Throne akhirnya hidup kembali setelah menjadi wadah iblis Malphas dan mendapatkan kekuatan kutukan iblis. Ia pun mulai berlatih untuk membuka segel kekuatan yang ada di dalam tubuhnya.
Kemudian Throne masuk sebagai anggota calon pasukan pembasmi iblis. Ia berlatih sungguh-sungguh agar bisa membasmi para iblis yang membuat dunia ini penuh penderitaan.
"Aku akan membantumu membasmi para iblis," kata Malphas.
"Bukannya kamu juga iblis?" jawab Throne.
"Saya masuk ke tubuhmu hanya untuk mencari lawan yang setara," ujar Malphas.
Malphas bangkit kembali hanya untuk itu—karena sudah hidup ribuan tahun, tak ada iblis atau makhluk lain yang bisa menyamai kekuatannya.
Akhirnya Throne mendaftar ke akademi pembasmi iblis, bukan hanya untuk menjadi pembasmi iblis, tapi juga agar bisa mendapatkan uang untuk membantu orang-orang yang kesusahan.
Akhirnya bisa masuk akademi seperti yang kuharapkan. Dengan ini aku bisa dapat uang untuk membantu orang lain, pikir Throne.
Suatu hari, kompetisi akademi akan dimulai. Peserta yang menang akan langsung lulus menjadi anggota pembasmi iblis dan mendapatkan uang sebagai hadiah.
Berikut nama peserta utama:
- Malrik, seorang remaja jenius.
- Liora, putri dari kerajaan Calestoria.
- Thyrel, seorang remaja kuat dan baik hati.
- Throne, seorang remaja dari desa.
"Pertandingan akan dimulai! Semua peserta silakan bersiap!" ujar ketua akademi.
"Itu Tuan Putri Liora!" teriak penonton.
"Itu Malrik si jenius... Haaaa!" teriak penonton.
"Itu Thyrel yang kuat dan baik hati... Haaaa!" teriak penonton.
"Siapa satu lagi? Pasti anak desa saja. Pasti dia yang pertama kalah... Huuu! Berani-beraninya ikut akademi bersama tiga orang istimewa itu!" suara penonton lain menyindir.
"Mereka semua hanyalah sampah di hadapanku," ujar Malphas dalam hati Throne.
"Pertandingan dimulai! Pemenang harus mengambil mutiara petir yang berada di gunung penuh dengan monster kuat. Oke, pertandingan mulai!" kata ketua akademi.
Semua peserta segera bergerak untuk mengambil mutiara dan mengalahkan para monster yang menghalangi.
"Ethereal Leap!" panggil Liora sambil melakukan loncatan ruang.
"Tuan Putri, saya akan menjaga Anda," kata Malrik.
"Aku bisa menjaga diri sendiri," jawab Liora.
Begitulah rasanya berada di akademi, pikir Throne sambil mengamati sekeliling.
Tak lama kemudian, muncul para monster besar dan kuat. Semua peserta harus bekerja sama untuk melawan mereka dan mencapai mutiara petir.
"Haaa... Haaa...!" suara mengerikan dari para monster terdengar.
"Tuan Putri, biarkan saya yang melawan para monster itu!" kata Malrik.
"Nama kamu Throne kan? Mari kita serang para monster itu bersama!" ajak Thyrel.
"Ya... Baiklah," jawab Throne.
Setiap anggota memiliki kekuatan tersendiri:
- Liora memiliki kekuatan Frostbite tingkat menengah level 6 serta pasangan naga kepala lima.
- Malrik menguasai kekuatan Flash Mimic.
- Thyrel memiliki kekuatan Soul Fist dan Titan Veil.
Aku punya kekuatan apa sebenarnya...? pikir Throne yang masih bingung.
"Kamu memiliki kekuatan jauh lebih kuat dibandingkan anggota timmu," kata Malphas.
Kenyataannya, kekuatan Throne melebihi semua anggota timnya. Ia hanya perlu waktu untuk beradaptasi dan melatihnya.
"Soul Fish!" serang Thyrel.
"Flash Mimic!" ikut serang Malrik dengan meniru gerakan monster.
Semua orang sangat hebat. Inilah yang disebut dengan kekuatan akademi, isi hati Throne.
Setelah beberapa saat, sebagian besar monster sudah terbunuh. Namun masih tersisa dua monster tingkat menengah level 1.
"Itu monster tingkat menengah level 1! Semua hati-hati! Tuan Putri, biarkan saya menjaga Anda!" kata Malrik.
"Semua berkumpul! Mari kita serang bersama-sama!" kata Thyrel.
Kedua monster itu adalah Void Butcher yang memiliki cakar sangat beracun, dan Night Reaper yang mampu beregenerasi super cepat serta mengeluarkan bola api berbahaya.
"Haha... Hahaha... Hahah!" kedua monster itu tertawa menyeramkan.
Sring... Sring... Suara cakar Void Butcher menyambar.
"Aku kena racun!" teriak Liora setelah terkena cakar monster.
"Jaga Tuan Putri! Biarkan saya yang melawan monster itu!" kata Malrik.
"Baik," jawab Throne sambil membawakan Liora menjauh dari medan perang.
Malphas, bagaimana ini? pikir Throne memanggil iblis di dalam dirinya.
Pikir sendiri dulu, jawab Malphas cuek.
"Throne, kamu bantu Malrik dan Thyrel dulu saja," ujar Liora meskipun tubuhnya masih lemah karena racun.
"Saya akan tetap menjaga Anda," kata Throne dengan tegas.
Malphas, tolong bantu kami, pinta Throne lagi.
Baiklah... Healing Power! Kekuatan penyembuhan Malphas keluar dan membersihkan racun di dalam tubuh Liora.
"Racunnya sudah hilang... Terima kasih, Throne," kata Liora dengan lega.
"Baik, Tuan Putri," jawab Throne.
"Jangan panggil aku Tuan Putri saja. Panggil aku Liora saja," kata Liora sambil tersenyum hangat.
"Baik, Liora," jawab Throne.
"Saya pergi bantu Malrik dan Thyrel dulu ya," ujar Throne.
"Ya sudah, hati-hati ya!" pinta Liora.
Throne kemudian berlari cepat untuk membantu teman-temannya yang tengah berjuang melawan kedua monster itu.
