"Protokol darurat?"
"Itu sudah dijalankan yang mulia, para prajurit sudah mulai mengevakuasi para bangsawan dan para pejabat istana."
Mendengar perkataan Vali, pria paruh baya itu menjawab dengan ragu. Kenapa raja menanyakan pertanyaan sepele seperti itu?
"Haa?"
Tanpa sadar, aku menaikan alisku, merasa sedikit bingung saat mendengar ucapan orang itu.
Apa apaan! Mengevakuasi bangsawan dan pejabat istana? Kenapa prajurit kerajaan harus melakukan itu!? Para bangsawan jelas memiliki hak untuk mengelola pasukan mereka sendiri, mereka tinggal menggunakan pasukan mereka untuk mundur!
"Kau bilang para prajurit sedang mengevakuasi para bangsawan, kenapa mereka melakukan itu!?"
"Disaat seperti ini, bukankah keselamatan warga sipil menjadi prioritas utama!?"
Aku menatap pria tua itu dengan kesal, menurut hukum yang aku ketahui di kehidupan sebelumnya.
Disaat kritis seperti perang atau bencana alam, semua lembaga pertahanan dan keamanan negara seperti militer, kepolisian, damkar dan lainnya akan memprioritaskan keselamatan warga sipil sebelum melakukan tindakan lain.
"Apa yang anda bicarakan, yang mulia?"
"Bukankah protokol darurat memang seperti itu? Hal ini sudah di ajarkan sejak para prajurit menjalani pelatihan."
Mendengar pertanyaan Vali, pria paruh baya itu bertanya tanpa sadar.
"Hah?"
Mendengar jawaban spontan itu , aku mengerutkan kening saat otak ku mencoba mencerna maksud perkataan pria tua itu.
Apa yang dikatakan pria paruh baya itu sangat aneh dan kontradiktif, membuatku sedikit kebingungan.
"Tsk, benar juga."
Namun, situasi itu tidak berlangsung lama karena aku akhirnya sadar kalau aku tidak lagi di zaman modern.
Di dunia ini, prajurit memang dilatih untuk mempertahankan kerajaan dari serangan musuh dan monster.
Tapi mereka tidak memiliki kewajiban untuk melindungi rakyat biasa. Di saat darurat seperti ini, mereka harus mematuhi semua perintah atasan yaitu pemerintah pusat atau bangsawan yang mereka layani.
Rakyat biasa hanya bisa mengandalkan diri mereka sendiri untuk tetap hidup.
Hal ini terjadi karena warga sipil belum memiliki nilai seperti di zaman modern.
Hanya segelintir warga sipil yang bisa membayar pajak dan sisanya adalah pekerja yang mengolah tanah milik para bangsawan.
Apalagi, belum ada gerakan reformasi atau revolusi apapun yang di lakukan rakyat biasa di dunia ini.
Mereka tidak memiliki suara apapun terhadap perkembangan politik kerajaan sehingga keberadaan mereka tidak terlalu penting bagi bangsawan.
Sederhana, rakyat biasa di dunia ini belum menyadari betapa berharganya diri mereka dan para elit kerajaan belum menyadari betapa mengerikannya jika rakyat biasa bersatu.
"Tapi tunggu dulu."
"Karena kau tau hal ini, kenapa tadi kau menghentikanku untuk pergi ke kota Blackstone?"
"Kau berbicara seolah warga biasa sangat berharga, apa maksudmu?"
Aku menatap pria paruh baya itu dengan tajam dan bertanya dengan suara rendah.
Orang tua ini mencurigakan, karena tahu kalau prajurit kerajaan tidak bisa membantu, kenapa dia memohon bantuan?
Ucapannya penuh kontradiksi, saat sebelumnya dia memohon pertolongan tapi kemudian mengucapkan sebuah fakta yang menyakitkan tanpa mengubah ekspresi.
"Aku..."
Seolah tersadar, wajah pria paruh baya itu tiba tiba berkeringat deras. Dia ingin mengatakan sesuatu namun suaranya tercekat seolah otaknya tidak mampu merespon perubahan situasi yang terjadi.
"Aku akan mengurusmu nanti, kalian semua, kembali ke aula pertemuan."
Dengan ekspresi muram, Vali kembali ke Royal Hall lalu duduk di singgasananya.
Tatapan pemuda itu menyapu semua orang di aula, menatap dingin ke arah beberapa penasihat lalu mengalihkan pandangannya ke arah para kesatria.
"Aku berubah pikiran. Kalian berlima, segera kerahkan pasukan kalian untuk mengevakuasi semua warga Aldora."
Ekpresi Vali melunak, lalu dia pun memberikan instruksi kepada sepuluh kesatria pelindungnya.
"Yang mulia, waktu kita tidak cukup."
"Kota Aldora memiliki lebih dari 10 ribu penduduk, jika kita membawa mereka mengungsi ke Blackstone, aku khawatir perjalanan kita akan menjadi sangat lambat!"
"Goblin pada musim dingin sangat ganas, kecepatan mereka lebih cepat dari biasanya. Aku kahwatir mereka akan menyusul kita!"
"Ya, yang mulia. Sebaiknya pikirkan keselamatanmu dulu."
"Para prajurit adalah aset berharga, kita tidak boleh mengorbankan mereka begitu saja!"
Sesaat setelah aku memberi perintah, beberapa penasehat langsung keberatan dan berkicau dengan ekspresi khawatir.
Mendengar suara suara itu, Aku memijat keningku dengan kesal.
Tentu saja aku tahu kalau prajurit adalah aset berharga, aku juga sangat menghargai hidupku lebih dari siapapun.
Tapi, di kehidupan sebelumnya, aku juga hanya rakyat biasa, seorang pemuda yang lahir dan besar di lingkungan rakyat biasa tanpa status dan kekuasaan.
Aku merasakan empati kuat terhadap mereka, bahkan jika dunia sudah memiliki langit dan tanah yang berbeda.
Apalagi doktrin para bangsawan yang menyamakan rakyat jelata dengan binatang sangat melukai ideologi yang aku yakini.
Semua manusia harusnya setara, kekebasan dan rasa aman adalah milik semua orang.
Tapi disisi lain, kenyataan bahwa jumlah goblin mungkin 2 kali lipat dari semua orang yang ada di kota ini membuatku tak berdaya.
Gelombang monster seperti Tsunami, bahkan dengan 5 penyihir level B pun mustahil di atasi tanpa pengorbanan.
[Ding!]
Saat dilema yang kurasakan semakin kuat, suara dentingan elektronik yang unik dari suasana di sekitar tiba tiba terdengar.
[La~la~]
Sebelum aku mencari tahu tentang suara itu, senandung lembut muncul di susul oleh alunan musik digital yang penuh semangat.
"Ini..."
Saat serangkaian suara itu terdengar, aku tertegun sejenak, mataku melebar tanpa disadari dan kepalaku berdengung seolah terkena sambaran petir di siang hari yang bolong.
Kemudian, ribuan titik cahaya muncul di depanku, perlahan menyatu menjadi layar semi-transparan.
[Selamat Sore, Presiden. Senang bertemu dengan anda, saya Lara, Ai yang akan mendampingi anda dalam membangun negara impian semua orang!]
Suara yang familiar, kalimat yang familiar, lalu gadis berambut biru yang familiar.
"Benar, aku tidak salah dengar."
"Musik tadi jelas intro dari game Simulasi Presiden yang kemarin malam aku mainkan!"
"Tapi apa artinya ini? Kenapa layar game muncul di sini? Sebenarnya apa ini?"
Menatap layar transparan dan gadis android mini di depanku, otakku bekerja secara maksimal untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Sebuah kemungkinan terlintas dalam benakku, tapi aku tidak ingin berekspektasi terlalu tinggi.
Aku memfokuskan pandangaku pada layar lalu ke sekeliling ruangan.
[Pak, saat ini ruang kepresidenan mengalami kerusakan, anda memiliki cukup sumber saya. Apakah anda ingin melakukan perbaikan?]
