Cherreads

Chapter 1 - BAB 1-luka yang takterlihat

 Pagi itu cerah, terlalu cerah untuk seseorang yang bangun kesiangan. 

 "Anjir… jam berapa ini?!" 

Arka langsung terduduk dari kasurnya saat melihat jam tayang pukul 06.47. Sekolahnya masuk pukul 07.00. Butuh minimal lima belas menit untuk sampai ke sana. Ia meloncat turun, hampir menyelamatkan selimutnya sendiri. 

 "Kok nggak ada yang bangunin sih…" gerutunya sambil menyambar seragam yang tergantung seadanya. 

Kemejanya sedikit kusut. Rambutnya berantakan. Ia bahkan lupa memakai ikat pinggang sampai setengah jalan menuju pintu. 

 "Arka! Sarapan!" teriakan ibu dari dapur. 

 "Nggak sempat, Bu!" 

Ia berlari keluar rumah sambil mengancingkan lengan bajunya, tas selempang hampir jatuh dari bahunya. Motor menyala dengan 

06.59. 

Gerbang sekolah hampir ditutup saat ia tiba. 

. Jalanan pagi terasa seperti labirin yang menghalanginya. Lampu merah terasa terlalu lama. Truk di depan terlalu lambat. Kemacetan di dashboard terasa tergores 

"Untung kamu cepat, Ka." 

 Satpam menghela napas 

 "Wah, artis baru datang," celetuk Dimas. 

 Arka hanya nyengir canggung, napasnya masih tersengal. Ia berlari ke kelas, sepatu berdecit di lantai koridor. Begitu masuk, beberapa teman menggelitik 

 Arka meletakkan tasnya di kursi, langsung merapikan rambut dengan tangan. 

 Arka hanya nyengir canggung, napasnya masih tersengal. Ia berlari ke kelas, sepatu berdecit di lantai koridor. Begitu masuk, beberapa teman menggelitik 

 "Bangunnya selai berapa, Pangeran?" tambah Seno. 

 "Eh," bisiknya ke Seno. "Lihat Rian." 

 Ia duduk, menarik napas panjang, mencoba terlihat normal. Namun matanya tanpa sengaja diarahkan ke bangku dekat jendela. Rian Anak paling pendiam di kelas. Biasanya ia sudah duduk rapi sebelum guru datang. Selalu tenang. Selalu menunduk. Hari ini berbeda. Ada memar yang jelas di pipinya. Sudut tersipu sedikit pecah. Tangannya seperti tersipu saat membuka buku. Arka menggetarkan mata 

Seno 

 sebentar. 

 sebentar. 

"Mengapa memangnya?" 

 Seno mengangkat bahu 

 Seno mengangkat bahu 

Tapi Arka tahu itu bukan luka jatuh 

Itu luka pukulan 

 Rian tidak berbicara dengan siapa pun. Apalagi ketika guru menanyakan sesuatu, penjelasannya pelan sekali, hampir tak terdengar. Selama pelajaran, Arka beberapa kali mencuri pandang. Rian terus menggumam. Terus diam. Seolah ingin menghilang. Bel istirahat akhirnya berbunyi. Suara kursi bergeser dan tawa memenuhi kelas. Dimas langsung berdiri 

Rian tidak berbicara dengan siapa pun. Bahkan ketika guru bertanya sesuatu, jawabannya pelan sekali, hampir tak terdengar. Selama pelajaran, Arka beberapa kali mencuri pandang. Rian terus menggumam. Terus diam. Seolah ingin menghilang. Bel istirahat akhirnya berbunyi. Suara kursi bergeser dan tawa memenuhi kelas. Dimas langsung berdiri 

 "Kantin, yuk!" 

Rian sudah lebih dulu berdiri. Ia keluar kelas dengan cepat, hampir 

 -buru. Arka merasakan sesuatu yang mengganjal 

 Tiga kakak kelas berdiri di sana. 

"Gue ke toilet dulu," singkatnya. 

 "Mana uangnya?" 

 Rian diam. 

 "Jangan pura-pura bego!" 

 Tamparan keras terdengar jelas. 

 Salah satu dari mereka, tubuh tinggi dan bahunya lebar, mendorong Rian hingga hampir terjatuh. Arka menggenggam tangan tanpa sadar. 

 "Boong!" 

Salah satu dari mereka mengejutkan lutut Rian hingga ia tersungkur. Arka merasakan darahnya mendidih. Ia ingin maju. Ingin berteriak. Ingin menghentikan semuanya. Tapi kakinya terasa berat. Tiga lawan satu. Dan kakak kelas mereka. Salah satu pembully menarik kerah baju Rian. "Kalau besok gak bawa, lebih parah dari ini." Mereka mendorongnya sekali lagi sebelum pergi sambil tertawa. Sunyi. Rian masih duduk beberapa detik. Lalu perlahan berdiri. Ia mengagumi darah di tengkorak. Tidak menangis. Tidak marah. Hanya…kosong. Arka bersembunyi, merasa bersalah karena tidak melakukan apa-apa. Saat Rian berjalan kembali ke arah gedung utama, Arka melihat sesuatu di matanya. Bukan sekedar takut. Tapi lelah. Lelah yang dalam. Bel masuk berbunyi. Arka kembali ke kelas lebih dulu, berpura-pura tidak tahu apa-apa. Tak lama kemudian Rian masuk. Ia duduk seperti biasa. Diam seperti biasa. Kejadian tadi tidak pernah ada. Bel pulang berbunyi. Di parkiran, Arka menceritakan semuanya pada Dimas dan Seno 

 "Serius lu?" Dimas langsung berdiri tegak. 

 "Temu lihat sendiri." 

 Seno menghela napas panjang. 

"Kurang ajar banget." 

 Arka sejenak sebelum berkata, 

"Kita nggak bisa diem aja." 

 Dimas mengangguk. 

"Besok kita ikut." 

 "Kalau mereka ngeroyok?" tanya Seno. 

 "Ya kita lawan," jawab Arka, meski dalam hati ia tahu itu tidak akan mudah. 

 Keesokan harinya, saat bel istirahat berbunyi, mereka bertiga mengikuti Rian lagi.Dan benar saja.Tiga kakak kelas itu sudah menunggu.Tamparan hampir mendarat 

 "Cukup!" teriak Arka. 

 Semua

"Wah, datang bala bantuan," ejek salah satu dari mereka. Tanpa banyak bicara, pertengkaran pun terjadi

 Tidak keren.Tidak seperti film.Arka menerima pukulan di pipi.Dimas terjatuh.Seno tersungkur setelah ditendang.Beberapa menit kemudian mereka semua sudah babak belur.Kakak kelas itu pergi sambil tertawa.Arka bangkit perlahan, menahan perih.Ia menoleh pada Rian. 

 "Sekarang mereka tidak akan mengganggu lu sendirian." 

 Rian menatap mereka.Dan yang terlihat bukan rasa terima kasih.Melainkan kemarahan. 

 Rian menatap mereka.Dan yang terlihat bukan rasa terima kasih.Melainkan kemarahan. 

 "Wah, datang bala bantuan," ejek salah satu dari mereka. Tanpa banyak bicara, konflik pun terjadi 

 Arka patah. 

 "Aku tidak meminta bantuan." 

"Sekarang keadaan mereka akan semakin parah!"

Rian berdiri dan pergi begitu saja.Bel pulang berbunyi tak lama kemudian.Hari itu terasa lebih sunyi dari biasanya.Dan Arka baru menyadari satu hal Kadang niat baik tidak selalu diterima sebagai kebaikan.Ia hanya tidak tahu.Bahwa keputusan hari itu akan membawa sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar memukul-mukul sekolah.Keesokan paginya, bangku dekat jendela itu kosong.Awalnya Arka tidak terlalu panik.

"Mungkin dia sakit," gumam Dimas.

"Iya, mukanya kemarin aja udah parah gitu," tambah Seno.

Jam pertama lewat.Jam kedua.Sampai bel istirahat.Rian tidak datang.Arka merasa mulai tidak enak.Hari berikutnya, bangku itu masih kosong.Dan hari setelahnya lagi.Tiga hari.Tanpa kabar.Di kelas, wali kelas mereka terlihat sedikit cemas.

"Kalau ada yang tahu kabar Rian, tolong sampaikan ke saya," ucapnya.

Arka menelan ludah.Rasa berdosa yang awalnya kecil mulai tumbuh besar.

"Kalau aja kita nggak ikut campur…" gumamnya pelan.

"Jangan nyalahin diri sendiri dulu," kata Seno, tapi suaranya sendiri tidak terdengar yakin.

Akhirnya, mereka memutuskan memutuskan sesuatu.

"Kita ke rumahnya," kata Arka.

Rumah Rian tidak terlalu jauh dari sekolah. Rumah kecil dengan pagar besi berkarat dan cat tembok yang mulai pudar.Arka mengetuk pintu.Seorang wanita paruh baya membukanya. Wajahnya tampak lelah.

"Ibu Rian?" tanya Arka pelan.

"Iya… kalian teman Rian?"

Mereka mengangguk.

"Kami mau minta maaf, Bu… soal kejadian di sekolah," kata Arka jujur

Wajah ibu Rian berubah bingung.

"Kejadian apa?"

Arka saling pandang dengan Dimas dan Seno. Selum sempat ia menjelaskan panjang lebar, kata ibu Rian dengan suara menggeliat,

"Rian sudah tidak pulang tiga hari."

Kalimat itu seperti menghantam dada Arka.

"Tidak pulang…?" ulangnya.

"Kami sudah mencari ke rumah teman-teman. Sudah melapor juga. Tapi belum ada kabar."

Arka merasakan tenggorokannya kering.

"Terakhir dia pulang sekolah seperti biasa, Bu?" tanya Seno.

Ibu itu mengangguk pelan.

"Dia masuk kamar… lalu sakit mau keluar sebentar. Setelah itu… katanya tidak kembali."

Sunyi.Arka merasa dunia seakan mengecil.Rian benar-benar hilang.Keesokan harinya di sekolah, Arka langsung mencari tiga kakak kelas itu.Ia menemukan mereka di kantin.

"Kalian apain Rian?" tanya Arka tanpa basa-basi.

Salah satu dari mereka mengerut.

"Apaan?"

"Dia hilang."

Ketiganya bertukar pandang

"Kita juga lagi menunggu dia," salah satu dari mereka tertawa kecil. "Belum sempat balas kemarin."

Arka menatap tajam, mencoba membaca deskripsi di wajah mereka. Tapi yang terlihat hanya kesal.

"Kalau lu pikir kita culik dia, ngapain? Buat apa?" ejek yang lain.

Arka berpegangan tangan, tapi tidak berkata lagi.Jika bukan mereka…Lalu siapa?.Bel pulang berbunyi.Langit sore tampak lebih gelap dari biasanya, meski tidak mendung.Arka berjalan bersama Dimas dan Seno melewati belakang sekolah.Tempat terakhir mereka melihat Rian dibully.Langkah Arka melambat.Entah kenapa dia selalu merasa ada sesuatu yang tertinggal di tempat itu.Di samping gedung laboratorium lama, jendelanya kotor dan sebagian tertutup tirai membosankan.Saat Arka ke arah dalam melalui kaca ulang itu.Ia membeku.Di dalam ruangan yang gelap, tepat di tengah lantai.Seperti ada sesuatu.Sebuah lingkaran hitam.Tidak menempel di lantai.Melayang sedikit di atasnya.Gelapnya bukan seperti bayangan biasa.Lebih pekat.Seperti lubang.Arka memasukkankan mata.Ia melangkah lebih dekat.

"Apa itu…" bisiknya.

Lingkaran itu seperti pelan bergetar. Udara di sekitarnya tampak sedikit terdistorsi, seperti panas di atas aspal

"Arka!"

Suara Dimas memanggil dari belakang. Arka refleks

"Apa?"

"Ngapain lu bengong?"

Arka langsung membungkam kembali ke dalam laboratorium. Kosong. Tidak ada apa-apa. Hanya lantai berdebu dan meja praktikum tua. Jantungnya mendorong cepat

"Lu lihat apa?" tanya Seno.

Arka bingung beberapa detik.

"tidak tahu." 

Ia menatap lagi ke dalam.Tidak ada lubang hitam.Tidak ada lingkaran gelap.Hanya ruangan kosong.Tapi entah kenapa, Arka yakin.Barusan itu bukan halusinasi.Dan untuk pertama kalinya sejak Rian menghilang…Arka merasa ada sesuatu yang jauh lebih aneh dari sekadar kasus orang hilang.Dan semua itu… dimulai dari belakang sekolah.

More Chapters