Cherreads

Chapter 201 - Warisan yang Disembunyikan dan Tamu dari Bayangan

Di sisi lain kedalaman Hutan Terlarang…

Langit senja perlahan berganti malam.

Bayangan pepohonan memanjang di atas tanah lembap, sementara cahaya rembulan mulai turun tipis di sela-sela daun. Di tengah jalan setapak yang jarang dilalui makhluk lain, Sylvhia masih berjalan bersama Gaelthra.

Namun langkah Sylvhia tidak benar-benar tenang.

Sejak tadi, bibirnya terus bergerak pelan.

Mengulang kalimat yang sama.

Mengulang nama yang sama.

Mengulang pengakuan yang baru saja keluar dari mulut Rei.

Sylvhia:

"Orang yang kusayang…"

"Rei bilang… orang yang kusayang…"

Dan setiap kali mengingatnya, pipinya kembali memanas.

Matanya berbinar sendiri.

Senyumnya tidak bisa berhenti.

Di sampingnya, Gaelthra yang melihat tingkah Sylvhia hanya bisa menghembuskan napas panjang.

Gaelthra (dalam hati):

Anak ini benar-benar sudah tidak tertolong.

Semoga saja ini memang pilihan terbaik untuk kebaikannya.

Akhirnya Gaelthra berhenti berjalan.

Ia menoleh tajam ke arah Sylvhia, lalu berkata dengan nada tegas yang jarang ia keluarkan.

Gaelthra:

"Nak, ingat baik-baik apa yang Rei katakan."

"Mulai sekarang kau harus menurutiku, apa pun yang terjadi."

"Jadi untuk sekarang berhentilah mengulang-ulang perkataanmu itu."

"Atau aku akan mengatakan kepada Rei bahwa kau tidak mendengarkanku."

"Dan jika itu terjadi…"

"…mungkin aku akan menggunakan seluruh kekuatanku untuk mengurungmu."

Mendengar ancaman itu, Sylvhia langsung tersadar seolah dituangkan air dingin.

Ia buru-buru mendekati Gaelthra dengan panik.

Sylvhia:

"Jangan!"

"Jangan bilang begitu kepada Rei!"

"Aku akan menurut!"

"Aku janji akan menurut!"

"Tolong jangan katakan hal seperti itu kepadanya!"

Gaelthra melihat kepanikan itu, lalu tersenyum puas.

Gaelthra:

"Bagus."

Ia lalu mengangkat satu jari seperti guru yang hendak memberi pelajaran pertama.

Gaelthra:

"Kalau begitu, pelajaran pertama."

"Mulai sekarang kau harus memanggilku 'kakak'."

Sylvhia tertegun.

Wajahnya berubah aneh.

Antara bingung dan tidak percaya.

Sylvhia:

"…Hah?"

Gaelthra:

"Kau dengar."

"Panggil aku kakak."

Sylvhia menatap Gaelthra dari atas sampai bawah, seolah sedang menahan sesuatu yang sangat ingin ia katakan.

Lalu dengan ragu, ia membuka mulut.

Sylvhia:

"Baiklah, bi—"

Tatapan Gaelthra langsung berubah tajam.

Sylvhia refleks menelan sisa katanya dan buru-buru memperbaiki ucapan.

Sylvhia:

"Eh—maksudku… kakak."

Mendengar itu, wajah Gaelthra langsung terlihat jauh lebih senang.

Senyum puas muncul di bibirnya, seperti baru saja memenangkan sesuatu yang sudah lama ia tunggu.

Sementara Sylvhia hanya bisa memalingkan wajah sebentar.

Sylvhia (dalam hati):

Kenapa bibi sangat ingin dipanggil begitu…

Seolah tidak mau menerima kenyataan dengan usianya sendiri…

Namun baru saja ia mau bicara lagi—

Sylvhia:

"Lalu, bibi—"

Gaelthra langsung menoleh dengan tatapan setajam pedang.

Sylvhia spontan merinding.

Sylvhia:

"Maaf! Maksudku kakak!"

"Jadi… apa yang harus aku lakukan?"

Gaelthra berdehem, lalu ekspresinya kembali serius.

Angin malam bergerak pelan di antara pepohonan, membuat suasana di sekitar mereka terasa lebih sunyi.

Gaelthra:

"Apa kau tahu…"

"Bahwa ibumu sebenarnya meninggalkan kekuatannya di beberapa tempat di Elyndor?"

Sylvhia langsung berhenti berjalan.

Matanya melebar.

Sylvhia:

"Apa…?"

"Maksud kakak apa?"

Gaelthra:

"Kau tidak salah dengar."

"Ibumu meninggalkan warisan."

"Warisan berupa sisa-sisa kekuatannya…"

"…di beberapa tempat di Elyndor."

Sylvhia benar-benar bingung sekarang.

Sylvhia:

"Lalu… apa hubungannya dengan aku?"

Gaelthra menatap lurus ke arah Sylvhia.

Gaelthra:

"Kalau kau ingin berada di sisi Rei…"

"…kau harus menjadi lebih kuat."

"Setidaknya cukup kuat untuk melindungi dirimu sendiri."

Kalimat itu membuat Sylvhia perlahan memahami arah pembicaraan.

Sylvhia:

"Jadi maksud kakak…"

"aku harus mewarisi kekuatan yang ibu tinggalkan itu?"

Gaelthra mengangguk.

Gaelthra:

"Benar."

Sylvhia masih belum puas.

Sylvhia:

"Lalu di mana tempat-tempat itu?"

"Kalau kakak sudah tahu soal warisan itu…"

"kenapa kakak tidak mengambilnya sendiri?"

"Atau… memang dari awal kakak tidak pernah bisa menyentuhnya?"

Gaelthra berhenti berjalan.

Ia menatap langit malam yang mulai gelap, lalu suaranya menjadi sedikit lebih berat.

Gaelthra:

"Itulah tugasmu."

"Karena selama beberapa tahun ini…"

"…aku diperintahkan oleh Rei untuk mencari sisa-sisa peninggalan ibumu."

Sylvhia membeku.

Matanya membesar lagi.

Sylvhia (dalam hati):

Rei…?

Dia merencanakan ini di belakangku selama ini…?

Jadi… benar… dia sudah peduli padaku sejak lama…?

Ia menatap Gaelthra dengan campuran harapan dan gugup.

Sylvhia:

"Lalu… apakah kakak sudah menemukan dimana saja warisan kekuatan ibuku?"

Begitu pertanyaan itu keluar, wajah Gaelthra sedikit berubah.

Ia menunduk sebentar.

Lalu menggeleng.

Gaelthra:

"Aku tidak bisa mengatakan bahwa aku tidak menemukan apa-apa…"

"Tapi…"

"…hasilnya tidak memuaskan."

Sylvhia bingung.

Sylvhia:

"Maksudnya?"

Gaelthra memandang ke arah pepohonan gelap di kejauhan.

Gaelthra:

"Setiap kali aku merasakan sedikit jejak kekuatan ibumu…"

"…dan mendekatinya…"

"…kekuatan itu selalu hilang."

Ia mengepalkan tangannya pelan.

Gaelthra:

"Seolah-olah…"

"…warisan itu memang tidak boleh ditemukan oleh orang lain."

"Atau tidak boleh dimiliki sembarang orang."

Sylvhia menelan ludah.

Sylvhia:

"Kalau begitu…"

"apa yang harus kulakukan?"

"Kalau kakak saja tidak bisa menemukannya…"

"untuk apa membawaku mencari itu?"

Gaelthra menoleh dan menatap Sylvhia seolah ia baru saja mendengar pertanyaan paling konyol malam itu.

Lalu ia mengetuk pelan dahi Sylvhia dengan jari.

Gaelthra:

"Kau sungguh bodoh, seperti ibumu."

Sylvhia langsung memegang dahinya.

Sylvhia:

"Eh?!"

Gaelthra:

"Kau ini putri kesayangannya."

"Kau diberi kehidupan langsung dari kekuatannya."

"Jadi sudah pasti…"

"…warisan yang ia tinggalkan itu ditujukan untukmu."

Sylvhia masih tampak bingung.

Sylvhia:

"Tapi kenapa kakak bisa berpikir seperti itu?"

Gaelthra menghela napas pelan, seolah benar-benar pusing dengan kepolosan di depannya.

Gaelthra:

"Aku mulai paham kenapa Rei ingin kau tidak terlibat dalam masalah ini."

"Karena kau terlalu polos."

"Dan ibumu pasti tahu itu saat memilihmu."

Sylvhia langsung kesal.

Sylvhia:

"Aku tidak sepolos itu!"

"Aku sudah dewasa!"

Gaelthra malah tertawa.

Gaelthra:

"Iya, iya. Kau memang sudah dewasa."

Lalu ia menjadi serius lagi.

Gaelthra:

"Baiklah, akan kujelaskan."

"Menurutku, ada dua syarat untuk bisa menemukan dan mewarisi sisa-sisa peninggalan ibumu."

Sylvhia mendengarkan dengan saksama.

Gaelthra:

"Pertama, hanya orang yang cukup kuat untuk menahan sisa kekuatan ibumu yang bisa menemukannya."

"Dan Rei termasuk orang yang mungkin mampu melakukan itu."

"Tapi Rei terikat pada tugas yang jauh lebih besar."

"Kedua… dan ini yang menurutku lebih benar…"

"…warisan itu hanya akan membuka diri pada anak yang benar-benar ia pilih."

Sylvhia langsung terdiam.

Gaelthra:

"Dan yang kedua…"

"yang menurutku lebih masuk akal…"

"…orang itu harus merupakan keturunan yang paling ia sayangi atau keturunan yang dipilih secara langsung dari semua anak-anaknya."

Sylvhia mencerna itu beberapa saat.

Lalu mendadak, matanya berubah nakal.

Sylvhia:

"Berarti… kakak itu sangat lemah dibanding ibuku?"

Begitu kalimat itu keluar, Gaelthra langsung menjewer telinga Sylvhia.

Sylvhia:

"Aduh—!"

Gaelthra:

"Sudah kukatakan, ibumu itu Guardian terkuat di zaman kami!"

"Dan mungkin…"

"…jika Rei datang beberapa ratus tahun lebih awal saat ibumu masih ada…"

"…ibumu baru akan memiliki saingan di Elyndor ini!"

Sylvhia menutup mulutnya, menahan tawa.

Sylvhia:

"Itu mungkin saja…"

"Tapi apa benar ibu bisa sekuat Rei saat ini?"

Gaelthra tidak langsung menjawab.

Ia hanya diam sejenak.

Lalu memalingkan wajah.

Gaelthra:

"Ayo."

"Kita harus bergerak cepat sebelum terlambat."

Ia sengaja menutup pembicaraan.

Namun di dalam hatinya, jawabannya sudah jelas.

Gaelthra (dalam hati):

Jika ibumu dibandingkan dengan Rei saat ini…

mungkin ibumu tetap tidak lebih kuat.

Karena aku merasa Rei bahkan bisa menghancurkan dan melenyapkan semua masalah di Elyndor…

andaikan saja dia tidak harus menjaga gerbang itu.

Mereka kembali melangkah.

---

Sementara itu di lain sisi, di depan gerbang dimensi…

Rei masih duduk seorang diri.

Langit di atasnya semakin gelap, dan cahaya segel gerbang membuat bayangannya tampak panjang di tanah.

Tak lama kemudian, hembusan angin lembut mendekatinya.

Angin itu berputar beberapa kali, lalu membentuk sosok demihuman yang sangat familiar.

Itu adalah Aerisyl, Guardian Angin.

Rei tidak tampak terkejut.

Ia langsung menoleh sedikit dan bertanya dengan nada datar seperti biasa.

Rei:

"Bagaimana?"

"Apakah kau sudah menemukan temanku untuk membantu masalah organisasi itu?"

Aerisyl mengangguk pelan.

Aerisyl:

"Aku sudah menemukannya."

"Dan dia sudah mulai bergerak seorang diri."

Rei mendengar itu tanpa perubahan ekspresi yang berarti.

Namun Aerisyl menatap Rei beberapa saat, lalu akhirnya bertanya.

Aerisyl:

"Apa keputusanmu benar, Rei?"

"Menyuruh temanmu membereskan organisasi itu seorang diri?"

Rei terdiam sesaat.

Aerisyl menunggu jawaban itu dalam sunyi.

Beberapa detik kemudian, Rei akhirnya bersuara.

Tapi jawabannya justru terdengar seperti sedang berbicara kepada orang lain.

Rei:

"Kau tenang saja."

"Senior Kael sudah cukup."

"Bahkan cukup mampu untuk membereskan itu seorang diri."

"Bukankah begitu… teman lama?"

Aerisyl seketika mengernyit.

Ia menoleh ke sekitar.

Aerisyl:

"Teman lama…?"

"Rei, siapa yang kau maksud?"

Begitu pertanyaan itu keluar—

sebuah suara perempuan terdengar dari belakang mereka.

Tenang. Ringan. Dan terasa seperti berasal dari seseorang yang sudah terlalu lama hidup dalam bayangan.

Suara Gadis:

"Benar sekali."

"Dia cukup mampu untuk urusan itu."

"Dan… sudah lama tidak bertemu, Rei."

Aerisyl langsung menoleh cepat.

Dari balik bayangan pohon yang gelap…

muncul seorang gadis.

Ia melangkah perlahan keluar dari kegelapan, memperlihatkan siluetnya di bawah cahaya bulan.

Aerisyl membeku.

Ia sama sekali tidak merasakan kehadiran gadis itu sebelumnya.

Tidak sedikit pun.

Aerisyl (dalam hati):

Siapa dia…?

Kenapa kehadirannya tidak bisa kurasakan sama sekali sebelum ia menampakkan dirinya?

Sementara itu, Rei masih menatap gerbang dihadapannya setelah mendengar suara yang sudah familiar.

Ada keterkejutan.

Ada kelegaan.

Dan… ada sesuatu yang lebih lembut dari biasanya.

Rei:

"Benar…"

"Sudah lama sekali."

"Aku kira kau tidak selamat."

"Tapi ternyata kau masih hidup."

"Aku senang mengetahui itu."

Mendengar itu, sang gadis hanya tersenyum kecil.

Senyum yang tenang, namun menyimpan terlalu banyak waktu, terlalu banyak rahasia, dan terlalu banyak masa lalu yang belum dibicarakan.

Dan malam di depan gerbang dimensi itu pun berubah—

karena untuk pertama kalinya setelah sekian lama,

seseorang dari masa lalu Rei benar-benar berdiri di hadapannya lagi.

More Chapters