Kaivan terkekeh pelan, hatinya menghangat oleh antusiasme Radit. Ia menyandarkan tubuh di kursi, memperhatikan ekspresi sahabatnya dengan rasa hangat yang tenang.
"Itu bagus, Radit. Aku tahu kamu memang selalu punya bakat untuk hal-hal seperti itu," ucapnya dengan kekaguman tulus. "Oh ya, hari ini aku mau ke bengkel. Aku ingin membicarakan beberapa ide baru dari perjalananku kemarin. Banyak yang harus kita rencanakan."
Di seberang ruangan, seseorang memperhatikan mereka dengan tatapan sulit ditebak. Tania duduk bersama Dandi dan Rina, dua sahabat setianya. Matanya sedikit menyipit, penuh keraguan yang sunyi.
"Bongkar ponsel? Mereka sebenarnya sedang ngapain sih?" gumamnya pelan.
Dandi yang duduk di sebelahnya menangkap ucapan itu dan terkekeh. "Kenapa, Tania? Jangan-jangan kamu tiba-tiba tertarik sama si kutu buku itu?" godanya dengan senyum lebar.
Tania mendengus, menepis ejekan itu. "Tertarik? Tentu tidak. Aku cuma penasaran kenapa dia kelihatan dekat sekali dengan Radit, itu saja," jawabnya dingin. Namun, matanya tetap tertuju pada Kaivan, sebuah rasa ingin tahu yang tak sepenuhnya bisa ia sembunyikan.
Suasana pun sedikit berubah. Radit yang dipanggil oleh sekelompok teman sekelasnya bangkit dari tempat duduk. Sebelum pergi, ia menundukkan kepala singkat ke arah Kaivan.
"Yo, Kaivan. Sampai nanti," katanya singkat.
Kaivan mengangkat alis, agak terkejut dengan sikap Radit yang tak biasa. "Oke, Radit. Sampai nanti," balasnya, meski sebuah tanda tanya pelan muncul di benaknya. Radit pun melangkah pergi dengan penuh percaya diri.
Dari sudut lain, Tania, Dandi, dan Rina mengikuti setiap gerak Radit dengan pandangan mereka. Dandi mengusap dagunya, menatap adegan itu dengan heran. "Tadi itu apa? Radit… nunduk ke Kaivan? Aku lagi mimpi, ya?" candanya.
Rina, yang biasanya pendiam, mengangguk sambil membetulkan kacamatanya. "Itu aneh. Radit biasanya tidak peduli pada siapa pun. Tapi barusan… rasanya dia menghormati Kaivan," ujarnya pelan.
Tania memutar mata, berusaha menutupi kegelisahan yang mulai tumbuh. "Radit cuma lagi aneh. Tidak ada yang spesial dari Kaivan," katanya datar, meski pikirannya sibuk mengurai momen yang baru saja ia lihat.
Dandi menyeringai licik, jelas ingin memancing reaksi. "Hei, Tania. Kalau kamu sepencuri itu, kenapa tidak langsung tanya Kaivan saja? Bukankah dulu dia pernah nembak kamu? Siapa tahu dia masih punya perasaan."
Ucapan itu menarik senyum tipis dari bibir Tania, meski ia berusaha keras menjaga wajahnya tetap tenang. "Itu sudah lama sekali. Jangan bahas hal konyol begitu," jawabnya, dengan getaran samar di suaranya.
Namun, kata-kata Dandi sudah menanamkan benih di benaknya. Tania pun bangkit, melangkah perlahan ke arah Kaivan yang tengah menikmati kesendiriannya. Sinar matahari masuk ke kantin, menciptakan bayangan panjang di lantai. Setiap langkahnya terasa disengaja, senyum cerianya tergantikan oleh ekspresi yang sedikit tegang.
"Hai, Kaivan," sapa Tania saat mendekat, mengangkat tangan dengan ragu, berharap mendapat perhatiannya.
Namun Kaivan tidak merespons. Ia terus melangkah, pandangannya lurus ke depan, seolah Tania hanyalah angin yang lewat. Langkahnya tenang namun pasti, meninggalkan kesan yang membuat Tania mendadak merasa tak terlihat.
Ia membeku, matanya membesar tak percaya. Jantungnya berdegup kencang, perasaan aneh menggulung di dadanya. "Apa aku… barusan diabaikan?" bisiknya. Wajahnya berubah antara bingung dan kesal. "Aku? Diabaikan?!" serunya tanpa sadar.
Kembali ke meja tempat Dandi dan Rina menunggu, Tania berusaha menata diri. Namun setiap langkah terasa berat, pikirannya dipenuhi bayangan Kaivan. Potongan masa lalu terulang di benaknya, membuatnya bertanya-tanya apakah selama ini ia telah melewatkan sesuatu yang penting.
Matahari senja menyelimuti kota dengan cahaya keemasan yang lembut. Di sudut sunyi yang jarang dilewati orang, berdiri sebuah bangunan tua, megah namun diam, seakan menyimpan rahasia waktu. Di dalamnya, sebuah gudang tersembunyi menjadi markas Kaivan dan kawan-kawannya: tempat di mana ambisi, kerja keras, dan persahabatan menyatu dalam harmoni yang tak terduga.
Pintu gulung berderit saat Kaivan mendorongnya ke atas, suaranya menggema di lorong remang seperti nada pembuka sebuah kisah misterius. Aroma logam bercampur debu memenuhi udara, disertai dengung mesin dan gemerisik komponen elektronik yang berserakan. Lampu redup memanjangkan bayangan-bayangan gelisah di dinding yang usang.
"Bagaimana hasil bongkarnya?" tanya Kaivan, suaranya memecah keheningan yang hanya diisi dengung peralatan. Pandangannya menyapu ruangan, hangat oleh harapan tenang saat mencari wajah-wajah yang sudah ia anggap keluarga.
Zinnia menoleh dari pekerjaannya, sepasang pinset kecil di tangannya. Kuncir ungunya bergoyang ringan saat ia tersenyum. "Hari ini kita dapat lima puluh delapan gram emas!" lapornya ceria. "Dan masih ada setengah karung ponsel bekas."
Tak jauh dari sana, Radit duduk bersila dengan kalkulator usang di pangkuannya. Ia mendongak, kepuasan terukir di wajahnya. "Lumayan. Dengan harga sekarang, itu sekitar dua belas juta rupiah. Dibagi empat, masing-masing dapat tiga juta." Nada suaranya penuh kebanggaan, seperti seorang perencana yang puas melihat strateginya berhasil.
Kaivan membalas dengan senyum kecil, meski ada kilau yang lebih dalam di matanya, sebuah rasa lapar akan pencapaian yang lebih besar. "Kita harus bongkar semuanya. Aku menemukan pemasok baru yang mau menjual ponsel bekas lebih banyak dengan harga miring," katanya, menyalakan semangat baru di udara.
Dari sudut ruangan, Fran melirik dari balik mesin berat yang sedang ia periksa. "Jadi itu alasan kamu menghilang kemarin? Cari pemasok?" godanya, meski ada kekaguman di balik senyumnya.
Kaivan mengangguk sambil menepuk debu di bajunya. "Iya. Kalau kita pertahankan ritme ini, target kita tercapai lebih cepat dari perkiraan. Dan malam ini," tambahnya mantap, "kita rayakan hasil kerja kita."
Pandangan mereka bertemu dalam tekad yang sama, dan ruangan kembali dipenuhi bunyi alat serta ritme kerja yang rendah. Zinnia bergerak lincah, jarinya menari di atas rangkaian kecil. "Kaivan, asam nitrat kita habis," serunya santai.
Radit, dengan dahi berkerut, terus mencatat angka demi angka. "Catat apa saja yang menipis, nanti aku beli di toko kimia di Jalan Kopo," katanya sambil mengusap keringat.
Fran mengangkat satu karung ponsel ke meja utama. Ototnya menegang, namun senyum santainya tak pudar. "Kalau mau lebih cepat, kita butuh peralatan yang lebih bagus. Kita bisa investasikan sebagian hasil hari ini," sarannya.
Di tengah ruangan, Kaivan seperti dirigen sebuah orkestra. Gerakannya mantap, suaranya tegas namun hangat. "Zinnia, cek sisa asam nitrat. Fran, bantu aku bawa karung berikutnya," perintahnya tanpa ragu. "Semuanya harus beres sebelum malam."
Menjelang sore, hasil mereka melampaui dugaan. Kaivan memegang sejumput emas di tangannya, menatapnya dengan kebanggaan tenang. "Dua puluh lima gram dalam satu hari. Luar biasa, semuanya," ujarnya, senyum melembutkan wajahnya yang biasanya penuh tekad.
Setelah pekerjaan selesai, mereka merapikan ruangan dan bersiap untuk tahap berikutnya. Kaivan dan Radit membawa emas itu ke pembeli tepercaya. Prosesnya terasa seperti sebuah ritual, bukti dari perjuangan yang mereka lalui bersama. Uang yang mereka dapatkan bukan sekadar imbalan, melainkan simbol ikatan yang menguatkan mereka.
Malam itu, mereka merayakan keberhasilan di Ludwig Café, tempat penuh kenangan, di mana aroma kopi hangat menyambut di setiap sudut. Kaivan duduk di tengah sahabat-sahabatnya, menyadari bahwa mereka kini bukan sekadar tim, melainkan keluarga yang terikat oleh sesuatu yang lebih dalam.
Saat senja benar-benar tenggelam menjadi malam, Kaivan kembali berdiri di bawah cahaya hangat gudang tua tempat ia bekerja. Aroma logam dan debu masih menggantung, membungkus ruangan dengan rasa akrab yang menenangkan. Tempat itu kini terasa seperti rumah, pelabuhan bagi perjuangan dan pencarian makna.
Di tangannya, Tome Omnicent terbaring.
Dengan jari yang bergetar oleh harapan, ia membuka halaman-halamannya. Sentuhan kertas rapuh itu mengirim denyut halus ke tubuhnya, seolah sihir terbangun di serat-seratnya. Di bawah cahaya redup, huruf-huruf membentuk kalimat yang terasa hidup:
"Setelah makan malam, pergilah ke Taman Sukajadi, dan bersikaplah baik pada gadis yang sedang menangis."
Kaivan membaca baris itu dengan saksama, alisnya berkerut dalam pikir.
"Bersikap baik… tanpa membawa apa pun hari ini?" gumamnya, antara penasaran dan ragu. Ia menutup buku itu perlahan, menatap dinding kosong, berusaha mengurai makna di balik pesan tersebut.
