Cherreads

Chapter 19 - Chapter 19 — Terimakasih Sudah Pernah Ada

Sekolah lebih sepi dari biasanya. Sore itu bahkan suara langkah terdengar lebih jelas dari biasanya.

Maya duduk di bangku dekat lapangan basket. Tempat yang dulu sering dia tempati sambil nunggu Rafi selesai latihan. Atau sekadar nunggu Rafi selesai dengerin ceritanya.

Lucu ya.

Dari dulu, dia selalu nunggu.

Tapi nggak pernah benar-benar sadar apa yang dia tunggu.

Rafi datang beberapa menit kemudian. Tasnya cuma disampirkan satu bahu. Wajahnya biasa saja. Tidak canggung. Tidak marah.

Itu yang paling berbeda sekarang.

"Ada apa, May?"

Sederhana. Tenang.

Maya tersenyum kecil.

"Aku cuma mau beresin sesuatu."

Rafi berdiri di depannya. Seperti biasa, siap mendengar.

Dan itu menyentak Maya pelan.

Bahkan sampai sekarang, dia masih berdiri dengan posisi yang sama. Posisi orang yang siap jadi tempat orang lain bicara.

"Aku baru sadar," ucap Maya pelan, "dari dulu aku selalu cerita ke kamu."

Rafi tidak memotong.

"Aku sedih, aku marah, aku takut… kamu selalu ada."

Angin sore bergerak pelan, membuat rambutnya sedikit berantakan.

"Tapi aku nggak pernah benar-benar nanya kamu lagi apa."

Maya terdiam beberapa detik sebelum melanjutkan.

"Aku juga baru sadar satu hal lagi."

Rafi menatapnya, tenang seperti biasa.

"Dari dulu aku cerita soal cowok lain ke kamu."

Ia tertawa kecil, tapi kali ini ada getir yang tipis.

"Lucu ya. Kamu selalu dengerin. Selalu ngasih saran. Selalu kelihatan biasa aja."

Rafi mengalihkan pandangan sebentar.

Maya menatapnya lebih lama.

"Padahal… kamu suka sama aku, kan?"

Hening.

Tidak ada kaget. Tidak ada penyangkalan cepat.

Rafi menghembuskan napas pelan.

"Dulu."

Satu kata. Cukup.

Maya tersenyum tipis. Bukan senyum bangga. Bukan juga merasa menang.

"Kenapa kamu nggak pernah bilang?"

Rafi mengangkat bahu kecil.

"Kamu lagi sibuk suka sama orang lain."

Jawabannya sederhana. Tapi itu lebih menyakitkan daripada pengakuan panjang.

Maya menunduk.

"Aku nggak pernah sadar."

"Iya."

Dan untuk pertama kalinya, itu bukan kalimat pahit. Hanya fakta yang terlambat.

"Aku kira kamu cuma baik," lanjut Maya pelan.

"Ternyata kamu lagi nahan."

Rafi tidak membenarkan. Tidak menyangkal.

"Aku nggak marah," katanya akhirnya.

"Cuma capek."

Itu inti lukanya.

Bukan karena tidak dipilih.

Tapi karena selalu jadi pilihan terakhir.

Maya mengangguk pelan.

"Maaf ya, Fi."

Kali ini bukan maaf dramatis.

Cuma pengakuan.

Dan itu cukup untuk menutup apa yang dulu nggak pernah jelas.

More Chapters