Langit menjadi sunyi.
Tidak ada petir.
Tidak ada suara perang.
Hanya detak jantung raksasa yang mengguncang dunia.
DUM.
DUM.
DUM.
Makhluk raksasa yang bangkit dari dalam bumi menatap langsung ke arah Avatar Raka.
Matanya seperti dua matahari hitam yang berputar perlahan.
"Akhirnya… aku menemukanmu."
Energi menara di seluruh dunia tiba-tiba bergetar lebih keras.
Cahaya merah yang menyelimuti tubuh avatar Raka mulai berubah warna.
Sebagian berubah menjadi hitam pekat.
Raka merasakan sesuatu yang aneh di dalam dirinya.
Suara lain.
Suara yang bukan miliknya.
"Kembalilah."
Raka memegang kepalanya.
"Apa… ini…?"
Ingatan aneh mulai muncul di pikirannya.
Bukan ingatan masa kecilnya.
Bukan ingatan dunia ini.
Tapi ingatan yang jauh lebih tua.
Langit yang berbeda.
Bintang-bintang yang mati.
Dan dirinya…
berdiri di samping makhluk raksasa itu.
Aldren berteriak dari bawah menara.
"RAKA!"
Namun suara Aldren terdengar sangat jauh.
Makhluk raksasa itu mengangkat tangannya perlahan.
Energi hitam mengalir dari tubuhnya menuju Raka.
"Kau adalah bagian yang terpisah."
"Hatiku."
Penjaga pertama langsung menyadari sesuatu.
"Tidak…"
Pria berambut putih menatap dengan ngeri.
"Para pencipta dunia dulu…"
"...memecah jiwanya."
Makhluk dari jantung menara menggertakkan giginya.
"Dan mereka menyembunyikan bagian itu…"
Ia menunjuk Raka.
"...di dalam manusia."
Avatar Raka mulai retak.
Cahaya merah dan hitam bertabrakan di tubuhnya.
Makhluk raksasa itu melangkah lebih dekat.
Setiap langkahnya membuat benua retak.
"Kembalilah padaku."
"Dan kita akan menjadi utuh lagi."
Raja para pemburu tersenyum puas.
"Akhirnya."
"Penguasa kami akan kembali sempurna."
Namun tiba-tiba—
Raka berhenti bergerak.
Ia menurunkan tangannya perlahan.
Cahaya merah di tubuhnya berkedip.
Lalu suara Raka terdengar lagi.
Tenang.
Namun sangat kuat.
"Tidak."
Semua makhluk langsung terdiam.
Makhluk raksasa itu memiringkan kepalanya.
"Apa?"
Raka membuka matanya.
Mata merahnya kembali menyala.
"Aku bukan hatimu."
Ia mengepalkan tangannya.
Energi menara yang hampir tersedot tiba-tiba berhenti.
"Aku Raka."
Seluruh menara di dunia bersinar lebih terang.
Cahaya merah kembali mendominasi tubuh avatar.
Makhluk raksasa itu menatapnya beberapa detik.
Lalu tersenyum kecil.
"Menarik."
"Jadi kau memilih melawanku."
Raka mengangkat pedang cahayanya lagi.
"Kau salah tentang satu hal."
Ia menunjuk seluruh dunia.
"Jiwamu mungkin ada di dalam diriku."
Energi menara bergetar seperti bintang yang meledak.
"Tapi dunia ini…"
Ratusan avatar penjaga di seluruh dunia kembali muncul.
"...bukan milikmu lagi."
Makhluk raksasa itu tertawa pelan.
Suara tawanya mengguncang lautan.
"Kalau begitu… mari kita lihat."
Ia membuka kedua tangannya.
Energi hitam raksasa muncul di sekelilingnya.
Langit berubah menjadi pusaran kegelapan.
"Apakah bagian kecil dari jiwaku…"
Tanah retak semakin dalam.
Gunung runtuh.
"…bisa melawan keseluruhan diriku?"
Raka mengangkat pedangnya tinggi-tinggi.
Semua menara di dunia menyala bersamaan.
Cahaya merah menembus awan.
"Kalau perlu…"
Energi raksasa berkumpul di tubuhnya.
"...aku akan menghancurkanmu."
Makhluk raksasa itu menyeringai.
"Coba saja."
Lalu kedua makhluk raksasa itu bergerak bersamaan.
Raka melompat dari langit.
Makhluk raksasa itu mengayunkan tinju sebesar gunung.
Dan saat kedua kekuatan itu bertabrakan—
Langit.
Laut.
Dan bumi.
Semua bergetar.
Perang antara manusia yang membawa jiwa dewa dan dewa yang ingin kembali utuh akhirnya dimulai.
Namun jauh di bawah tanah…
di kedalaman yang bahkan tidak diketahui para penjaga…
sebuah menara lain mulai menyala.
Menara yang tidak pernah tercatat dalam sejarah.
Dan di dalam menara itu—
sebuah suara tua berbisik pelan.
"Jadi… akhirnya mereka bangun."
Seseorang perlahan membuka matanya di dalam kegelapan.
"Kalau begitu… saatnya aku ikut bermain."
