Hari pertama semester baru, guru memintaku duduk di sebelah Sena.
Ia tersenyum, sederhana, tapi cukup membuatku lupa cara bernapas normal.
"Nama aku Sena," katanya.
Aku mengangguk. "Ryo."
Sejak hari itu, sekolah terasa berbeda.
Sena meminjamkan pulpen, menanyakan PR, dan menertawakan leluconku yang sebenarnya biasa saja.
Aku mulai menunggu pagi—hanya untuk duduk di bangku itu lagi.
Sena dekat dengan banyak orang.
Saat ia tertawa dengan cowok lain, dadaku sesak.
"Aneh," kata Fadil, "kamu cemburu tapi nggak berani jujur."
Aku diam. Ia benar.
Kami belajar kelompok di perpustakaan.
Hujan turun, membuat suasana sunyi.
"Kamu selalu serius," kata Sena.
"Karena aku takut gagal," jawabku.
Ia menatapku lama. "Aku juga."
Aku sadar: perasaan ini bukan sementara.
Aku mulai menyukai caranya mendengarkan, caranya peduli.
Tapi aku takut merusak persahabatan.
Sena tiba-tiba menjauh.
Pesan singkat, senyum berkurang.
Aku mendengar kabar—ia akan pindah sekolah karena orang tuanya.
Aku ingin bicara.
Tapi selalu berkata, "nanti."
Sampai hari itu datang terlalu cepat.
Di halte dekat sekolah, aku mengejarnya.
"Aku suka kamu," kataku.
Sena terdiam, lalu tersenyum kecil.
"Aku menunggu kamu bilang itu," ucapnya pelan.
Kami tidak pacaran.
Kami berjanji—untuk jujur dan saling mendukung, meski terpisah jarak.
Tahun berlalu.
Kami tumbuh, belajar, dan tetap saling mengirim kabar.
Perasaan itu tidak pudarTahun berlalu.
Kami tumbuh, belajar, dan tetap saling mengirim kabar.
Perasaan itu tidak pudar.
Di reuni sekolah, aku melihat Sena lagi.
Lebih dewasa, tapi senyumnya sama.
"Kamu masih di bangku sebelah?" candanya.
Aku tersenyum. "Selalu."
Cinta tidak selalu lahir dari momen besar.
Kadang, ia tumbuh dari bangku sebelah—
dan keberanian untuk berkata jujur.
TAMAT
