Cherreads

Chapter 184 - Malam Saat Ia Pulang Terlambat

Malam itu, rumah Kaivan terlihat sehangat biasanya. Cahaya matahari sore masuk lembut melalui jendela, menciptakan bayangan keemasan di seluruh ruangan. Aroma samar teh hangat yang baru diseduh memenuhi udara, menyempurnakan suasana damai di sana, namun ada sesuatu yang terasa salah. Tamu yang datang hari itu bukan tamu biasa. Di balik senyumnya, Vella membawa badai yang tak terlihat.

Ibu Kaivan duduk tenang di sofa. Senyum lembutnya tidak memudar meski ia menyadari betapa tegangnya Vella terlihat. "Baiklah, nanti akan saya bicarakan dengan Kaivan," ucapnya pelan. "Tapi saya ingin mendengarnya langsung darinya. Kenapa dia sampai melakukan hal seperti itu?"

Senyum tipis Vella bergetar oleh kepahitan tersembunyi. Ibu Kaivan berdiri dari duduknya, mencoba mencairkan suasana. "Apa kamu mau minum sesuatu? Saya buatkan teh dulu."

Namun usaha itu justru semakin memancing emosi Vella. Ia merasa diabaikan, diperlakukan seolah dirinya tidak penting. "KAIVAN MEROBEK KONTRAK BISNISKU MENJADI DUA BAGIAN!" teriaknya. Dari dalam tasnya, tangannya menggenggam sesuatu, Tome of Omniphilos yang bercahaya samar dan membuat udara di sekitar mereka bergetar halus.

Ibu Kaivan membeku. "Apa maksudmu?" tanyanya dengan suara gemetar. Namun Vella hanya tersenyum, senyum miring yang terasa dingin.

Senyum Vella yang awalnya tampak tipis kini mengembang, namun bukan senyum ramah itu senyum yang dipenuhi kegilaan. "AKAN KUBUAT HAL YANG PENTING BAGINYA MENJADI DUA BAGIAN JUGA!" teriaknya. Dengan kecepatan dan ketangkasan yang luar biasa, ia mengayunkan tangannya. Dalam sekejap, Vella menggunakan kekuatan Tome Omniphilos untuk memadatkan serpihan kaca di meja, mengubahnya menjadi bilah tajam yang berkilauan di bawah sinar matahari. Kaca-kaca itu bergetar, berdesis seperti ular yang siap menyerang.

Dalam sekejap, pecahan kaca di atas meja memadat menjadi bilah tajam berkilau. Udara bergetar. Pecahan itu melesat cepat.

Sebuah suara berat pecahan kaca terdengar jatuh ke lantai. Ruangan hangat itu langsung tenggelam dalam kesunyian yang menyesakkan. Darah perlahan menyebar di lantai kayu seperti tinta merah.

Dari dapur, Teh Kira mendengar suara benturan mendadak itu. Ia segera berlari sambil membawa nampan teh. "Ibu, biar aku..." Suaranya terhenti. Tubuhnya membeku.

Nampan itu terlepas dari tangannya. Cangkir-cangkir jatuh pecah saat matanya menatap pemandangan di hadapannya. "Ibu!!" jeritnya sambil berlutut dan memeluk tubuh ibunya yang tak bergerak.

Air mata mengalir tanpa henti. Darah membasahi tangannya dan meresap ke pakaian putihnya hingga berubah merah pekat. Vella hanya memandanginya tanpa ekspresi, meski ada kepuasan samar di matanya. "Kalian memang keras kepala," ucapnya pelan.

Dengan gerakan anggun, ia menarik paku-paku dari dinding lalu memadatkannya menggunakan kekuatan Tome of Omniphilos. Logam-logam itu melayang sesaat sebelum melesat dengan suara tipis mematikan.

Teh Kira mencoba melindungi diri menggunakan nampan logam, namun kekuatan itu menembusnya begitu mudah.

Tubuhnya jatuh di samping ibunya. Dua sosok kini terbaring diam di lantai, dikelilingi genangan merah yang semakin luas. Vella hanya menghela napas kecil. "Aku cuma ingin bicara," gumamnya dingin. "Tapi lihat... semuanya selalu berakhir seperti ini."

Ia berjalan menuju pintu. Sepatunya menginjak darah, meninggalkan jejak merah di belakangnya. Di ambang pintu, ia berhenti dan menoleh ke ruangan yang kini sunyi. Rumah hangat itu telah berubah menjadi tempat kematian.

"Setelah ini, Kaivan pasti akan datang menemuiku," bisiknya pelan dengan nada puas.

Lalu ia melangkah pergi dan menutup pintu perlahan di belakangnya.

Rumah yang dulu dipenuhi tawa kini menjadi saksi bisu tragedi. Tempat yang dahulu hangat sekarang terasa seperti makam.

Di luar, langit senja tampak memerah seolah ikut berduka. Awan kelabu perlahan berkumpul, membawa firasat buruk yang belum dipahami Kaivan.

Ia berjalan pulang bersama Isabel sambil menarik koper besar berisi pakaian musim dingin. Mimpi sederhananya, melihat aurora borealis bersama keluarganya, terasa begitu dekat.

"Aku tidak sabar melihat Ibu dan Teh Kira tersenyum saat salju pertama turun," ucapnya pelan. Isabel membalas senyum itu, meski ada kegelisahan aneh yang mengusik dadanya.

Saat mereka tiba di depan pintu rumah, Kaivan membukanya dengan senyum cerah. "Ibu! Teh Kira! Aku pulang! Aku sudah membawa koper kita! Ayo bersiap!" serunya riang.

Namun tidak ada tawa yang menyambutnya. Tidak ada aroma hangat rumah.

Yang ada hanya bau darah yang menusuk.

Kaivan terdiam. Di ruang tamu, Kira terbaring tak bergerak di lantai, wajahnya pucat, dikelilingi genangan merah gelap.

"Kira!" teriak Kaivan sambil menjatuhkan kopernya dan berlari menghampiri. Ia mengguncang tubuh kakaknya dengan panik. "Bangun, Kira... ini aku! Kaivan! Tolong bangun!" Suaranya pecah antara amarah dan ketidakpercayaan.

Namun Kira tetap diam.

Air mata jatuh ke pipi kakaknya yang dingin. "Kita seharusnya melihat aurora bersama, ingat? Kamu sudah janji..." bisiknya lirih.

Tatapan Kaivan beralih mencari ibunya. Di sudut ruangan, tubuh wanita itu terbaring diam. Matanya terbuka kosong menatap langit-langit, seolah masih ingin melihat putranya untuk terakhir kali.

"Ibu!" teriakan Kaivan menggema memenuhi ruangan, seakan dunianya runtuh dalam sekejap. Ia merangkak mendekat dengan tangan gemetar, mencoba memeluk tubuh ibunya seolah itu bisa mengembalikannya. "Ibu, bangun... aku di sini, Bu... Lihat aku, tolong... Kita seharusnya pergi bersama! Ibu bilang ingin melihat aurora bersama kami, ingat?" Suaranya hancur oleh tangisan.

Kaivan menempelkan pipinya ke pipi ibunya yang dingin dan tak lagi bernyawa, berharap masih ada sedikit kehangatan tersisa. "Ibu, tolong... jangan tinggalkan aku sendiri. Aku akan jadi anak baik, aku janji. Aku akan mendengarkan Ibu... jadi jangan pergi..." pintaannya bergetar rapuh di tengah kenyataan yang menghancurkan.

Ia memeluk tubuh ibunya erat, seakan tidak ingin melepaskannya lagi. Darah masih mengalir di lantai kayu, membentuk genangan gelap yang terasa begitu berat di matanya.

"Ibu... tolong bangun," bisiknya di sela tangis. "Semuanya sudah siap. Tiketnya, kopernya... Ibu yang paling semangat ingin melihat aurora borealis." Ia mengusap pipi dingin ibunya perlahan, merindukan kehangatan yang dulu selalu ada.

Tidak jauh di belakangnya, Isabel berdiri membeku dengan air mata terus mengalir. Tangannya gemetar hebat saat menggenggam ponselnya. "Livia..." suaranya pecah. "T-tolong hubungi semuanya... panggil polisi... ambulans... ini rumah Kaivan. Tolong cepat..."

Namun Kaivan tidak mendengar apa pun. Ia tidak peduli pada apa pun lagi. Yang ia lihat hanya ibunya... dan di sampingnya, tubuh Teh Kira yang kini tak lagi bergerak.

More Chapters