Pagi itu, sinar matahari masuk dari jendela kelas, memantul di meja-meja kosong.
Hanya ada satu orang di dalam: Hina, duduk di bangkunya, menunduk serius pada buku catatannya.
Suasana masih tenang, hanya suara halus gesekan pena melintas.
Pintu kelas bergeser pelan.
Ravien masuk dengan langkah santai, tangan di saku. Tatapannya menyapu ruangan, dan seperti biasa, berhenti di satu titik: gadis manusia yang selalu datang lebih awal itu.
Tanpa kata, ia duduk di kursinya—di sebelah Hina—dan langsung menjatuhkan kepala di atas tangan, bersiap tidur kembali seperti ritual hariannya.
Hina melirik sekilas, lalu tersenyum tipis.
Hina (dalam hati):
Dia datang… seperti biasa…
Ia kembali fokus pada buku. Namun, beberapa menit kemudian, ia merasa ada sesuatu.
Tatapan.
Pelan-pelan, ia menoleh.
Ravien tidak tidur. Sepasang mata emas itu sedang menatapnya lurus, seolah sedang menimbang sesuatu.
Hina langsung gugup.
Hina :
"A… ada apa? Apa ada yang aneh di wajahku…?"
Ravien tidak langsung menjawab. Tatapannya tetap lekat beberapa detik, lalu ia bergumam pelan.
Ravien :
"Tidak..
Hanya… bingung."
Hina : "Bingung kenapa…?"
Ravien :"…Lupakan saja."
Ia kembali memiringkan kepala, menutup mata, seolah tidak terjadi apa-apa.
Hina menatapnya bingung, lalu buru-buru meraba pipinya sendiri.
Hina (dalam hati):
Apa aku… aneh? Jelek? Atau ada yang nempel di wajahku…?
Pipinya ia tepuk-tepuk pelan dengan kedua tangan.
Plak… plak…
Ravien, dengan mata tertutup, mendengar suara itu. Bibirnya terangkat samar.
Ravien (dalam hati):
Sepertinya aku sudah tahu…
kenapa aku tertarik pada gadis ini.
Ia benar-benar terlelap.
Tak lama kemudian, pintu kembali terbuka.
Rei, Airi, Riku, dan Rika masuk hampir bersamaan.
Airi : "Pagi—"
Hina langsung mengangkat telunjuk ke bibirnya.
Hina : "Pelan-pelan… Ravien sedang tidur."
Airi menahan tawa.
Airi : "Ada yang khawatir tidur 'pasangan'-nya keganggu, ya~?"
Hina sontak merah padam.
Hina : "B-bukan! Aku cuma… tidak mau ganggu orang yang lagi tidur saja…!"
Riku menyikut Rei pelan.
Riku : "Sudah mulai ya, calon Demon-bride kita ini."
Rei hanya tersenyum kecil, lalu duduk di tempatnya.
Bel pelajaran berbunyi. Kelas pun terisi, dan hari berjalan seperti biasa: guru menjelaskan, murid mencatat… dan satu demon tidur dengan damai.
–Bekal yang Dibagi Dua
Beberapa jam kemudian bel istirahat pun berbunyi.
Kursi berderit, suara langkah berhamburan ke luar kelas. Murid-murid berbondong-bondong pergi ke kantin.
Rei, Riku, Rika, dan Airi juga berdiri.
Riku : "Hina, kamu ikut ke kantin?"
Hina mengangkat kotak bekal kecil dari tasnya.
Hina : "Tidak, aku bawa bekal dari rumah. Kalian duluan saja."
Airi : "Baiklah. Kalau begitu kami belikan minuman, ya."
Mereka pun meninggalkannya di kelas bersama… Ravien yang masih terlelap.
Saat kelas benar-benar sepi, Hina membuka kotak bekal pertama untuk dirinya. Nasi, beberapa lauk sederhana, dan sedikit sayur. Ia makan perlahan.
Setelah selesai, ia menutup kotak pertama… lalu mengeluarkan kotak bekal kedua.
Kotak itu ia letakkan di meja Ravien.
Pelan-pelan, ia mendekatkan tangan ke bahunya.
Hina : "Ravien… bangun. Ini waktu istirahat."
Ravien menggerakkan bahu, lalu membuka mata perlahan.
Ravien : "…Sudah pulang?"
Hina menggeleng kecil.
Hina : "Belum. Ini masih istirahat.
Aku… bawa bekal untukmu. Maaf, aku tidak bisa ke kantin membeli onigiri dan minuman seperti dulu, jadi… aku memasak sendiri."
Ravien tidak berkata apa-apa, tapi jemarinya berhenti sesaat di tepi kotak bekal.
Ia tahu alasan di balik "masak sendiri" itu—dan justru karena itu, ia tidak ingin menyebutnya.
Ravien menatap kotak bekal itu.
Diam.
Lalu duduk tegak dan menariknya mendekat.
Ia membuka tutupnya.
Nasi, lauk sederhana, dan susunan rapi yang jelas dibuat dengan hati-hati.
Tanpa komentar panjang, ia mulai makan.
Hina duduk kembali, memeluk kotak bekalnya sendiri, sambil melirik diam-diam.
Beberapa menit kemudian, bekal itu tandas.
Hina : "Emm… Ravien… rasanya bagaimana…?"
Ravien mengusap sudut bibir dengan ibu jari, lalu menjawab datar.
Ravien : "…Lumayan...Untuk ukuran makanan gratis."
Hina menahan senyum.
Hina : "Kalau begitu… syukurlah."
Bel masuk berbunyi tak lama kemudian. Murid-murid kembali, kelas penuh lagi, dan Ravien—seperti biasa—menyambut pelajaran berikutnya dengan… tidur.
Hina tersenyum kecil.
Hina (dalam hati):
Besok… masak apa lagi ya…
Ajakkan Pergi yang Sederhana… tapi Menggetarkan
Sore hari.
Bel pulang berbunyi. Murid-murid berkemas, beberapa langsung pulang, beberapa pergi latihan.
Ravien bangkit dari posisi tidurnya, merenggangkan badan.
Ravien : "Hina."
Hina yang sedang memasukkan buku ke dalam tas menoleh.
Hina : "Ya?"
Ravien berdiri di samping mejanya.
Ravien : "Ikut aku...Kau yang akan menemaniku, seperti yang sudah dibicarakan kemarin."
Hina langsung tersadar.
Hina (dalam hati):
Ah… soal ponsel…
Airi, yang sedang mengemas tasnya, melihat itu dan mengangkat alis sambil tersenyum meledek.
Ia mengangkat tangan, mengibaskan jemarinya seperti mengusir.
Airi : "Pergi saja, Hina. Kami tidak akan mengganggu 'kencan belanja ponsel' kalian."
Riku mengangkat jempol.
Riku : "Hati-hati di jalan."
Rika menahan tawa, pura-pura melihat ke arah lain.
Hina : "K—kalian jangan bilang yang aneh-aneh…!"
Pipinya merah, tapi dia tetap berdiri.
Ravien berbalik duluan, melangkah keluar kelas. Hina mengekor beberapa langkah di belakang.
–Mal, Lampu, dan Deretan Ponsel
Perjalanan memakan waktu sekitar lima belas menit.
Mereka menyusuri trotoar kota, melewati deretan toko dan warung kecil. Hina sedikit kikuk berjalan sejajar demon tinggi yang auranya selalu berbeda dengan keramaian manusia biasa.
Namun Ravien berjalan tenang, tak banyak bicara.
Tidak lama, mereka tiba di sebuah mal yang cukup besar. Papan namanya jelas terlihat dari jauh—tempat yang dimaksud Riku kemarin.
Hina : "Di sini.
Di lantai dua ada toko ponsel lumayan lengkap."
Ravien hanya menggumam pelan.
Ravien :"Baik."
Mereka naik eskalator, melewati toko pakaian, toko aksesoris, dan restoran cepat saji yang ramai oleh keluarga dan pasangan.
Hina melirik ke samping.
Hina (dalam hati):
Kalau orang lihat kami dari belakang… apa mereka mengira kami pasangan?
Pipinya memanas lagi. Ia buru-buru mengalihkan pandangan, fokus menunjukkan arah.
Tak lama, mereka sampai di depan sebuah toko ponsel dengan display penuh cahaya.
Mereka masuk.
Deretan ponsel terbaru berjejer rapi di meja display.
Ravien mengerutkan kening tipis.
Ravien : "…Terlalu banyak."
Hina tertawa kecil.
Ravien menoleh sekilas.
Ravien :
"Kalau begitu, pilihkan satu untukku.
Aku nggak ngerti model mana yang bagus"
Hina mematung sepersekian detik.
Hina :
"A… aku…?"
Ravien :
"Siapa lagi?
Aku tidak percaya penilaian orang asing di sini."
Hina menelan ludah, lalu mulai bergerak.
Ia menelusuri deretan ponsel, mengecek spesifikasi dari kertas kecil di samping display.
Sesekali ia mengangkat satu ponsel, mencoba menggenggamnya.
Hina (dalam hati):
Yang ini terlalu besar… yang itu terlalu kecil… yang itu kayaknya baterainya boros…
Setelah beberapa menit, ia berhenti di depan satu model.
Desain sederhana, kokoh, dan termasuk model terbaru.
Hina : "Ravien."
Ravien menghampiri.
Hina menunjuk ponsel itu.
Hina : "Menurutku… ini paling cocok untukmu.
Kuat, performanya bagus, dan… tampilannya tidak terlalu mencolok."
Dalam hati, ia menambahkan satu kalimat yang tidak ia ucapkan:
Hina (dalam hati):
Seandainya aku punya uang… aku juga ingin ponsel seperti ini…
Ravien menatap ponsel itu, lalu menoleh ke penjaga toko.
Ravien : "Berikan aku dua unit model ini."
Hina : "…Eh?"
Penjaga toko mengangguk.
Penjaga : "Baik, dua unit ya, Pak. Tunggu sebentar."
Hina mematung.
Hina (dalam hati):
Dua…?
Mungkin satunya untuk keluarganya… atau dunia sana.
Ia menahan napas. Jangan berharap.
Beberapa menit kemudian, dua kotak ponsel rapi disiapkan di meja kasir. Ravien membayar tanpa banyak bicara.
Setelah transaksi selesai, ia memegang kedua kotak itu—lalu memutar badannya ke arah Hina.
Kotak satu ia sodorkan ke Hina.
Ravien : "Hina."
Hina mengerjap.
Hina : "Y… ya?"
Ravien menatap lurus, suaranya tenang tapi jelas.
Ravien :"Selamat ulang tahun.
Ini hadiah dariku."
Dunia Hina seakan berhenti sepersekian detik.
Hina : "…Eh."
Kata-kata itu butuh beberapa detik untuk benar-benar masuk ke kepalanya.
Ulang… tahun?
Hina (dalam hati):
Bagaimana dia bisa tahu…?
Matanya membesar, memandang ponsel di tangannya, lalu menatap Ravien lagi.
Hina :
"B-bagaimana kamu tahu hari ulang tahunku…?"
Ravien mengalihkan pandangan sedikit.
Ravien :
"Tidak penting.
Yang penting, terimalah.
Dan aku tidak menerima penolakan."
Nada terakhirnya sedikit mengancam… tapi bukan ancaman yang menakutkan. Lebih seperti… rasa takut kalau ditolak.
Hina menggenggam kotak itu dengan kedua tangan.
Matanya bergetar.
Hina (dalam hati):
Selama ini… ulang tahunku hanya jadi hari biasa.
Tidak ada yang benar-benar mengingat, tidak ada yang memberikan hadiah…
Dan sekarang—
Hina menunduk dalam-dalam.
Hina :
"…Terima kasih.
Terima kasih banyak, Ravien."
–Nomor Pertama di Kontak
Mereka keluar dari toko.
Suasana mal masih ramai, tapi di hati Hina, semua suara terasa jauh.
Di tengah perjalanan turun eskalator, Ravien berhenti sebentar di area yang agak sepi, lalu mengeluarkan ponsel baru miliknya dari kantong.
Ia menyalakannya, melakukan pengaturan awal dengan cepat dan cekatan seperti sudah terbiasa dengan teknologi—padahal ini ponsel pertamanya di dunia manusia.
Setelah selesai, ia menyodorkan ponselnya ke Hina.
Ravien : "Masukkan nomor ponselmu.
Kalau ada apa-apa… kau bisa menghubungiku kapan saja."
Hina memegang ponsel itu hati-hati, seolah benda suci.
Ia mengetik nomor barunya sendiri—yang ia dapat setelah dibantu penjaga toko tadi—lalu menyimpan kontak.
Hina : "Sudah."
Ia mengembalikan ponselnya pada Ravien.
Ravien melihat sebentar, lalu menyimpan ponsel itu di saku.
Hina menatap kotak ponselnya sendiri yang masih ia peluk.
Hina (dalam hati):
Kenapa dia… sebaik ini padaku…?
Apa benar… dia menyukaiku… seorang manusia biasa yang…
Ia menggigit bibir pelan, menahan haru yang hampir meledak.
Pulang, dengan Langkah yang Berbeda
Perjalanan pulang terasa… lebih pendek daripada berangkat.
Tanpa mereka sadari, langkah mereka selalu selaras. Kadang Hina melirik ke samping, lalu buru-buru mengalihkan pandangan saat Ravien juga kebetulan melihat ke arahnya.
Tidak banyak kata terucap, tapi keheningan itu tidak lagi terasa canggung.
Tidak lama, mereka sampai di depan apartemen Rei.
Hina berhenti.
Hina : "Sampai sini saja.Terima kasih… untuk semuanya hari ini. Dan… untuk hadiahnya."
Ravien menatapnya sejenak.
Tanpa kata, ia memutar badan, membalikkan punggung padanya—namun sebelum melangkah, ia mengangkat tangan, melambai pelan tanpa menoleh.
Ravien : "…Jangan jatuhkan itu.
Dan jangan lupa kirimi aku pesan jika butuh sesuatu."
Lalu ia berjalan menuju kamar 101.
Hina berdiri di tempat, menatap punggung itu pergi.
Kotak ponsel ia peluk di dada, seperti memeluk sesuatu yang sangat berharga.
Pelan-pelan, senyum muncul di wajahnya.
Hina (dalam hati):
Terima kasih, Ravien.
Untuk pertama kalinya… ulang tahunku terasa seperti ulang tahun sungguhan—
sejak aku ditinggalkan kedua orang tuaku.
Dan entah sejak kapan, langkahnya menuju rumahnya terasa… jauh lebih ringan dari biasanya.
