Cherreads

Chapter 4 - Bab .3 — Taktik Temu

Bertahun-tahun kemudian...

Kabut di lembah utara bergetar pelan.

Bukan karena angin.

Tapi karena sesuatu di dalam diri Shi Liu akhirnya terbangun.

Rubah ekor sepuluh itu membuka mata—merah menyala seperti bara yang ditiup angin gelap. Amarah tua, pekat dan dingin, memancar dari sorotnya. Seolah dunia pun menahan napas.

Pelan, tubuh besarnya mulai berubah.

Bulu putih perak meluruh menjadi cahaya, taring memudar, ekor-ekor panjang menyatu menjadi bayangan tipis.

Suara detak jantung yang lama menghilang kembali menggema di dalam rongga jiwanya. Bukan miliknya… melainkan ingatan seseorang.

Ingatan dari wujud lamanya.

Li Ge.

Sang Rubah Ekor Sepuluh yang pernah tumbuh, bermain, dan berkelana di dunia dengan tubuh fana.

Sekilas bayangan melintas di benaknya—badai kelopak bunga, deretan pegunungan putih, dan senyuman samar dari seseorang yang berlari menembus cahaya. Ingatan itu bukan tentang cinta… tapi tentang kehilangan.

Wujud manusia Shi Liu menggenggam dadanya seolah sesuatu di dalamnya terbakar.

"Li Ge…" bisiknya pelan, suaranya serak, rendah, dan penuh ancaman yang terkendali.

Ingatan itu tidak utuh. Seperti potongan kaca yang retak. Namun cukup untuk menyalakan bara lama yang telah padam selama ribuan tahun—amarah, obsesi, dan ikatan yang belum selesai.

Matanya berubah merah keperakan. Aura dinginnya menggetarkan udara.

Dalam satu helaan napas, sosok manusia berdiri di antara kabut:

Shi Liu — wujud manusia

Tinggi, tegap, dan memancarkan aura yang tidak seharusnya dimiliki manusia biasa.

Rambutnya panjang, jatuh sampai pinggang, berwarna perak dingin yang memantulkan cahaya bulan. Setiap helai rambutnya bergerak pelan seolah terbuat dari kabut itu sendiri.

Kulitnya pucat tanpa cela, seperti porselen yang tidak pernah tersentuh waktu.

Tatapannya…

Merah pekat, dingin, tajam, seperti dua pecahan rubah purba yang muncul melalui tubuh manusia.

Tidak ada kehangatan di sana.

Hanya ancaman.

Busananya sederhana namun megah: jubah hitam panjang dengan garis perak samar, seolah dijahit dari bayangan malam. Tidak ada ornamen, tidak ada simbol — tapi aura kekuatan purba terpancar dari setiap lipatannya.

Wajahnya halus namun keras, proporsi sempurna yang tampak menyesatkan—karena kecantikan tenang itu bukan sesuatu yang boleh didekati. Ada kesan angkuh, jarak, dan bahaya di setiap garis ekspresinya.

Bibirnya tipis, hampir selalu membentuk garis datar yang mengancam. Ketika ia tersenyum… itu bukan senyum. Itu peringatan.

Inilah sosok Shi Liu sebagai manusia—

indah, mematikan, dan terlalu purba untuk dunia ini.

---

Ia mengangkat jemari, merasakan getaran lemah itu lagi.

"…Berani sekali kau muncul."

Bukan rasa lega.

Bukan harapan.

Hanya ancaman yang tak terucap selama ribuan tahun.

Tanah retak di bawah kakinya.

"Pecahan jiwaku… hilang dariku, lalu sekarang berani bergetar di luar tubuhku?"

Shi Liu menunduk, mata merahnya memantik cahaya berbahaya.

Ada seseorang—atau sesuatu—yang menyentuh pecahan jiwanya.

Dan itu membuat amarah rubah purba itu meletus.

"Siapa pun kau…"

Ia mengepalkan tangan; udara pecah bergetar.

"…kau menyentuh sesuatu yang bukan hakmu."

Saat ia melangkah, pepohonan membungkuk seolah tunduk pada kekuatan yang tidak dapat mereka lawan.

Shi Liu menatap ke kejauhan — ke arah pecahan jiwanya yang aktif.

"Aku akan menemukannya," ucapnya dingin.

"Bahkan jika harus merobek tubuhmu untuk mengambilnya kembali."

Ujung bibirnya naik tipis.

"…dan aku berharap kau melawan. Agar aku punya alasan untuk menghancurkanmu."

Dengan itu, Shi Liu masuk ke kabut — sosok bayangan purba yang akhirnya bangkit untuk berburu sesuatu yang seharusnya menjadi miliknya.

---

More Chapters