Cherreads

Chapter 2 - chapter 01

BAB 1

Hari Dunia Retak

2027 – Kaki Gunung Salak, Bogor

Mereka tidak pernah punya nama keluarga yang diwariskan turun-temurun.

Tidak ada marga besar.

Tidak ada foto leluhur tergantung di ruang tamu.

Tidak ada cerita tentang kakek yang dulu pejuang atau pengusaha sukses.

Yang mereka punya hanya satu tempat.

Panti Asuhan Cahaya Bunda.

Bangunan tua bercat pudar di pinggir kota. Atapnya bocor saat hujan deras. Dapurnya sempit. Kamar anak laki-laki dan perempuan dipisah oleh dinding tipis yang kadang bisa mendengar suara napas dari sisi lain.

Di sanalah lima anak bertumbuh bersama.

Raka.

Dimas.

Bagas.

Naila.

Arya.

Mereka tidak dipersatukan oleh darah.

Mereka dipersatukan oleh keadaan.

Dan kadang, itu lebih kuat.

Arya selalu yang paling tenang.

Bukan karena paling dewasa.

Tapi karena paling terbiasa merasa tidak terlihat.

Ia tidak pernah menjadi anak paling pintar di sekolah.

Tidak pernah paling kuat.

Tidak pernah paling berbakat.

Ia hanya ada.

Dan bagi empat anak lain di panti itu, keberadaannya sudah cukup.

Tahun 2027, mereka semua sudah dewasa.

Raka bekerja di bengkel kecil.

Dimas menjadi driver online dan sesekali kerja serabutan.

Bagas bekerja sebagai petugas keamanan pusat perbelanjaan.

Naila mendapat beasiswa kuliah psikologi.

Arya? Masih mencari arah...

Mereka jarang berkumpul lengkap.

Tapi hari itu, entah kenapa, mereka berlima kembali duduk bersama di kos Arya di Bogor.

Tidak ada alasan khusus.

Hanya rindu.

"Kamu masih baca novel itu?" tanya Naila sambil melirik laptop Arya.

Arya tersenyum kecil.

"Bagus kok ceritanya."

"Mitos Bermunculan di Nusantara?" Dimas ikut melihat layar.

"Andai bisa ketemu nyi roro kidul, dia pasti cantik kan?"

"Iya."

Raka menggeleng. "Kamu tidak berubah Ar."

Arya hanya tertawa pelan.

Ia memang menyukai novel itu.

Bukan karena merasa itu nyata.

Hanya karena dunia di dalamnya terasa lebih besar daripada hidupnya sendiri.

Di sana, manusia biasa bisa berubah menjadi sesuatu yang berarti.

Tiba-tiba, lantai bergetar.

Awalnya kecil.

Gelas di meja bergetar pelan.

Bagas berdiri lebih dulu.

"Gempa."

Raka ikut bangkit.

Tapi getaran itu tidak berhenti.

Ia membesar.

Dinding retak.

Kaca jendela pecah.

Suara gemuruh panjang datang dari arah Gunung Salak.

Bukan suara yang pernah mereka dengar.

Bukan sekadar letusan.

Lebih seperti sesuatu yang dipaksa keluar dari dalam bumi.

Mereka berlari keluar rumah.

Langit sudah berubah kelabu.

Abu mulai turun seperti salju hitam.

Orang-orang berteriak di jalan.

Sirene mobil meraung.

Dan kemudian—

Ledakan besar mengguncang udara.

Gunung Salak meletus.

Awan panas meluncur turun lereng dengan kecepatan mematikan.

Tanah retak memanjang.

Bangunan runtuh satu demi satu.

Dunia berubah dalam hitungan menit.

Retakan tanah membuka tepat di bawah kaki Naila.

Ia terpeleset.

Tubuhnya hampir terseret masuk.

Arya yang berada paling dekat melihatnya,

"Arya! JANGAN DATANG!"

Tanpa mendengarkan, Arya berbalik.

Ia melompat dan meraih tangan Naila tepat sebelum tanah runtuh lebih dalam.

Raka, Bagas, dan Dimas mencoba menarik Arya dari belakang.

Gelombang panas mendekat.

Udara terasa seperti api.

Waktu hampir habis.

Naila tenang.

"Lepaskan…"

Arya menatapnya.

Anak paling bungsu di panti.

Yang dulu selalu sembunyi di belakangnya saat ada anak lebih besar mengganggu, kini bisa bersikap lebih tenang.

"Kamu harus hidup," katanya pelan.

Dengan sisa tenaga, ia mendorong tubuh Naila ke atas.

Bagas berhasil menariknya sepenuhnya.

Detik berikutnya—

Tanah di bawah Arya runtuh.

Raka mencoba meraih tangannya.

Hanya ujung jari yang tersentuh.

Arya melihat mereka.

Empat anak panti.

Keluarganya.

Ia tidak punya warisan.

Tidak punya nama besar.

Tapi ia punya mereka.

Dan itu cukup.

Gelombang panas menelannya.

Dunia menjadi putih.

Lalu hitam.

Dunia yang Tidak Berakhir

Letusan Gunung Salak hanyalah awal.

Rantai bencana menyusul di berbagai belahan dunia.

Gunung berapi aktif bersamaan.

Gempa besar memecah garis pantai.

Tsunami menelan kota-kota pesisir.

Badai magnetik merusak satelit dan sistem komunikasi.

Dunia lama runtuh.

Dalam bulan-bulan pertama, setengah populasi bumi musnah.

Lima puluh persen manusia hilang.

Bukan karena satu peristiwa.

Tapi karena rangkaian kehancuran.

Namun dunia tidak kosong.

Setengah lainnya bertahan.

Negara-negara runtuh.

Pemerintahan pecah.

Kelompok-kelompok manusia membentuk komunitas bertahan hidup.

Mereka membangun peradaban dari puing.

Lalu mutasi dimulai.

Radiasi, abu vulkanik, dan perubahan atmosfer memicu sesuatu yang tidak dipahami sains.

Makhluk-makhluk lahir dari reruntuhan.

Hewan berubah bentuk.

Tubuh manusia yang terpapar kondisi ekstrem berevolusi menjadi sesuatu yang lain.

Monster mutasi.

Bukan legenda.

Bukan mitos.

Nyata.

Dan lapar.

Perang baru dimulai.

Bukan antarnegara.

Tapi manusia melawan makhluk-makhluk yang lahir dari kiamat.

Setengah dari manusia yang selamat gugur dalam perang itu.

Dari lima puluh persen yang bertahan, separuhnya kembali hilang.

Akhirnya, hanya sekitar dua puluh lima persen populasi awal bumi yang tersisa.

Dunia menjadi sunyi.

Tapi tidak mati.

Empat yang Bertahan

Raka.

Dimas.

Naila.

Bagas.

Mereka selamat dari hari pertama.

Bukan tanpa luka.

Bukan tanpa trauma.

Naila sering terbangun di malam hari dengan mimpi tentang tangan Arya yang terlepas.

Raka menjadi lebih pendiam.

Dimas berhenti bercanda.

Bagas menjadi pelindung tanpa ragu.

Mereka bergabung dengan kelompok penyintas.

Belajar bertahan.

Belajar bertarung.

Belajar membunuh monster sebelum dibunuh.

Tahun-tahun berlalu.

Dunia berubah.

Dan di dalam diri mereka—

Sesuatu mulai bangkit.

Naila pertama kali menyadarinya.

Suatu malam di pesisir selatan yang hancur.

Laut yang bergolak tiba-tiba tenang saat ia melangkah mendekat.

Air seperti mengenalinya.

Raka mulai mengalami kilasan masa depan sebelum serangan monster.

Dimas menyadari badai mengikuti emosinya.

Bagas tetap manusia.

Tapi tubuhnya menjadi lebih kuat dari batas wajar.

Mereka tidak tahu kenapa.

Mereka hanya tahu satu hal:

Sejak Arya mati—

Dunia seakan mendorong mereka menjadi sesuatu yang lain.

Di Tempat Lain

Dalam kegelapan yang tidak memiliki waktu—

Kesadaran Arya perlahan terbentuk kembali.

Ia membuka mata.

Langit berbeda.

Udara berbeda.

Dunia berbeda.

Dan suara di kepalanya berbisik:

"Inti telah kembali."

More Chapters