Kereta kuda sihir melaju menembus jalan-jalan kerajaan selama hampir satu jam—dan semakin dekat ke pusat, semakin terasa ada sesuatu yang "hilang" dari udara.
Bukan kabut, bukan dinginnya kota ras demon, melainkan.
Kehidupan.
Di balik jendela kereta, Lirya melihat kota yang dulu hidup kini terasa setengah mati.
Pasar yang biasanya ramai hanya terisi separuh, para pedagang bicara pelan, dan orang-orang menunduk cepat saat patroli lewat.
Seolah kota itu sedang menahan napas… takut jika bernapas terlalu keras, sesuatu akan mendengar.
Lirya (dalam hati):
Apa yang sebenarnya terjadi sampai separah ini…?
Kalau rakyat sudah hidup setakut ini… berarti yang hilang bukan lagi sekadar bangsawan.
Yang hilang adalah rasa aman.
Kereta berhenti di gerbang istana.
Begitu pintu dibuka, hawa istana menyambut Lirya—tekanannya halus namun berat, seperti dinding yang terus mengawasi.
Para penjaga kerajaan, demon bersenjata lengkap, langsung memberi hormat saat Lirya melangkah turun.
Tak ada yang berani menatap lama.
Mereka tahu… darah siapa yang lewat.
Lirya berjalan lurus menuju aula utama. Setiap langkahnya bergema di lantai batu hitam. Di sepanjang lorong, ia melihat lebih banyak penjaga daripada biasanya. Dan beberapa wajah—wajah prajurit muda—tampak terlalu tegang untuk disebut "siaga".
Pintu ruang raja terbuka.
Di singgasana yang megah itu, seorang pria demon duduk dengan punggung tegak. Rambutnya hitam pekat dengan semburat merah marun, mata merahnya dalam—bukan merah bara seperti Lirya, tapi merah yang lebih "tua": merah yang pernah melihat banyak perang.
Dialah raja.
Raja Demon Azravel Vhal'Raine.
Dan seperti yang Lirya tahu… paman yang paling menyebalkan di dunia.
Lirya melangkah masuk tanpa menunggu diumumkan.
Lirya:
"Apa yang terjadi, Paman?"
"Di sepanjang jalan, aku melihat rakyat seperti takut pada sesuatu."
Raja itu mengangkat tatapannya perlahan, seolah baru keluar dari pikiran yang berat.
Azravel:
"Lirya…"
"Lama tidak melihatmu. Paman kira kau sudah lupa punya paman."
Lirya tidak tertawa. Tidak membalas godaan.
Ia berjalan lebih dekat, lalu berhenti beberapa langkah dari singgasana.
Lirya (tegas):
"Serius, Paman."
"Kenapa rakyat di jalan seperti kehilangan jiwa? Mereka takut… seperti sesuatu akan datang bila mereka hidup normal."
Azravel menatapnya lebih lama, lalu menghela napas—napas seorang raja yang sudah terlalu lama menahan beban sendiri.
Azravel:
"Paman minta maaf. Kau benar."
"Kerajaan Demon sedang… bocor dari dalam."
Lirya menyipit.
Lirya:
"Jelaskan."
"Masalah apa yang dihadapi kerajaan ini selama aku pergi?"
Azravel menurunkan suaranya, bukan karena lembut, tapi karena aula itu sendiri terasa tidak aman untuk terlalu nyaring menyebut nama musuh.
Azravel:
"Belum lama ini."
"Ada sebuah organisasi asing."
"Mereka menculik bangsawan—mula-mula keluarga kecil, lalu naik… sampai keluarga yang punya darah tua."
"Ketika paman menyelidiki dan ingin membereskan organisasi itu… mereka menggunakan para bangsawan itu sebagai prajurit."
Lirya menahan napas.
Lirya:
"Prajurit?"
Azravel mengepalkan jari di sandaran singgasana.
Azravel:
"Bukan prajurit biasa."
"Orang-orang yang diculik… mereka memiliki energi anomali."
"Mereka tidak lagi bertarung seperti demon, elf, atau beastskin."
"Mereka bertarung seperti… sesuatu yang sudah bukan diri mereka."
"Dan kami tidak bisa melawan mereka dengan leluasa."
"Bahkan aku—Raja Demon—gagal menahan salah satu yang kemungkinan pemimpin mereka."
"Jadi akhirnya paman hanya bisa mundur, sebelum kerugian yang kami alami semakin membesar."
Lirya merasakan dingin naik dari tengkuk ke tulang belakang.
Lirya (dalam hati):
Jadi benar… apa yang dikatakan tuan Vhaldrake.
Bahkan paman yang seorang raja demon tidak dapat melawan salah satu pemimpin itu.
Lirya melangkah satu langkah lebih dekat.
Lirya:
"Apa benar mereka sekuat itu paman?"
Azravel tersenyum tipis—senyum pahit.
Azravel:
"Sebenarnya paman bisa saja melawan orang-orang yang memiliki energi anomali itu."
"Tapi mereka adalah para bangsawan yang memiliki pengaruh di kerajaan demon dan ada alasan lain juga yang membuat paman tidak bertindak."
"Yaitu paman bukan pembantai."
"Kalau paman memaksa… yang mati duluan adalah bangsawan yang paman sumpah lindungi."
"Dan setelah itu…"
"Organisasi itu tidak berhenti pada para bangsawan. Mereka merambat ke rakyat."
"Itulah yang membuat para rakyat ketakutan dan menjadikan kota demon seperti kota mati."
Lirya memutar tubuh sedikit, menatap jendela besar aula—bayangan istana dan kota terlihat jauh.
Lirya:
"Kalau begitu, kenapa tidak minta bantuan raja ras lain?"
Azravel menghela napas panjang.
Azravel:
"Paman sudah mencoba."
"Namun ini tidak hanya terjadi di kerajaan kita."
"Kerajaan lain juga menghadapi hal serupa."
"Mereka sibuk menahan kebakaran di rumah masing-masing."
"Walau sepertinya hal ini belum terjadi di seluruh kota-kota kecil atau perbatasan antar dimensi."
Lirya membeku sesaat.
Lirya (dalam hati):
Jadi ini bukan masalah demon saja.
Ini… bisa jadi awal runtuhnya seluruh Elyndor.
Ini mungkin yang Rei khawatirkan.
Azravel menatap Lirya tajam—tajamnya bukan curiga, tapi ingin memastikan keponakannya tidak kehilangan arah.
Azravel:
"Tapi beberapa hari lalu, Guardian Naga datang berkunjung terkait masalah ini."
Lirya mengangkat alis.
Azravel:
"Dia berkata para Guardian akan turun tangan mengenai ini."
"Dan paman… percaya itu satu-satunya alasan kerajaan ini belum tenggelam dalam kepanikan total."
Lirya mengangguk pelan.
Lirya:
"Ya… Tuan Vhaldrake memang berkata demikian sebelumnya."
Azravel mendadak menyipit.
Azravel:
"Kau menyebut namanya dengan terlalu mudah, Lirya."
"Bagaimana kau tahu nama itu?"
Lirya baru tersadar—mulutnya terlalu cepat.
Lirya (dalam hati):
Sial.
Aku kebablasan.
Ia menegakkan dagu.
Lirya:
"Aku pernah bertemu beliau."
"Di kedalaman hutan terlarang."
"Beliau… sedang melaporkan masalah ini pada temanku."
Azravel terdiam, lalu bersandar sedikit, seolah memeriksa kata-kata Lirya satu per satu.
Azravel:
"Temanmu?"
"Di hutan terlarang?"
"Lirya… siapa temanmu itu sampai Guardian menampakkan diri dan bicara serius di hadapanmu?"
"Kalau temanmu sedekat itu dengan para Guardian…"
"bisakah kau memintanya membantu kerajaan kita?"
Lirya menahan napas. Ia menimbang. Menimbang nama yang seharusnya tidak diucap di aula ini.
Lirya (dalam hati):
Gawat. Karena kecerobohanku, Paman mulai curiga pada Rei.
Aku harus menghindari pertanyaan ini… atau Rei akan membenciku.
Lirya menjawab dengan setengah kebenaran—cara yang paling aman.
Lirya:
"Temanku hanya orang biasa, Paman."
"Dia juga tidak bisa membantu."
"Karena… dia punya beban yang lebih besar daripada yang bisa kau bayangkan."
"Dan sekarang dia sedang khawatir sesuatu akan terjadi di Dunia Manusia."
"Itulah mengapa aku datang ke sini."
"Bukan hanya untuk tahu apa yang terjadi di kerajaan…"
"tapi juga untuk meminta izin pergi ke Dunia Manusia dan menemui Seris serta Ravien."
Azravel menatapnya lama.
Azravel:
"Jadi kau datang bukan hanya untuk kerajaan demon… tapi juga karena adik-adikmu."
Lirya mengangguk.
Lirya:
"Aku mau ke Dunia Manusia. Aku harus menemui Ravien dan Seris."
"Dan memastikan mereka aman di dunia manusia."
Azravel mengangkat tangan, memberi isyarat pada penjaga di sisi singgasana. Seorang prajurit melangkah mendekat membawa sebuah medali hitam bersegel merah.
Azravel mengambilnya, lalu melempar pelan ke arah Lirya.
Lirya menangkapnya tanpa kesulitan.
Azravel:
"Itu izin lintas-dimensi kerajaan."
"Kalau ada yang berani menghalangimu di gerbang, tunjukkan itu."
"Dan kalau ada yang mencoba 'menahanmu' dengan alasan protokol…"
"Sebutan pamanmu sebagai raja cukup untuk mematahkan mulut mereka."
Lirya mengangkat sudut bibirnya—senyum tipis.
Lirya:
"Akhirnya paman berguna juga."
Azravel mendengus dengan sedikit kesal karena merasa dirinya diremehkan oleh keponakannya sendiri.
Azravel:
"Dan satu hal lagi."
"Hormatlah padaku, Lirya."
"Walau aku pamanmu… aku tetap Raja Demon."
Lirya memutar mata, tapi nadanya tetap tajam penuh keyakinan.
Lirya:
"Iya, iya."
"Raja yang terpaksa."
"Lagipula suatu saat nanti aku akan menggantikan paman."
Azravel tersenyum tipis—senyum yang lebih manusiawi daripada singgasana itu.
Lalu, seperti tidak tahan, ia melempar topik yang membuat Lirya langsung kesal.
Azravel:
"Kalau begitu…"
"Kapan kau mulai memikirkan pasangan? Mau seperti pamanmu, sendirian di istana sebesar ini sampai tua?"
Lirya memalingkan wajah.
Lirya:
"Tidak perlu khawatir."
"Aku sudah punya seseorang yang mungkin jadi suamiku di masa depan."
Azravel mengangkat alis, jelas menikmati ini.
Azravel:
"Oh?"
"Jangan-jangan itu temanmu di hutan terlarang?"
"Hebat juga. Dia berhasil membuat gadis seangkuh kamu jadi merah begitu."
Wajah Lirya memanas—merahnya sampai telinga.
Lirya:
"Paman. Hentikan."
"Dia belum jadi milikku."
Azravel tertawa pelan—jarang sekali raja itu tertawa seperti paman.
Azravel:
"Kalau begitu cepat kejar."
"Atau dia akan dimiliki orang lain."
Lirya mengepalkan medali izin di tangannya.
Lirya (pelan, hampir seperti janji):
"Tenang saja…"
"Aku akan berusaha."
Azravel melambaikan tangan.
Azravel:
"Pergilah."
"Sampaikan salamku pada Ravien dan Seris."
"Dan… kalau temanmu di hutan terlarang itu memang seistimewa yang kau sembunyikan…"
"Sampaikan juga salamku padanya."
"Karena sudah membuat keponakanku yang arogan ini memiliki sisi pemalu."
Lirya tidak menjawab. Ia hanya membalikkan badan.
Sebelum keluar, ia menoleh sedikit—cukup untuk membuat Azravel tahu ia mendengar.
Lirya:
"Aku pergi, Paman."
Dan begitu pintu aula tertutup, Lirya berjalan lebih cepat—lebih fokus.
Lirya (dalam hati):
Ravien… Seris… tunggu kakak.
Kalau ini benar sudah merambat ke Dunia Manusia…
maka kakak akan sampai lebih dulu sebelum bahaya itu menyentuh kalian.
