Cherreads

Chapter 123 - Chapter 123

━━━━━━━━━━━━━━━━━━

🔥 CHAPTER 123 — "Alarm Dunia: Dua Suara, Dua Dewa, dan Satu Anak Bermasalah"

(MC: Damien Valtreos)

━━━━━━━━━━━━━━━━━━

🌑 ADEGAN 1 — Dunia Yang Bergerak Tanpa Izin Damien

Gua itu sudah hancur total.

Retakan lunar, bekas ledakan, dan aroma dingin kekosongan masih menggantung di udara.

Damien berdiri di tepi runtuhan sambil memegang dadanya—

tanda setengah bulan retak itu masih berdenyut lembut.

Rex menatap ke langit.

"Bro… kau yakin tanda itu nggak bakal ngirim laser ke langit atau semacam—"

BRAAAAK—!!!

Sebuah getaran mengguncang seluruh lembah.

Awan terbelah.

Cahaya hitam-perak muncul seperti retakan di langit.

Hana menelan ludah.

"…itu bukan cuma tanda. Itu… alarm dunia."

Zura langsung siaga, tangannya memegang belatinya.

"Jika langit pun bereaksi, maka ada sesuatu yang memperhatikan dari atas… atau dari luar."

Damien mendecak kecil.

"Bagus. Hari ini aku cuma mau istirahat, tapi langit memutuskan buat drama."

━━━━━━━━━━━━━━━━━━

🌘 ADEGAN 2 — Dewa Bulan di Kepalanya Buka Mulut Duluan

Tiba-tiba—

> "KAU LAGI?! KENAPA SETIAP AKU TIDUR SEBENTAR, KAU BIKIN KEKACAUAN BARU?!"

Teriakan itu muncul langsung dari dalam kepala Damien.

Begitu keras, begitu marah…

dan begitu familiar.

Damien memejamkan mata.

"…serius, kau bangun sekarang?"

> "AKU SUDAH TIDUR RIBUAN TAHUN! SETELAH BANGUN, YANG AKU LIHAT ADALAH—KAU—SEORANG ANAK PEMBANGKANG—DICAS SETENANG TETAPNYA!"

Damien mengangkat alis.

"Tenanglah, aku hanya dicap sebagai 'ancaman dunia'. Biasa."

> "ITU BUKAN BIASA!! ITU ADALAH TANDA YANG DIGUNAKAN DEWA UNTUK MENANDAI MUSUH ATAU—"

Suara itu berhenti.

Zura berkedip.

"…dia berhenti sendiri?"

Damien menghela napas.

"Dia sedang menghitung. Setiap kali marah, dia suka lupa kata-katanya."

> "—UNTUK MENANDAI SESUATU YANG HARUS DILINDUNGI. TAPI KAU?! KAU BUKAN BENDA YANG MUDAH DILINDUNGI, KAUPUNYA AURA ANEH—AH SIAL. AKU LUPA LAGI."

Damien menutup wajah dengan tangan.

"Ya Tuhan…"

Rex tertawa terbahak-bahak.

"BRO KAU BENERAN PUNYA DEWA YANG GAMPANG KESEL?"

> "AKU TIDAK GAMPANG KESEL! AKU HANYA—DIKUTUK MENJAGA ANAK YANG SUKA BIKIN MASALAH SETIAP 5 MENIT!"

Damien mengangkat bahu.

"Aku tidak meminta kau menjaga aku."

> "KAU TIDAK MINTA, TAPI AKU DIPAKSA ALAM SEMESTA UNTUK ITU! DAN AKU MASIH PROTES!"

Zura menatap kosong.

"…dewa bulan ini… lebih cerewet dari yang kubayangkan."

Rex mengangguk.

"Gila, suaranya kayak bapak kesal yang anaknya sengaja banting pintu tiap hari."

Damien: "…itu bukan analogi yang salah."

━━━━━━━━━━━━━━━━━━

🌒 ADEGAN 3 — Suara Misterius Ikut Muncul (dan Mereka Ribut)

Saat Dewa Bulan masih berkicau di kepala Damien—

Sebuah suara lain muncul.

Jauh lebih halus, tenang, dan… menusuk.

> "…kau ribut sekali. Tidak heran muridku ini tidak bisa berpikir tenang."

Damien langsung terdiam.

"Jangan bilang…"

Dewa Bulan:

> "KAU?! KENAPA KAU MUNCUL?!"

Suara Misterius:

> "Karena aku bosan mendengar teriakanmu. Dan karena anak ini butuh bimbingan, bukan konser teriakan."

Dewa Bulan:

> "BIMBINGAN?! KAU ITU PENJAGA MASA LAMPAU YANG GABUT, JANGAN SOK BIJAK!"

Suara Misterius:

> "Setidaknya aku tidak kehilangan akal setiap kali dia tersandung batu."

Dewa Bulan:

> "ITU SEKALI! DAN ITU BATUNYA CURANG!"

Rex menatap Damien.

"…bro… di kepalamu ada… dua dewa yang lagi berantem kayak bocil rebutan remote?"

Damien menutup mata.

"Ya. Setiap hari. Aku sudah kebal."

Hana tercengang.

"…mereka… benar-benar dua entitas berbeda?"

Suara Misterius menjawab tanpa diminta:

> "Aku adalah fragmen kehendak leluhur tertinggi… penjaga jalur aslinya."

Dewa Bulan menimpali:

> "Dan aku adalah dewa bulan yang TERPAKSA ngurus bocah ini! SEHARUSNYA GILIRANKU LIBUR!"

Damien mengangkat tangan.

"Bisa kalian berhenti sebentar? Dunia sedang panik karena tanda ini."

Kedua suara langsung diam.

Lima detik kemudian—

Dewa Bulan:

> "…itu salahmu."

Suara Misterius:

> "…aku setuju."

Damien: "AKU TIDAK MELAKUKAN APA-APA!!"

Rex hampir jatuh ke tanah karena menahan tawa.

Zura menutupi wajah, antara malu dan pasrah.

Hana sudah menyerah total.

━━━━━━━━━━━━━━━━━━

🌕 ADEGAN 4 — Kebangkitan Ranah Damien (Mortal Rein Realm)

Tiba-tiba tanda di dada Damien berdenyut keras.

BUM—!

Energi mengalir melalui tubuhnya seperti badai yang sedang belajar berbicara.

Damien mengerang.

"A—ah… sial…"

Dewa Bulan:

> "OHO?! KAU MENINGKAT LAGI?! KAU ITU CHEAT ATAU APA?!"

Suara Misterius:

> "Ini normal. Pintu pertama sudah terbuka."

Zura mendekat, siaga.

"Damien—napasmu berubah. Energinya… terkompresi."

Rex: "Bro mau meledak apa naik level?!"

Hana memusatkan formasi pelindung.

Energi hitam-perak meledak dari tubuh Damien,

mendarat di tanah seperti ribuan cahaya lunar yang terpecah.

> TINGKATAN NAIK — Spirit Manifest realm 10.

Damien terengah…

tapi berdiri tegak.

Rex langsung teriak:

"BROOOO SELAMAT DATANG DI DUNIA YANG LEBIH STRESS!!"

Zura menghela napas lega.

"Syukurlah kau tidak mati."

Hana tersenyum tipis.

"Cocok. Ranah ini… pas untuk perang panjang nanti."

Damien menatap langit.

Tanda itu berpendar—

dan cahaya hitam-perak dari langit Aurelion Haven menghilang perlahan.

Dewa Bulan:

> "…kau benar-benar menyebalkan."

Suara Misterius:

> "…tapi dia prospek terbaik yang pernah kita miliki."

Damien bergumam lirih:

"Aku bahkan belum sempat tidur. Semua ini terjadi dalam 30 menit."

Keduanya menjawab bersamaan:

> "Biasakan."

Damien: "TIDAK!"

Rex jatuh tertawa lagi.

Hana mengguncang kepala.

Zura menahan senyum.

Dan dengan itu, langkah baru Damien dimulai—

dengan dua dewa yang terus bertengkar di kepalanya,

dan dunia yang akhirnya menyadari ancaman:

bukan Damien yang berbahaya…

tapi sesuatu yang menandainya.

━━━━━━━━━━━━━━━━━━

🔥 END CHAPTER 123

━━━━━━━━━━━━━━━━━━

More Chapters