Setelah meninggalkan area Void Stalker, kami berjalan lebih dalam ke jantung Wasteland. Peta yang diberikan Varg mengarahkan kami ke sebuah lembah tersembunyi yang tertutup kabut ilusi. Menurut Varg, di sanalah satu-satunya tempat aman untuk beristirahat sebelum kami melanjutkan perjalanan ke wilayah selatan yang lebih berbahaya.
"Lila tidak suka tempat ini," gumam Lila sambil memegang erat ujung baju Seraphina. "Baunya seperti... orang tua yang sedih."
"Deskripsi yang spesifik sekali," komentarku sambil mengusap Panci Hitam yang kini kembali tenang (dan dingin) di pinggangku.
Kami menembus kabut ilusi itu. Dan pemandangan di baliknya membuat rahang Elena jatuh ke tanah.
Di depan kami, terdapat sebuah desa kecil yang kumuh namun tertata aneh. Rumah-rumahnya dibangun dari sisa-sisa reruntuhan benteng kuno. Tapi yang paling mencolok adalah bagaimana penghuninya memperlakukan barang-barang mereka.
Seorang pria tua dengan satu lengan sedang menggunakan Kapak Emas Legendaris untuk membelah kayu bakar. Seorang wanita paruh baya sedang menjemur pakaian basah di atas Tombak Suci yang ditancapkan ke tanah. Dan di sudut lain, sekelompok bapak-bapak sedang bermain catur menggunakan Batu Mana Kristal sebagai bidaknya.
[Sistem Alert: Zona Netral Ditemukan.] [Nama: Desa "Lost Glory" (Kejayaan yang Hilang).] [Populasi: 45 Jiwa.] [Status Penduduk: Pensiunan Pahlawan, Mantan "Chosen One", dan Korban Gacha Nasib Buruk.]
"Apa-apaan ini?" bisik Elena, matanya menatap pada pedang bercahaya biru yang dijadikan tiang jemuran celana dalam. "Itu... itu pedang Azure Fang! Senjata legendaris yang hilang 20 tahun lalu saat Pahlawan Garret gagal membunuh Hydra!"
"Yah, setidaknya sekarang pedang itu berguna menjaga celana dalam tetap kering," sahutku.
Kami berjalan menuju gerbang desa yang dijaga oleh seorang pria gemuk berambut jabrik yang sedang tidur mendengkur. Di sampingnya tergeletak perisai besar bertuliskan "Pahlawan Harapan Bangsa" yang kini penuh coretan grafiti.
"Permisi?" sapaku.
Pria itu mendengus, membuka satu matanya. "Hah? Siapa kalian? Penagih pajak? Kami tidak punya uang. Pergi sana, atau aku akan melempar sandal ini."
"Kami pelancong," Elena maju, mencoba menunjukkan wibawanya. "Saya Elena, Ksatria Suci dari Odelia. Kami mencari tempat berteduh."
Mendengar kata "Ksatria Suci" dan "Odelia", pria itu justru tertawa terbahak-bahak. Tawa yang kering dan sinis.
"Woi! Bangun semuanya! Ada 'Pahlawan Baru' yang masih hijau datang berkunjung!" teriaknya ke arah desa.
Puluhan penduduk keluar dari rumah mereka. Mereka menatap Elena dengan tatapan yang sulit diartikan campuran antara kasihan, mengejek, dan sedikit rasa iri.
Seorang pria tua dengan bekas luka bakar di separuh wajahnya berjalan mendekat. Dia berjalan pincang, bertumpu pada tongkat yang ujungnya terbuat dari tulang naga.
"Selamat datang di tempat pembuangan akhir," kata pria tua itu suaranya serak. "Namaku Cid. Dulu aku disebut 'Pedang Halilintar'. Sekarang? Aku cuma Cid si Tukang Kebun."
"Kenapa kalian ada di sini?" tanya Seraphina sopan. "Kalian semua... memiliki aura yang kuat. Kenapa bersembunyi di Wasteland?"
Cid meludah ke tanah. "Karena kami gagal, Nona Manis. Dunia tidak butuh pahlawan yang gagal. Ketika kau kalah melawan Raja Iblis, atau gagal menyelamatkan putri, atau temanmu mati karena kesalahanmu... Kekaisaran tidak memberimu pensiun. Mereka membuangmu. Jadi kami membuang diri kami sendiri ke sini sebelum mereka membunuh kami untuk menutupi aib."
Elena terdiam. Wajahnya pucat. Dia melihat masa depannya sendiri di wajah-wajah lelah ini. Jika dia gagal membunuh Rian nanti... atau jika dia gagal melindungi dunia... inilah nasibnya.
"Masuklah," kata Cid, berbalik badan. "Tapi ingat satu aturan: Jangan bicara soal 'Harapan' atau 'Keadilan' di sini. Kata-kata itu bikin kami mual."
Kami diberi sebuah gubuk kosong untuk istirahat. Suasananya suram. Bahkan Lila tidak berani meledakkan apa pun.
"Mereka... menyedihkan," bisik Elena, duduk di pojok ruangan sambil memeluk lututnya. "Mereka punya kekuatan, tapi mereka menyerah. Mereka membiarkan senjata legendaris mereka berkarat."
"Mereka bukan menyerah, Nona. Mereka cuma lelah," kataku sambil mengeluarkan peralatan masakku. "Dan orang lelah itu biasanya lapar."
Aku keluar gubuk, membawa panci dan sisa bahan makanan kami. Aku berjalan ke alun-alun desa, di mana sebuah kuali besar berisi air hambar sedang direbus untuk makan malam bersama.
"Permisi, Pak Cid," kataku. "Boleh aku pinjam dapurnya?"
Cid mengangkat alis. "Kau mau masak apa? Kami cuma punya nasi sisa kemarin yang sudah keras dan beberapa sayuran layu."
"Sempurna," aku tersenyum. "Nasi sisa adalah bahan terbaik untuk menghidupkan kembali semangat."
Aku menyalakan api. Panci Hitamku memanas. Aku memasukkan lemak (sisa dari bekal Beastmen) ke dalam panci.
SRENGGG!
"Ini namanya Nasi Goreng Daur Ulang: Edisi Harapan Kedua," gumamku.
Aku memasukkan nasi keras itu. Panas dari panci membuat butiran nasi itu menari, memisahkan diri satu sama lain. Aku menambahkan bawang putih geprek, cabai rawit Wasteland, dan kecap manis sisa terakhirku.
Aromanya meledak ke udara. Aroma karamelisasi kecap dan bawang putih yang menyengat, aroma yang menjanjikan kenyamanan rumah.
Para mantan pahlawan yang tadinya duduk melamun mulai menoleh. Hidung mereka bergerak-gerak. Mata mereka yang redup sedikit berbinar.
"Bau apa ini...?" "Baunya seperti... masakan ibu sebelum aku berangkat perang..."
Aku menyajikan nasi goreng itu di piring-piring kayu. Warnanya cokelat mengkilap, dengan butiran nasi yang garing di luar tapi lembut di dalam.
"Makanlah," kataku.
Cid mengambil piring pertama. Dia menyuap sesendok. Dia mengunyah pelan. Matanya terpejam.
Tiba-tiba, air mata mengalir dari mata Cid yang satunya.
"Sialan..." umpat Cid. "Kenapa nasi sisa bisa sebegini enak? Rasanya... hangat."
"Karena nasi sisa itu punya karakter, Pak Tua," jawabku sambil mengaduk panci lagi. "Dia sudah keras, sudah dingin, sudah dibuang. Tapi dengan sedikit api dan bumbu yang tepat, dia bisa jadi lebih enak daripada nasi baru yang lembek."
Cid menatapku. Tatapannya berubah. Dia tidak lagi melihatku sebagai bocah, tapi sebagai seseorang yang mengerti.
"Kau..." Cid menunjuk Elena yang berdiri di pintu gubuk, memperhatikan kami. "Jangan biarkan dia berakhir seperti kami, Koki. Gadis itu... dia memikul beban yang terlalu berat. Aku bisa melihat retakan di jiwanya."
"Aku tahu," jawabku pelan. "Itulah kenapa aku memberinya makan 3 kali sehari. Agar retakannya tertutup lemak dan karbohidrat."
Suasana desa malam itu berubah. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, terdengar suara tawa di Desa Lost Glory. Para mantan pahlawan mulai bercerita tentang masa kejayaan mereka, bukan dengan kepahitan, tapi dengan nostalgia.
Namun, kedamaian itu tidak berlangsung lama. Menjelang tengah malam, tanah bergetar.
[Sistem Alert: Musuh Mendekat.] [Tipe: Cult of the Fallen - Elite Squad.] [Tujuan: Pembersihan "Sampah" (Mantan Pahlawan).]
"Mereka datang lagi," Cid berdiri, meletakkan piringnya yang kosong. Dia mengambil tongkatnya.
"Siapa?" tanya Elena, langsung siaga.
"Penyapu Jalanan," jawab Cid. "Pasukan Cult yang bertugas memburu mantan pahlawan untuk mengambil senjata legendaris kami dan... menyerap sisa mana kami."
Di gerbang desa, selusin Ksatria Hitam muncul. Mereka berbeda dari pasukan Mordred. Mereka lebih cepat, lebih senyap.
"Serahkan senjata kalian, sampah," desis pemimpin mereka. "Dan matilah dengan tenang."
Elena hendak maju, tapi aku menahannya. "Tunggu, Nona. Kau masih terluka."
"Tapi mereka butuh bantuan!"
"Lihat," tunjukku.
Cid maju ke depan. Dia membuang tongkatnya. Dia berjalan tertatih ke arah tiang jemuran, menarik celana dalam yang tergantung di sana, lalu mencabut pedang Azure Fang yang tertancap di tanah.
Cahaya biru meledak dari pedang itu, menerangi wajah tua Cid yang penuh parut luka.
"Sudah lama aku tidak memegangmu, kawan lama," gumam Cid. Dia menatap para penyusup itu. "Kalian mengganggu makan malamku yang paling enak dalam sepuluh tahun terakhir. Itu dosa besar."
Di belakang Cid, pria gemuk yang tadi tidur mengambil perisainya. Wanita yang menjemur baju mengambil tombak sucinya. Pria bertangan satu mengangkat kapak emasnya.
Mata mereka tidak lagi kosong. Nasi goreng itu dan memori tentang siapa mereka dulu telah memantik api kecil di dalam dada mereka.
"FORMASI LANSIA!" teriak Cid. "TUNJUKKAN PADA ANAK-ANAK MUDA INI CARA BERTARUNG GENERASI LAMA!"
Pertempuran pecah. Dan itu bukan pertempuran seimbang. Itu pembantaian. Para mantan pahlawan itu mungkin tua dan cacat, tapi pengalaman tempur mereka tak ternilai. Cid bergerak seperti kilat biru, memenggal tiga musuh dalam satu ayunan.
Elena menatap mereka dengan mulut ternganga. "Mereka... kuat sekali."
"Nasi gorengku memang ajaib," kataku bangga, meski aku tahu itu bukan cuma karena nasi goreng. Itu adalah harga diri yang bangkit kembali.
Setelah musuh mundur (atau mati), Cid menghampiri kami. Napasnya tersengal, tapi dia tersenyum lebar.
"Terima kasih, Koki. Sudah lama aku tidak merasa hidup," kata Cid.
Dia kemudian menatapku serius. "Kalian menuju ke selatan, kan? Ke wilayah Reruntuhan Kuno?"
"Benar."
Cid merogoh saku celananya dan melemparkan sebuah lencana tua berkarat padaku.
"Bawa ini. Di sana ada 'Perpustakaan Terlarang' yang dijaga oleh Golem Penjaga. Lencana itu milikku dulu. Tunjukkan pada Golem itu, dia akan membiarkanmu lewat. Di perpustakaan itu... ada catatan tentang Cara Memisahkan Jiwa."
Mataku membelalak. "Memisahkan jiwa?"
"Itu riset terakhirku sebelum aku pensiun," kata Cid. "Aku gagal menyelesaikannya. Tapi mungkin... kau dan teman kecilmu di dalam sana (Astaroth) bisa memanfaatkannya."
Ini dia. Petunjuk yang kami cari. Solusi selain membunuhku.
"Terima kasih, Pak Cid!"
"Pergilah sebelum aku berubah pikiran dan memintamu jadi koki pribadiku selamanya," usir Cid sambil tertawa.
Kami meninggalkan Desa Lost Glory dengan perasaan yang jauh lebih ringan. Harapan itu ada, tersembunyi di dalam nasi sisa dan hati orang-orang yang pernah gagal.
[Corruption Meter: 3.00% (Stabil)] [Item Baru: Lencana Cid (Kunci Perpustakaan Terlarang).]
Namun, saat kami berjalan menjauh, aku melihat bayangan Elena yang memanjang di tanah. Bayangan itu tampak... aneh. Seolah-olah ada sesuatu yang sedang menumpang di sana, tersenyum lebar melihat punggungku.
Aku mengabaikannya. Mungkin hanya imajinasiku. Atau mungkin, 3% yang kukuasai tadi mulai memberiku penglihatan yang tidak seharusnya kulihat..
