"Dalam informasi yang diberitahukan Qin Yuan tentang kultivasi, tingkat kultivasi di dunia ini memiliki banyak tahapan," gumam Zhu Tian dalam hati sambil menundukkan kepala sedikit. "Tingkat pertama adalah Qi Condensation, tingkat kedua Foundation Establishment, lalu Core Formation, dan seterusnya."
Pikirannya perlahan tenggelam dalam informasi yang baru saja ia peroleh. Dunia ini jauh lebih terstruktur daripada yang ia bayangkan, namun sekaligus terasa akrab. Seolah-olah semua yang ia baca dalam novel selama ini bukanlah khayalan semata, melainkan bayangan samar dari realitas yang kini ia pijak.
Untuk memasuki jalur kultivasi, seseorang harus menyiapkan fondasi tubuh yang kokoh—cukup kuat untuk menampung, menahan, dan menyerap energi spiritual dari langit dan bumi.
"Aku dulu sering melakukan olahraga yang lumayan ekstrem untuk melatih tubuh," desah Zhu Tian pelan dalam hati. "Aku berpikir, jika tubuhku cukup kuat dan sehat, mungkin aku bisa merasakan energi spiritual."
Kenangan itu kembali berputar di benaknya. Lari jarak jauh hingga tubuh gemetar, latihan pernapasan berjam-jam, memaksakan tubuh hingga batas maksimal. Semua itu ia lakukan demi satu tujuan yang bagi orang lain mungkin terdengar konyol.
"Tapi hasilnya nihil," lanjutnya dengan nada getir. "Aku mencoba merasakan energi spiritual dalam keadaan tubuh sehat dan bugar… namun tidak ada apa-apa."
Zhu Tian memang melakukan olahraga ekstrem karena terobsesi untuk menjadi seorang kultivator. Setiap novel kultivasi yang ia baca selalu membuat jantungnya bergetar. Entah kenapa, semua konsep di dalamnya terasa masuk akal baginya. Tidak seperti fantasi kosong, melainkan sesuatu yang hanya belum dipahami oleh manusia modern.
Zhu Tian percaya bahwa di dalam alam semesta ini terdapat suatu energi fundamental—energi yang menjaga keseimbangan kosmos, membuat bintang tetap beredar, hukum alam berjalan, dan realitas tetap stabil. Jika energi itu ada, maka kultivasi bukanlah sesuatu yang mustahil.
Perlahan, Zhu Tian keluar dari renungannya. Ia meraih sebuah gulungan yang ditulis di atas bilah bambu dan membukanya dengan hati-hati. Sebenarnya, ia bisa saja meminta Qin Yuan menjelaskan semuanya secara langsung. Namun jika ia melakukan itu, citra "senior" yang ia bangun akan runtuh.
Daripada meminta penjelasan langsung, Zhu Tian memilih meminta informasi dalam bentuk yang berbeda. Baginya, seorang senior seharusnya bersikap seperti ini—menerima laporan tertulis, seolah hanya ingin meninjau kembali dunia kultivasi pada zaman ini. Seperti entitas tingkat tinggi yang sekadar ingin memastikan sesuatu yang sudah lama ia ketahui.
Beberapa hal memang dijelaskan langsung oleh Qin Yuan, tetapi selebihnya dituangkan dalam gulungan bambu ini. Zhu Tian pun mengambil posisi meditasi di tempat duduknya, lalu mulai membaca dengan serius.
"Qi Condensation," gumam Zhu Tian dalam hati, mengulang penjelasan Qin Yuan, "adalah proses mengumpulkan, mengendalikan, dan memadatkan energi spiritual langit dan bumi ke dalam tubuh, hingga tercipta aliran energi yang stabil dan patuh pada kehendak kultivator."
Ia menarik napas perlahan.
"Proses memasuki Qi Condensation dimulai dengan menyerap energi spiritual secara paksa," baca Zhu Tian dari gulungan bambu itu. "Kemudian menarik energi spiritual ke dalam tubuh melalui setiap pori-pori. Energi spiritual tersebut tidak boleh disebarkan ke seluruh tubuh, melainkan dipaksa berkumpul di dantian."
Alis Zhu Tian sedikit berkerut.
"Pada tahap ini, rasa sakit akan muncul," lanjut tulisan itu. "Energi spiritual yang terlalu padat akan menekan organ dalam, meridian, bahkan tulang, menciptakan sensasi seolah tubuh diremas dari dalam."
Membaca bagian ini, Zhu Tian tak kuasa menahan rasa merinding yang menjalar di sekujur tubuhnya. Namun sesaat kemudian, ketakutan itu tergantikan oleh sorot tekad yang kuat di matanya.
"Bagaimanapun juga," pikirnya dengan tegas, "aku sudah diberi kesempatan. Aku tidak akan menyia-nyiakannya."
Ya, ini adalah impian Zhu Tian sejak lama—memasuki jalur kultivasi. Impian yang dulu hanya bisa ia peluk dalam khayalan, kini terbentang nyata di hadapannya. Tanpa ragu, ia menyingkirkan rasa takut yang masih tersisa dan membulatkan tekadnya.
Zhu Tian meletakkan gulungan bambu di sampingnya. Ia menyesuaikan posisi duduk, meluruskan punggung, menenangkan napas, dan mulai bermeditasi. Matanya terpejam, pikirannya perlahan menjadi hening, dan tubuhnya dibuat serileks mungkin.
Waktu berlalu.
Namun…
"Aku sama sekali tidak bisa merasakan energi spiritual," ujar Zhu Tian lesu dalam hati. "Hah… bakatku benar-benar seperti sampah."
Ia membuka mata dan menghela napas panjang. Sepuluh menit berlalu hanya diisi keluhan dan kekecewaan. Tidak ada perubahan sedikit pun. Tidak ada sensasi hangat, dingin, atau aliran apa pun seperti yang dijelaskan di gulungan bambu.
Saat itulah Zhu Tian tiba-tiba teringat sesuatu yang sangat mendasar.
Ia belum makan.
Sejak datang ke dunia ini, Zhu Tian sama sekali belum memasukkan apa pun ke dalam perutnya. Bagaimanapun juga, saat ini ia masih manusia biasa. Sudah lebih dari lima jam sejak kedatangannya ke dunia ini, dan bahkan di dunia modern sebelumnya, ia juga belum sempat makan.
Tanpa ragu, Zhu Tian berteriak memanggil Qin Yuan, yang baru saja selesai beristirahat. Setelah beberapa saat, Qin Yuan datang. Wajahnya tampak sedikit lebih baik, kulitnya lebih cerah, dan auranya lebih stabil.
Zhu Tian meminta Qin Yuan untuk menyiapkan makanan dan minuman.
Mendengar permintaan itu, Qin Yuan tampak sedikit bingung. Dalam pikirannya, ia bertanya-tanya mengapa seorang senior masih membutuhkan makanan fana. Namun ia tidak berani bertanya lebih jauh dan hanya menerima perintah itu.
Zhu Tian juga meminta agar makanan dan minuman disediakan secara teratur—pagi dan malam.
Sesekali, Zhu Tian bertanya apakah permintaannya ini berlebihan. Namun Qin Yuan selalu menjawab bahwa itu sama sekali tidak berlebihan, meskipun rasa takut masih terpancar jelas di matanya. Bagaimanapun, Qin Yuan menganggap Zhu Tian sebagai entitas tingkat tinggi yang mengerikan—satu kesalahan saja bisa berujung fatal.
Setelah semua pengaturan selesai, Qin Yuan kembali ke kediamannya di dekat gunung, di balik air terjun, memasuki gua buatannya.
Zhu Tian pun kembali bermeditasi setelah selesai makan. Hari pertama berlalu tanpa hasil. Hari kedua pun sama.
Namun pada hari ketiga…
Saat ia menenangkan napasnya, tiba-tiba Zhu Tian merasakan sesuatu yang berbeda.
Sangat tipis.
Hampir tak terasa.
Namun… itu ada.
Energi spiritual.
Dan untuk pertama kalinya sejak datang ke dunia ini, Zhu Tian berhasil merasakannya.
