Malam di desa Karangrejo selalu terasa lebih sunyi dari tempat lain.
Setelah jam sepuluh, hampir tak ada orang yang berani keluar rumah.
Bukan karena aturan, tapi karena sesuatu yang sering muncul di dekat sumur tua di belakang rumah kosong milik keluarga Surya.
Ardi baru saja pindah ke desa itu seminggu yang lalu. Ia tinggal di rumah pamannya yang berada tepat di sebelah rumah kosong tersebut. Awalnya ia tidak percaya dengan cerita warga.
"Jangan keluar malam, apalagi ke belakang rumah," kata pamannya suatu sore.
Ardi hanya tertawa kecil. "Cuma cerita orang kampung, Pakde."
Namun malam itu, sekitar pukul dua belas, Ardi terbangun karena suara aneh.
Krek… krek…
Seperti suara timba yang ditarik dari sumur.
Ardi membuka mata perlahan. Suara itu jelas datang dari belakang rumah. Padahal ia yakin tidak ada orang yang berani mendekati sumur itu pada malam hari.
Rasa penasaran mengalahkan rasa takut.
Ia bangkit dari tempat tidur, lalu berjalan menuju jendela. Angin malam masuk melalui celah jendela yang sedikit terbuka.
Dari sana, Ardi bisa melihat halaman belakang yang gelap. Bulan tertutup awan tipis, membuat semuanya terlihat samar.
Lalu suara itu terdengar lagi.
Krek… krek… krek…
Seperti seseorang sedang menarik timba dari dalam sumur.
Ardi mengernyit. "Siapa sih malam-malam ambil air?" gumamnya.
Ia membuka pintu belakang perlahan. Pintu kayu itu berderit pelan.
Udara malam terasa dingin menusuk kulit. Lampu di halaman mati, hanya cahaya bulan yang menerangi sedikit area di sekitar sumur.
Ardi melangkah mendekat.
Satu langkah.
Dua langkah.
Tiga langkah.
Suara timba tiba-tiba berhenti.
Sunyi.
Sangat sunyi.
Ardi berdiri tepat beberapa meter dari sumur. Ia menatap ke arah lubang sumur yang gelap pekat.
"Hello?" panggilnya pelan.
Tidak ada jawaban.
Namun tiba-tiba…
Plung!
Seperti sesuatu jatuh ke dalam air.
Ardi tersentak.
Ia mendekati bibir sumur dan mencoba melihat ke dalam.
Gelap.
Terlalu gelap untuk melihat apa pun.
Lalu dari dalam sumur, terdengar suara lirih.
Sangat pelan.
Seperti seseorang berbisik.
"…tolong…"
Ardi membeku.
Ia menahan napas dan mencoba memastikan apa yang baru saja ia dengar.
Lalu suara itu terdengar lagi, kali ini lebih jelas.
"…tolong aku…"
Ardi mundur selangkah.
"Itu… siapa?" suaranya gemetar.
Tidak ada jawaban beberapa detik.
Kemudian…
Perlahan… sangat perlahan…
Sebuah tangan pucat muncul dari dalam sumur.
Jari-jarinya kurus dan basah, mencengkeram bibir sumur.
Ardi tidak bisa bergerak.
Tangan itu terus naik.
Lalu terdengar suara dari dalam sumur, kali ini berubah menjadi bisikan yang serak.
"…akhirnya… ada yang datang…"
Ardi baru sadar satu hal yang membuat darahnya terasa membeku.
Tangan itu…
memiliki kuku yang sangat panjang dan hitam… seperti sudah mati bertahun-tahun.
Dan tiba-tiba, sesuatu dari dalam sumur menarik tangan Ardi dengan sangat kuat.
Ardi menjerit.
Namun yang lebih mengerikan…
Dari dalam sumur itu terdengar suara Ardi sendiri tertawa pelan.
"Sekarang… giliranmu di dalam sini."
