Metropolis di sisa malam adalah rimba beton yang angkuh. Di bawah temaram lampu jalan yang berkedip tak beraturan, Ling Feng berjalan menyusuri trotoar dengan langkah yang begitu ringan hingga suara gesekan sepatunya dengan aspal pun tak terdengar oleh indra manusia biasa.
Raga pemuda berusia dua puluh satu tahun ini terasa jauh lebih "hidup" setelah pembersihan sumsum di rumah sakit tadi. Namun, bagi Sang Kaisar, ini barulah polesan kasar di permukaan. Di dalam rongga dadanya, Dantian miliknya masih terasa seperti sumur tua yang kering, meronta-ronta meminta tetesan Qi yang murni.
Dunia ini benar-benar telah membusuk, batinnya sambil menghirup udara malam yang tipis dan penuh polusi.
Ia bisa merasakan betapa kotornya atmosfer di Bumi. Jalur-jalur energi alam di sini tidak lagi mengalir deras seperti sungai surgawi, melainkan tersendat-sendat, tertimbun oleh beton dan kerak emosi manusia yang rakus. Ling Feng mengikuti sisa-sisa hawa murni yang masih tertinggal di udara, menuntun langkahnya menuju bayangan besar yang menjulang di pinggiran kota—Gunung Naga Tidur.
Langkahnya terhenti ketika ia sampai di sebuah tikungan tajam di lereng gunung. Di sana, kesunyian malam pecah oleh suara batuk yang parau dan deru mesin mobil mewah yang mendadak berhenti. Tiga buah mobil hitam besar berhenti melintang di jalan. Sekelompok pria berpakaian rapi namun berwajah garang tampak mengepung seorang pria tua yang sedang bersandar lemah di pintu mobil, memegangi dadanya dengan wajah yang seputih kain kafan.
"Kakek! Jangan bicara lagi, simpan tenagamu!" seorang gadis muda bersimpuh di sampingnya, air matanya jatuh membasahi aspal yang dingin.
Ling Feng berdiri di batas bayangan pohon pinus tua. Matanya yang hitam pekat, sedalam samudra tanpa dasar, mengamati pria tua itu. Dalam pandangan kaisarnya, ia tidak melihat serangan jantung medis biasa. Ia melihat Penyimpangan Qi.
Bodoh, batin Ling Feng dingin. Dia mencoba memaksakan energi bumi yang kotor masuk ke jantung tanpa melewati tahap pemurnian nadi. Itu bukan kultivasi, itu hanyalah cara lambat untuk menghancurkan diri sendiri.
"Jika kau terus menekan titik tengah dadanya, kau hanya akan membuat Jalur Jantungnya meledak seketika," suara Ling Feng muncul dari kegelapan, berat dan penuh tekanan yang tak terlihat.
Seketika, beberapa pria berjas hitam itu berbalik dengan sigap. Moncong senjata api langsung terarah ke arah Ling Feng. Namun, pemuda itu terus melangkah maju dengan tenang. Cahaya bulan yang pucat jatuh ke wajahnya, menampakkan raut muka yang begitu datar, seolah-olah kematian itu sendiri sedang berjalan santai mendekati mereka.
"Siapa kau?! Mundur atau aku tembak!" teriak salah satu pengawal. Tangannya bergetar hebat. Ada sesuatu dari aura Ling Feng—sebuah Hawa Membunuh yang sangat halus namun mencekam—yang membuat insting hewannya berteriak untuk segera melarikan diri.
Ling Feng bahkan tidak melirik moncong pistol itu. Baginya, senjata api tidak lebih dari mainan besi yang berisik. Matanya terkunci pada sang pria tua yang kini mulai kehilangan kesadaran. "Peluru itu tidak bisa menahan aliran energi yang sedang mengamuk di dalam dadanya. Tapi tanganku bisa."
Gadis itu, Ran'er, mendongak. Ia menatap Ling Feng dengan tatapan putus asa yang menyayat hati. "Tolong... aku mohon tolong Kakekku! Keluarga Qin tidak akan pernah melupakan budimu!"
Ling Feng tidak membuang kata-kata. Ia berjongkok di samping pria tua itu, lalu memegang pergelangan tangannya.
Dalam sekejap, Ling Feng menyusupkan Qi miliknya yang meskipun tipis, namun setajam jarum perak, ke dalam nadi pria tua itu. Ia tidak menggunakan bantuan alat apa pun; ia menggunakan hukum rimba kultivasi yang telah ia kuasai selama puluhan ribu tahun. Ia memerintahkan energi liar di tubuh pria tua itu untuk tunduk dan kembali ke jalurnya.
Deg!
Tubuh pria tua itu tersentak hebat seolah dihantam martil godam yang tak kasat mata. Ia memuntahkan seteguk darah hitam yang kental dan berbau amis yang tajam. Namun, tak lama kemudian, napasnya yang tadi tersengal-sengal mulai kembali teratur. Rona merah mulai muncul di pipinya yang semula pucat.
"Hah... Hah..." Pria tua itu, Qin Zhen, membuka matanya perlahan. Ia menatap Ling Feng dengan tatapan yang dipenuhi ketakutan dan rasa hormat yang tak terlukiskan. Sebagai praktisi Kelas Perunggu yang sudah puluhan tahun berlatih di dunia persilatan Bumi, ia tahu bahwa pemuda di depannya ini baru saja melakukan teknik Pembersihan Nadi yang hanya ada dalam legenda kuno.
"Terima kasih... Senior," ucap Qin Zhen dengan suara gemetar. Ia tidak peduli Ling Feng baru berusia dua puluh satu tahun; di dunia kultivasi, kekuatan adalah hukum senioritas yang mutlak.
Ling Feng berdiri, menyeka sedikit sisa darah di sudut bibirnya. Raga mudanya yang baru mencapai Tingkat 1 belum cukup kuat untuk menahan benturan energi liar praktisi lain tanpa sedikit pun luka dalam. "Nadimu terlalu sempit untuk menampung ambisimu yang serakah. Berhenti berlatih teknik sampah itu, atau kau akan mati saat bulan purnama berikutnya tiba."
Qin Zhen menunduk dalam, kepalanya hampir menyentuh aspal. "Nama saya Qin Zhen. Mulai hari ini, Keluarga Qin adalah pelayan setia Tuan Ling Feng. Apa pun yang Tuan inginkan di kota ini, akan kami siapkan di hadapan Anda."
Ling Feng menatap ke puncak gunung yang mulai diselimuti kabut tipis. "Aku butuh tempat yang tenang, jauh dari bau manusia yang busuk. Dan aku butuh herbal yang telah menyerap saripati bumi selama minimal sepuluh tahun."
Tanpa ragu sedetik pun, Qin Zhen memberikan sebuah kunci perak kuno dengan ukiran naga. "Villa Nomor Sembilan di puncak gunung. Itu adalah tempat dengan hawa murni terbaik di kota ini. Itu adalah milik Anda mulai detik ini, Tuan."
Menjelang fajar, Ling Feng sudah berada di aula utama Villa Nomor Sembilan. Di hadapannya, tumpukan herbal mentah yang dikirim kilat oleh anak buah Keluarga Qin mengeluarkan aroma yang sangat pahit namun menyegarkan indra.
Ling Feng duduk bersila di lantai marmer, mengambil posisi Meditasi Matahari Terbit.
Ia mulai menghirup saripati dari tumpukan herbal itu bukan lewat hidung, melainkan lewat setiap pori-pori di kulitnya. Udara di sekitarnya mulai bergetar, menciptakan pusaran angin kecil yang menerbangkan debu-debu di lantai aula. Ini adalah proses asimilasi yang menyakitkan namun diperlukan.
Menit berganti jam. Bayangan pohon-pohon di luar jendela mulai memendek seiring dengan naiknya matahari. Saat sinar fajar pertama menyentuh balkon villa, tubuh Ling Feng mulai mengeluarkan uap putih yang sangat pekat. Suara tulang-tulangnya yang berderak terdengar seperti suara petir kecil yang tertahan di dalam aula yang sunyi.
Krak... krak...
Sumsum tulangnya sedang ditempa ulang untuk kedua kalinya dalam satu malam. Darahnya yang tadinya masih membawa sisa ampas fana kini mulai memadat, menjadi lebih merah dan lebih panas. Raga dua puluh satu tahunnya yang tadinya nampak kurus kini mulai terisi oleh otot-otot yang sangat padat, namun tetap terlihat ramping dan fleksibel.
Pikirannya yang berusia tiga puluh ribu tahun memandu setiap tetes energi untuk mengisi Dantian-nya yang tadinya kering kerontang. Energi itu berputar, mengkristal, dan mulai membangun fondasi yang kokoh.
Ketika matahari benar-benar naik di ufuk timur, Ling Feng membuka matanya. Sebuah kilatan cahaya keemasan muncul sekilas di pupilnya sebelum kembali menjadi hitam pekat yang lebih dalam dari malam.
"Tingkat satu puncak," gumamnya pelan.
Ia berdiri, merasakan kekuatan yang melonjak-lonjak di setiap jalur nadinya. Ia tidak lagi merasa lemas. Raga mudanya kini telah bersenyawa sepenuhnya dengan wibawa jiwanya.
Ia berjalan ke tepi balkon, menatap ke arah kota Metropolis yang mulai sibuk di bawah sana. "Keluarga Ling... Bio-Gene... Ladang ini sudah terlalu penuh dengan gulma yang mengganggu. Saatnya aku mencabut kalian hingga ke akar-akarnya."
Dengan satu sentuhan ringan pada pagar besi balkon, pagar itu langsung melengkung seperti lilin yang dipanaskan, menunjukkan kekuatan fisik yang sudah melampaui batas kewarasan manusia biasa di Bumi. Fajar telah tiba, namun bagi musuh-musuhnya, kegelapan yang sesungguhnya baru saja dimulai.
