Cherreads

Third Eye Blind

rthur
7
chs / week
The average realized release rate over the past 30 days is 7 chs / week.
--
NOT RATINGS
55
Views
Synopsis
Di kota yang tampak biasa dari luar, ada rahasia yang berjalan diam-diam di antara kereta dan stasiun. Korban muncul tanpa jejak, dan pola kematian mereka terasa terlalu rapi untuk sekadar kebetulan. Flinche Iuno, detektif dengan insting tajam, harus menelusuri petunjuk yang hampir tak terlihat, memahami pikiran seseorang yang bergerak di bayang-bayang, dan menghadapi kenyataan bahwa dalam permainan ini, kesalahan sekecil apa pun bisa berakhir fatal.
VIEW MORE

Chapter 1 - Chapter 1 : Pembunuhan di jalur kereta

Kereta terakhir melintas pukul 23.47.

Di distrik timur kota Red Reef, suara logam beradu dengan rel memantul terlalu lama, seolah kota enggan melepaskan malamnya. Lampu peron berkedip tidak stabil. Udara lembap. Bau besi, debu, dan oli tua bercampur jadi satu. Flinche Iuno berdiri di tepi peron, tangan kanan di saku mantel, mata menatap kosong ke arah rel, ia sudah berada di sana selama dua puluh menit, bukan karena menunggu kereta, Ia menunggu sesuatu yang tidak terlihat.

Di belakangnya, Mara mengawasinya dengan mata tajam. "Tidak ada saksi tambahan," katanya, tanpa menunggu jawaban. "Semua yang ada di peron mengaku tidak melihat apa pun." Flinche tidak menoleh, suaranya rendah ketika ia menjawab, "Tidak ada saksi bukan berarti tidak ada yang melihat." Mara menatap rel, memegang map tipis berwarna coklat, rambutnya di urai sepanjang bahu, dan tidak lepas dari garis rel yang membentang di depan mereka. "Korban ditemukan pukul 00.12," ia melanjutkan. "Tubuh terpotong bersih, tanpa tanda perlawanan, tanpa luka tambahan." 

Flinche menghela napas pendek, menunduk sebentar, "Tidak ada darah di peron." Mara menutup mapnya dan menatapnya, "Petugas forensik juga berpikir sama." Flinche menatapnya sekilas, lalu kembali ke rel. "Jam terakhir korban terlihat hidup?"

"23.41," Mara menjawab, tanpa menatapnya. "Petugas tiket melihatnya berdiri sendirian di ujung peron. Tidak panik, tidak berbicara dengan siapa pun." Flinche tetap diam, mata mengikuti pergerakan bayangan malam di rel. Ia menunduk lebih dalam, memeriksa setiap detail yang tampak sepele. "Ia menunggu seseorang," katanya pelan, lebih pada dirinya sendiri. Mara menatapnya heran. "Siapa?"

Flinche tidak menjawab langsung. Angin malam menggerakkan kertas-kertas yang tersangkut di pagar. Suara kota jauh di luar terasa asing di peron ini. "Seseorang yang akan datang," akhirnya ia berkata. Pembunuhan keempat dalam dua minggu terjadi di stasiun ini, jalur aktif, tanpa saksi, dan selalu satu hal sama—tidak ada kesalahan. Pelaku tidak improvisasi, ia tahu persis kapan kereta datang, posisi kamera, dan di mana berdiri agar tak terlihat. Mara menatap deretan kamera di atas mereka, menyadari, "Artinya ia paham sistem." Flinche menambahkan, "Dan paham kota ini."

Langkah kaki terdengar dari ujung peron, dua petugas kepolisian lewat tanpa memperhatikan mereka. Flinche menyukai itu. Mara menyinggung, "Ravel ingin laporan awal besok pagi." Flinche menoleh, datar, "Ravel ingin jawaban cepat. Kasus ini tidak cepat." Mara menarik napas pelan, "Ia juga bertanya apakah perlu bantuan unit lain." Flinche tetap dingin. "Tidak. Terlalu banyak orang hanya mengubah pola pelaku."

Mereka berdiri di peron yang hening, menunggu kereta berikutnya. Di kota ini, seseorang sudah bersiap, dan waktunya dekat. Flinche menatap rel gelap. Sunyi. "Ini bukan pembunuhan," katanya akhirnya, suara hampir tidak terdengar. Mara menatapnya menunggu, dan Flinche menambahkan, "Ini pesan. Dan pesan yang baik selalu diulang."

Kereta pertama pagi itu akan melintas enam jam lagi. Dan seseorang di kota ini sudah bersiap berdiri di peron sekali lagi.

Pagi datang ke Red Reef tanpa perubahan. Stasiun kembali ramai, tapi bagi Flinche Iuno dan Mara, keramaian itu hanyalah latar. Dari balik jendela kafe yang buram, Flinche menatap pintu masuk stasiun, tangannya tetap di saku mantel. Ia tidak memesan kopi; perhatiannya tertahan pada detail yang hanya ia pedulikan.

Mara menatap catatan yang dibawanya, potongan waktu dan posisi peristiwa, coretan-coretan tipis yang bagi orang lain tampak tak berarti. "Rekaman dari stasiun sebelumnya sudah masuk," katanya, nada pelan. "Polanya konsisten." Flinche tidak mengangkat kepala. "Selalu konsisten," gumamnya.

Dua menit sebelum kereta tiba, kamera mati di sektor korban. Tidak pernah lebih, tidak pernah kurang. "Pelaku menghormati waktu," Flinche menambahkan, menandai garis di kertas. "Atau takut melanggarnya." Mara menatapnya, ragu. "Itu terdengar seperti asumsi." "Semua penyelidikan dimulai dari asumsi," jawab Flinche, "yang membedakan hanya seberapa cepat asumsi itu salah."

Empat korban sejauh ini, semuanya berbeda latar, tidak saling terkait. "Bukan itu yang kita cari," kata Flinche, tangannya menutup catatan. "Yang harus diperiksa adalah pola hidup, jam tidur, rute harian, kebiasaan kecil. Itu yang pelaku perhitungkan." Mara diam, menyadari bahwa detail sekecil itu akan memakan waktu, namun Flinche hanya menatap keramaian di luar jendela, mata tak lepas dari arus manusia yang datang dan pergi.

"Petugas tiket semalam mengingat percakapan singkat korban," Mara melanjutkan, menutup mapnya sebentar. Flinche menoleh. "Deskripsi?" Mara menghela napas, "Tinggi rata-rata, pakaian gelap, tidak mencolok. Tidak ada yang bisa dijadikan petunjuk." Flinche tersenyum tipis, tanpa humor. "Deskripsi paling berbahaya. Artinya disengaja. Dan hanya orang yang paham pola yang meninggalkannya."

Mereka meninggalkan kafe, berjalan ke kantor tiket. Ruangan sempit, monitor dan jadwal cetak menempel di dinding. Petugas paruh baya duduk kaku, tangan saling bertaut. Flinche berdiri, tidak mendekat, tidak duduk. "Ceritakan ulang," katanya, nada datar. Petugas itu menelan ludah, ragu. "Saya… saya tidak yakin itu penting." Flinche menatapnya. "Kalau tidak penting, kami tidak akan berada di sini."

Pria itu menarik napas. "Mereka berdiri di ujung peron. Tidak lama. Saya melihat dari jauh." Mara menambahkan, "Korban memulai percakapan?" Petugas itu menggeleng. "Bukan. Yang lain mengatakan sesuatu sebelum pergi. 'Bukan hari ini.'" Flinche menatap Mara, diam sesaat, lalu berkata, "Kalimat itu tidak masuk akal? Masuk. Ini janji-janji untuk kembali." Mara menatap lantai. "Artinya korban mengenal pelaku?" Flinche mengangguk, "Atau setidaknya mengenal perannya. Dan pembunuh memanfaatkan itu."

Di antara deru kereta dan pengumuman jadwal, ada satu hal yang jelas seseorang di kota ini tidak hanya membunuh. Ia sedang menguji sesuatu. Dan Flinche baru saja masuk ke dalam ujiannya.

Flinche Iuno berdiri di sudut peron Red Reef, matanya menelusuri setiap gerakan manusia yang melewati jalur kereta. Di tangannya, map tipis Mara penuh coretan dan angka; setiap titik, setiap detik, setiap arah ditandai dengan ketelitian yang menakutkan. Mara berdiri di dekatnya, memeriksa ulang rekaman kamera, tetap diam. Mereka tidak berbicara banyak karena tidak perlu.

Empat korban, Mara akhirnya berkata dengan suara datar tapi tegang. Tidak ada kesamaan di permukaan. Tidak ada hubungan. Flinche menunduk ke garis rel yang gelap, pikirannya berputar cepat. Tidak ada hubungan yang terlihat bukan berarti tidak ada hubungan sama sekali. Pola hidup. Kebiasaan. Rutinitas. Itulah yang dihitung pelaku.

Mara menghela napas. Dan korban berikutnya? Flinche menatapnya, mata hitamnya tajam namun dingin. Ia akan muncul. Saat waktunya tepat. Tidak ada yang bisa menghentikannya selain kesalahan kita sendiri.

Mereka berjalan pelan menuju ujung peron, mata terus menyapu lingkungan. Hanya beberapa penumpang yang tersisa, gerakan mereka biasa, tak ada yang menonjol. Tapi Flinche tahu setiap detail kecil bisa menjadi perbedaan antara hidup dan mati.

Tiba-tiba sesuatu bergerak di sisi rel, terlalu cepat untuk diperhatikan oleh Mara, tapi tidak oleh Flinche. Sesuatu terlalu besar untuk manusia melintas, bayangan yang melengkung dengan bentuk aneh, cacat tapi penuh kekuatan. Flinche melangkah mundur secara instingtif, tapi sudah terlambat. Mara berteriak, satu suara pecah di udara malam, dan tubuhnya terseret bayangan itu sebelum Flinche sempat bereaksi.

Seketika sesuatu muncul dari dirinya sendiri, bukan dari bayangan luar. Anchor Eye Flinche aktif tanpa sengaja, menyebarkan energi yang membentuk wujud Stealer besar, gelap, dan kuat. Mata kiri Flinche berkilat sementara wujud Stealer itu bergerak cepat menghadapi makhluk cacat yang menyerang.

Kota Red Reef tetap sunyi, seolah malam itu tidak pernah terjadi. Tapi di dalam hati Flinche, ledakan kekuatan yang belum sepenuhnya ia kendalikan membuatnya sadar bahwa pertarungan ini baru dimulai dan konsekuensinya jauh lebih berat daripada yang ia bayangkan.