Cherreads

Chapter 139 - Bab 139: “Harga dari Kepalsuan” — Sisi Mina

Sore itu, bus SMA Shirokaze berhenti di depan gerbang sekolah.

Satu per satu murid turun, menertawakan hal-hal kecil, membicarakan lomba, membagikan foto—seolah tidak ada yang pecah hari ini.

Seolah Hayato yang terbaring di rumah sakit bukan bagian dari hari yang sama.

Mina berdiri di antara kerumunan yang bubar itu, menahan napas. Ia juga ingin pulang. Ia ingin masuk kamar, menutup pintu, dan menghapus hari ini.

Tapi ponselnya bergetar.

Nama penelepon: Ibu Hayato.

Mina menelan ludah, lalu mengangkat telepon.

Belum sempat ia menyapa, suara di seberang sudah seperti pisau.

Ibu Hayato:

"Mina."

"Kamu tahu anakku di rumah sakit?!"

Mina membeku.

Mina:

"…Iya, Bu… aku dengar…"

Ibu Hayato:

"Dengar?!"

"Kamu itu tunangannya!"

"Di mana kamu waktu dia hampir mati?!"

Mina membuka mulut, tapi tidak ada kata yang bisa keluar.

Karena yang benar… ia memang tidak ada di tempat kejadian.

Ia sedang ikut lomba.

Dan alasan itu terasa sangat kecil ketika seseorang terbaring tak sadarkan diri.

Mina hanya bisa menunduk, walau yang memarahinya tidak bisa melihat.

Mina:

"…Maaf, Bu… aku—"

Ibu Hayato:

"Maaf?!"

"Maaf itu tidak mengembalikan Hayato!"

Nada itu menusuk lebih dalam dari tamparan mana pun.

Mina menggigit bibir sampai rasanya asin.

Lalu suara yang lain masuk—lebih berat, lebih dingin.

Ayah Hayato.

Ayah Hayato:

"Mina. Datang ke rumah sakit."

"Sekarang."

Tidak ada pilihan. Tidak ada ruang untuk menolak.

Telepon ditutup.

Dan Mina berdiri di depan gerbang sekolah—di tengah orang-orang yang pulang dengan tawa—sementara ia menahan air mata yang jatuh pelan ke pipi.

Mina (dalam hati):

…Apakah ini karma…?

Karena kesalahanku…?

Lalu bayangan itu datang tanpa izin.

Rei.

Senyumnya dulu, cara ia menunggu di depan kelas, suara ia menyemangati Mina saat pelajaran yang sulit.

Bahkan momen kecil yang dulu terasa "normal":

—pulang bersama…

—tertawa bersama…

—dan momen ketika Mina menggenggam tangan Rei, seolah dunia sedang baik-baik saja.

Mina menutup mulutnya dengan tangan agar tidak menangis keras.

Mina (pelan):

"Apa… aku masih pantas bahagia?"

Mina memanggil taksi.

Begitu masuk, ia menyebut alamat rumah sakit dengan suara yang hampir tak terdengar.

Supirnya—seorang pria ras beastkin—melirik lewat spion. Mata Mina merah.

Supir tidak bertanya terlalu banyak. Ia hanya mengemudi.

Di tengah perjalanan, Mina tiba-tiba bicara, seperti orang yang sudah terlalu lama menahan.

Mina:

"Pak…"

"Kalau seseorang… sudah bikin kesalahan besar…"

"Apa dia masih pantas bahagia?"

Supir terdiam sebentar, lalu menjawab tenang.

Supir:

"Semua orang berhak bahagia."

"Tapi kadang, sebelum sampai ke sana, orang harus berani lihat kesalahannya sendiri."

Mina menelan ludah.

Mina:

"Kalau kesalahannya terlalu besar?"

Supir:

"Tetap harus dihadapi."

"Dimaafkan atau tidak… itu urusan orang yang kamu lukai."

"Tapi kalau kamu lari, kamu akan dihukum oleh penyesalan seumur hidup."

Mina memejamkan mata.

Mina:

"Kalau seseorang… mengkhianati perasaan orang lain…"

"Apa korban masih pantas memaafkan…?"

Supir:

"Itu hak korban."

"Tapi… ada satu hal."

"Kalau korban itu sudah berubah…"

"Kalau dia sudah bukan orang yang sama seperti yang kamu kenal dulu…"

"Maafnya… mungkin tidak semudah itu."

Mina terdiam.

Kalimat itu seperti menampar lembut, tapi menghancurkan.

Ia menunduk, lalu berbisik.

Mina:

"…Terima kasih."

Supir:

"Sama-sama."

Taksi berhenti di depan rumah sakit.

Mina membayar, turun, dan berlari—bukan karena buru-buru, tapi karena ia takut kalau ia berhenti sebentar saja, kakinya akan menyerah.

Di meja resepsionis, ia bertanya pada suster, mencari nomor kamar Kurogane Hayato.

Setelah mendapat nomor kamarnya, Mina langsung berjalan menuju lantai tujuan.

Langkahnya semakin pelan ketika sudah di depan pintu.

Tangannya gemetar saat memegang gagang.

Mina menarik napas.

Klik.

Pintu terbuka.

Di dalam, Hayato terbaring tak sadarkan diri. Wajahnya pucat, tangan penuh perban, alat monitor berbunyi pelan seperti detak yang dipaksa.

Di samping ranjang… dua orang tua Hayato sudah menunggu.

Begitu Mina melangkah masuk, Ibu Hayato bangkit begitu cepat hingga kursinya bergeser.

Mina belum sempat membuka mulut—

PLAK!

Tamparan itu mendarat keras di pipinya.

Kepalanya terlempar ke samping.

Ibu Hayato:

"Ini semua gara-gara kamu!"

"Apa yang kamu lakukan sampai anakku jadi begini?!"

Mina terpaku.

Pipinya panas, tapi yang lebih panas adalah rasa bersalah yang sudah menumpuk sejak telepon tadi.

Mina:

"…Aku… aku tidak tahu, Bu…"

"Aku sedang lomba…"

Ibu Hayato menatapnya seperti ingin merobek semua alasan.

PLAK—!

Tamparan kedua, di pipi satunya.

Ibu Hayato:

"Lomba?!"

"Apa guna lomba dibanding nyawa anakku!"

"Kemenanganmu bisa bikin dia bangun?!"

Mina jatuh dalam diam.

Ibu Hayato:

"Aku menyesal dulu pernah menolong keluargamu."

"Aku menyesal anakku memilih kamu."

"Aku dari awal tidak setuju pertunangan ini."

Kata-kata itu menghancurkan.

Baru saat itulah Mina mengerti—

kebaikan yang ia terima selama ini ternyata bukan pelukan, melainkan tali.

Dan hari ini, tali itu ditarik sampai lehernya sesak.

Ayah Hayato akhirnya menarik istrinya pelan, menahan agar tidak makin berteriak.

Ayah Hayato berjalan mendekat pada Mina. Nada suaranya lebih tenang—tapi justru lebih dingin.

Ayah Hayato:

"Mina."

"Ceritakan yang kamu tahu."

Mina menelan tangis, memaksa suaranya keluar.

Mina:

"Aku… tidak ada di tempat kejadian…"

"Aku hanya dengar… Hayato terluka parah…"

"Di bus… aku dengar pelakunya… seorang demon."

"Tapi… aku tidak tahu namanya."

Ayah Hayato menutup mata sebentar.

Ayah Hayato:

"Baik."

"Kamu boleh pulang."

Mina menatapnya, bingung.

Ayah Hayato:

"Bukan karena aku membelamu."

"Aku hanya tidak mau… saat anakku bangun… kamu sudah tidak ada."

"Kalau kamu menghilang sekarang, itu hanya membuktikan bahwa kamu memang tidak pernah siap menanggung akibatnya."

Mina akhirnya mengerti.

Ia bukan dianggap "keluarga".

Ia hanya dianggap "bagian dari masalah yang belum selesai".

Mina menunduk, lalu berjalan keluar.

Dan di koridor rumah sakit itu, Mina akhirnya merasakan apa yang dulu ia wariskan pada Rei:

bukan sekadar sakit—

melainkan hancur oleh sesuatu yang selama ini ia kira bernama kebaikan.

—Rumah Mina

Mina pulang dengan tubuh yang masih berjalan, tapi hati yang seperti tertinggal di koridor rumah sakit.

Begitu pintu rumah terbuka, orang tuanya menyambut—tapi Mina tidak berhenti.

Ia langsung naik ke lantai 2 dan masuk kamar, menutup pintu, lalu menangis di atas kasur seperti anak kecil yang akhirnya kalah.

Di ruang tamu, kedua orang tua Mina saling menatap—bingung, takut.

Ayah Mina tidak tahan dan akhirnya pergi menuju kamar Mina.

Ia mengetuk pintu.

Ayah:

"Mina… ayah boleh masuk?"

Tidak ada jawaban.

Ayah mengulang, suaranya lebih lembut.

Ayah:

"Kalau ada yang ingin kamu ceritakan… cerita."

"Ayah dan ibu… siap bantu."

Cekrek!

Pintu terbuka sedikit.

Ayah masuk dan melihat putrinya dengan mata bengkak, pipi memerah bekas tamparan.

Ayah duduk di tepi kasur, tangannya gemetar—bukan marah, tapi hancur.

Mina akhirnya bercerita.

Tentang telepon, tamparan, keluarga Hayato terhadap dirinya dan bagaimana ia merasa… tidak dianggap manusia.

Lalu tentang satu nama yang membuat dadanya semakin sesak:

Rei.

Saat Mina selesai, ayahnya menunduk lama.

Ayah:

"…Ayah gagal, Mina."

"Ayah harusnya mencegah keputusan itu dulu."

Ibu Mina masuk, mendengar sisa percakapan, lalu duduk dekat Mina. Suaranya bergetar.

Ibu:

"Maafkan kami…"

"Kami tidak ingin kamu begini."

"Kami menyesal… karena dulu terlalu takut kehilangan semua sampai mengorbankan kebahagiaanmu."

Mina menggeleng cepat sambil menangis.

Mina:

"Bukan salah ayah ibu…"

"Ini keputusan Mina…"

"Mina cuma… tidak ingin kalian sedih…"

"Tapi Mina… Mina sudah tidak sanggup…"

Ayah menghela napas panjang, lalu berkata dengan tekad yang membuat Mina terpaku.

Ayah:

"Kalau harus menjual aset, ayah jual."

"Kalau harus melepas rumah ini, ayah lepas."

"Ayah tidak mau kamu terus hidup dalam ikatan yang membuatmu pelan-pelan hancur."

Mina langsung mengangkat kepala.

Mina:

"Jangan…!"

"Ayah… ibu… Mina tidak mau kalian berkorban!"

Ibu memotong, memegang tangan Mina erat.

Ibu:

"Tidak apa."

"Yang penting kamu lepas dari penderitaan ini."

"Kami seharusnya menolak tawaran keluarga Hayato dari awal."

Ayah:

"Ayah lebih rela kehilangan rumah ini… daripada kehilangan kamu pelan-pelan di dalamnya."

Ibu:

"Kami kira kami sedang menyelamatkan masa depanmu."

"Ternyata kami justru menyerahkanmu ke tempat yang pelan-pelan menghancurkanmu."

Mina menangis lagi—lebih keras, tapi kali ini berbeda.

Karena untuk pertama kalinya… ia merasa dicintai tanpa syarat.

Dan di antara tangisnya, Mina menatap kosong ke jendela.

Mina (dalam hati):

…Kalau aku benar-benar ingin menebus ini…

Aku harus… menghadapi Rei.

Aku harus… minta maaf.

Bukan agar Rei kembali.

Bukan agar Rei memaafkan.

Tapi agar Mina berhenti bersembunyi di balik wajah baik yang selama ini ia pakai.

More Chapters