Hari Senin.
Rafi datang lebih pagi dari biasanya.
Entah kenapa. Padahal nggak ada yang spesial.
Dia masuk kelas, taruh tas, duduk. Ruangan masih setengah kosong. Kursi di sebelahnya — kursi yang sering Maya tempatin kalau lagi bosan di depan — masih kosong.
Biasanya kalau datang pagi, Maya bakal duduk di situ. Ngobrol soal hal random. Atau cuma bilang, "Ngantuk banget."
Rafi nunggu.
Lima menit.
Sepuluh menit.
Suara langkah ramai mulai terdengar di lorong.
Maya masuk.
Rafi refleks angkat kepala.
Maya juga lihat dia.
Senyum.
Tapi langkahnya nggak ke arahnya.
Dia belok ke depan. Duduk di bangku Arsen.
Arsen geser sedikit, kasih tempat. Mereka ngobrol. Dekat. Kepala mereka hampir sejajar waktu lihat sesuatu di ponsel.
Rafi masih duduk.
Tangannya di atas meja. Diam.
Nggak ada yang salah.
Maya nggak janji duduk sama dia.
Maya bebas duduk di mana aja.
Tapi entah kenapa kursi kosong di sebelahnya terasa… terlalu jelas.
Pelajaran mulai.
Guru jelasin sesuatu di depan, tapi suara itu cuma kayak dengungan jauh.
Rafi nggak fokus. Pandangannya berkali-kali ke depan.
Maya ketawa kecil waktu Arsen bisikin sesuatu.
Rafi belum pernah dengar ketawa Maya yang kayak gitu waktu duduk di sebelahnya.
Bukan karena Maya nggak pernah ketawa sama dia.
Tapi karena sama dia, Maya lebih sering cerita. Lebih sering curhat. Lebih sering sedih.
Sama Arsen, dia kelihatan ringan.
Dan itu yang bikin Rafi sadar sesuatu yang nggak enak.
Mungkin dia bukan tempat yang bikin Maya bahagia.
Dia cuma tempat Maya istirahat waktu capek.
Jam istirahat.
Rafi nggak langsung ke kantin.
Dia sengaja nunggu kelas agak sepi.
Biasanya Maya bakal noleh ke belakang, nyamperin dia dulu.
Hari itu nggak.
Maya sudah berdiri di depan, ngobrol sama Arsen.
Rafi lihat dari jauh.
Arsen narik tangan Maya sedikit, ngajak jalan. Maya nggak nolak.
Nggak ada yang aneh.
Cuma gerakan kecil.
Tapi dada Rafi terasa kayak ditekan pelan.
Dia akhirnya jalan ke kantin sendirian.
Meja ujung masih kosong.
Dia duduk. Pesan minum. Nggak lapar.
Beberapa menit kemudian, dia dengar suara Maya dari belakang.
"Raf!"
Refleks dia nengok.
Maya berdiri nggak jauh dari situ. Arsen di sampingnya.
"Kamu sendirian?" tanya Maya.
Rafi angguk. "Iya."
Maya senyum. "Gabung dong."
Rafi berdiri. Duduk di meja mereka.
Arsen ramah. Ngobrol. Bercanda.
Rafi ikut senyum. Ikut ketawa sedikit.
Tapi dia sadar satu hal.
Di meja itu, dia nggak lagi jadi orang yang Maya lihat pertama kali waktu cerita.
Beberapa kali Maya cerita sesuatu ke Arsen dulu, baru ke Rafi.
Hal kecil.
Tapi cukup bikin Rafi ngerasa kayak… tambahan.
Di tengah obrolan, Arsen tiba-tiba bilang, "Eh, nanti sore jadi kan kita latihan bareng?"
Maya langsung jawab, "Jadi."
Rafi berhenti sebentar.
Latihan?
"Kalian latihan apa?" tanyanya.
"Lomba bulan depan," jawab Maya. "Aku belum bilang ya?"
Belum.
Rafi senyum tipis. "Belum."
"Oh iya lupa," kata Maya santai.
Lupa.
Padahal dulu, hal kecil aja pasti diceritain dulu ke dia.
Obrolan lanjut lagi.
Rafi nggak banyak ngomong.
Dia cuma duduk, dengerin, senyum seperlunya.
Tiba-tiba dia ngerasa capek.
Bukan capek duduk.
Bukan capek ngobrol.
Capek pura-pura nggak ngerasa apa-apa.
Sore itu, Maya nggak ngajak pulang bareng.
"Aku pulang duluan ya, ada latihan," katanya.
Rafi angguk. "Iya."
Dia lihat Maya jalan bareng Arsen sampai keluar gerbang.
Biasanya, posisi itu milik dia.
Biasanya, dia yang jalan di samping Maya.
Sekarang dia cuma berdiri di belakang, nonton.
Dan di situ, akhirnya rasa itu benar-benar kerasa.
Bukan marah.
Bukan cemburu yang meledak.
Cuma perasaan ditinggal pelan-pelan… tanpa pernah benar-benar dimiliki.
Rafi pulang sendirian.
Langkahnya biasa aja.
Tapi untuk pertama kalinya, dia ngerasa satu hal yang jelas banget:
Dia takut.
Takut suatu hari nanti, Maya nggak lagi butuh tempat cerita.
Dan kalau hari itu datang…
apa yang tersisa buat dia?
