Cherreads

Chapter 58 - Bintang di Atas, Bayangan di Depan

Kaivan menelan ludah dengan susah payah. Pikirannya berputar cepat, mencari jalan keluar dari situasi canggung itu. Tanpa sempat berpikir panjang, ia membuat keputusan nekat. Handuk itu terlepas dari tangannya.

Thivi membeku, matanya membesar. "Waaah!"

Sebelum ia sempat bereaksi lebih jauh, Kaivan dengan cepat membungkuskan handuk itu ke tubuh Thivi, lalu mendorongnya keluar dari kamar mandi.

"Kembalikan setelah aku selesai," katanya singkat, lalu menutup dan mengunci pintu.

Di luar, Thivi berdiri tanpa bergerak, masih terbungkus handuk. Wajahnya memerah panas, namun senyum kecil tetap tertarik di bibirnya. Di dalam, Kaivan akhirnya menemukan sedikit ketenangan untuk mandi, meski pikirannya terus berputar tanpa henti. Ia tahu, minggu yang akan datang pasti jauh dari kata biasa.

Malam pun turun. Rumah kembali tenggelam dalam keheningan. Di meja makan, Kaivan dan Thivi duduk saling berhadapan. Hidangan sederhana terletak di antara mereka, namun keheningan di sana terasa lebih berat daripada kata-kata apa pun. Senyum ceria Thivi tak pernah goyah, meski ada sesuatu yang tak terucap, seperti tawa yang tertahan di tenggorokannya.

Kaivan makan perlahan, sesekali mencuri pandang ke arah Thivi yang menikmati makanannya. Ia memilih menahan diri, sementara Thivi tampak bersikeras berpura-pura tidak terjadi apa-apa. Namun tetap saja, rasa penasaran berkilat di mata Kaivan, mustahil disembunyikan.

Setelah mereka selesai, Kaivan menghela napas panjang. Ia butuh udara segar.

"Thivi," panggilnya, suaranya rendah namun tegas. Thivi mengangkat kepalanya.

"Bawa rokokmu. Kita ke atap."

Alis Thivi terangkat kaget, tapi ia tidak menolak. Ia merogoh tasnya, lalu mengeluarkan rokoknya. "Kamu duluan, Kaivan," katanya dengan senyum kecil, mencoba mencairkan keseriusan yang tiba-tiba memenuhi udara.

Di bawah langit malam yang dipenuhi bintang, mereka duduk berdampingan di atap, membiarkan angin malam menyentuh wajah mereka. Kaivan menyalakan rokok, mengembuskan asap seolah mencoba mengusir beban yang menekan dadanya. Di sampingnya, Thivi menatapnya dengan saksama.

"Kenapa tadi kamu tidak membiarkan aku menggosok punggungmu?" tanyanya ringan, meski ada nada tersembunyi di balik kata-katanya.

Kaivan hanya tersenyum tipis. "Lupakan. Bukan itu yang ingin aku bicarakan." Nada suaranya berubah.

Thivi mengulurkan rokoknya. "Kalau begitu, apa, Kaivan?"

Ia menarik napas dalam-dalam, asap rokok menghilang ke langit malam. "Aku harus pergi lagi," katanya datar, meski beban di suaranya jelas terasa. Tatapannya menajam. "Omnicent Tome memberiku petunjuk. Aku harus mencari seseorang di Purwakarta."

Thivi langsung menoleh. "Seseorang? Siapa?" Suaranya merendah, diselimuti kegelisahan.

"Namanya Raphael. Aku tidak akan sendirian. Ethan akan membantu." Mata Kaivan terpaku pada bara rokoknya yang mulai meredup.

Thivi bersandar, menatap langit. "Ethan? Dia benar-benar sepenting itu?"

"Dia mantan gangster. Dia tahu dunia bawah lebih baik dari kebanyakan orang. Raphael bukan orang biasa. Dia punya kaitan dengan teroris. Tome bilang dia adalah kunci untuk sesuatu yang lebih besar."

Keheningan menyelimuti mereka. Ekspresi Thivi mengeras. "Jadi ini bukan sekadar misi biasa. Kamu tahu ini berbahaya."

Kaivan mengangguk pelan. "Aku tidak bisa mundur. Tome tidak pernah salah. Yang bisa kulakukan hanya mengikuti."

Dengan gerakan cepat, Thivi menyalakan rokoknya, lalu mengembuskan asap dengan tajam. "Kalau menurutku, ini bukan lagi sesuatu yang pantas ditangani anak-anak. Setiap hari kelihatannya makin berbahaya."

Kaivan menatap matanya, tanpa berkata apa-apa. Hanya anggukan pelan dan berat. Malam kembali mengambil alih keheningan mereka, dan di dalam diam itu, benih keputusan besar mulai tumbuh.

Saat mereka akhirnya turun dari atap, suasana di dalam rumah terasa lebih berat. Tanpa kata, Thivi masuk ke kamar Kaivan, sementara Kaivan berjalan lelah menuju ruang tamu. Langkahnya memantulkan kelelahan, seperti seseorang yang sudah terbebani oleh masa depan yang menunggu.

Berbaring di sofa, Kaivan menatap langit-langit. Matanya tetap terbuka, pikirannya dipenuhi bayangan Raphael dan Ethan. Nama mereka berputar di kepalanya, seperti teka-teki yang menunggu dipecahkan. Akhirnya, kelopak matanya menutup. Dalam gelap, ia mencari ketenangan, meski hari esok terasa seperti badai yang siap datang.

Pagi datang perlahan. Cahaya lembut menyusup melalui celah tirai. Sinar itu menyentuh wajah Kaivan yang tertidur, membangunkannya perlahan. Ia meregangkan tubuh, mengucek matanya, meski rasa lelah kemarin masih tersisa. Dengan gerakan malas, ia bangkit, merapikan rambutnya yang berantakan, lalu berjalan menuju kamar mandi.

Dari dapur terdengar suara ceria Thivi dan Teh Kira, bercampur dengan bunyi peralatan masak. Udara dipenuhi aroma hangat sarapan, membuat rumah terasa nyaman. Saat mengintip ke dalam, Kaivan melihat Thivi berdiri di dekat kompor, rambut pendeknya sedikit berantakan namun tetap manis, sementara Teh Kira sibuk menyiapkan piring.

"Ini buat makan siang, ya? Jangan lupa dimakan," kata Thivi ceria, menyerahkan kotak makan.

Kaivan menerimanya dengan ragu, namun senyum kecil muncul di bibirnya. "Terima kasih, Thivi," jawabnya pelan. Sederhana, tapi tulus.

Setelah sarapan hangat, Kaivan bersiap berangkat ke sekolah. Langkahnya mantap, meski pikirannya masih terikat pada petunjuk dari Omnicent Tome. Namun pagi itu, kehangatan rumah dan kebaikan kecil dari orang-orang di sekitarnya cukup untuk menenangkan hatinya yang gelisah.

Pagi itu, sekolah seramai biasanya, dipenuhi tawa, obrolan, dan langkah kaki yang tergesa. Kaivan berjalan perlahan di koridor, mencari sedikit ketenangan di tengah kekacauan hidupnya.

Namun di gerbang depan, langkah kaki baru memasuki area sekolah. Felicia berdiri anggun dengan seragam SMA, rambut hitam panjangnya tergerai, mata merahnya menyapu halaman sekolah. Senyum lembut mekar saat ia melangkah maju. Hari ini, ia resmi menjadi bagian dari dunia Kaivan.

More Chapters