. "Dia tidak sabar menunggu aku mati secara alami? Dia ingin mempercepat kematianku?!"
Qin Tianyang menutup mulutnya dengan tangan, menunjukkan ekspresi keterkejutan yang luar biasa.
"Tidak mungkin... Kakak Besar tidak mungkin melakukan ini. Pasti ada penjelasan lain, Ayahanda! Mohon jangan terburu-buru menghakimi!"
Kata-kata Qin Tianyang yang seolah membela Wang Shuo justru semakin membakar amarah Tuan Wang. Baginya, pembelaan itu membuat Qin terlihat sangat tulus, sedangkan Wang Shuo terlihat seperti monster yang haus kekuasaan.
"Diam, Tian'er! Buktinya ada di depanku!" Tuan Wang memuntahkan sedikit darah hitam karena emosinya yang memuncak mempercepat reaksi racun di tubuhnya.
"Tangkap Wang Shuo sekarang juga! Jebloskan dia ke penjara paling bawah! Jangan biarkan dia melihat matahari lagi!"
Kehancuran Sang Pewaris
Wang Shuo, yang sedang berlatih pedang di lapangan, tiba-tiba dikepung dan diseret oleh pasukan ayahnya sendiri tanpa tahu apa kesalahannya. Saat ia dibawa melewati taman, ia melihat Qin Tianyang berdiri di samping ayahnya yang sedang ditenangkan.
Qin Tianyang menatap kakaknya dengan mata yang berkaca-kaca seolah merasa sedih, namun tepat saat mata mereka bertemu, Qin memberikan kedipan mata yang sangat tipis dan dingin. Di saat itulah, Wang Shuo menyadari bahwa ia telah kalah telak tanpa sempat menarik pedangnya.
Kini, Wang Shuo dilemparkan ke sel penjara yang dingin, bertetangga dengan keempat murid Lin Feng yang ia hina sebelumnya.
