Cherreads

Chapter 32 - Chapter 32 — Mereka Mulai Takut Kehilangan Indonesia

RSPAD — PAGI YANG BERUBAH MENJADI SIMBOL NEGARA

Pagi itu, kawasan RSPAD Gatot Soebroto tidak lagi terasa seperti rumah sakit militer biasa.

Udara Jakarta memang masih sama—panas, padat, dan penuh suara kendaraan dari kejauhan. Namun ada sesuatu yang berbeda di sekitar area rumah sakit itu. Sesuatu yang tidak bisa dijelaskan hanya dengan kata “pengamanan”.

Jalan-jalan menuju RSPAD mulai dijaga lebih ketat. Kendaraan hitam keluar masuk tanpa pola yang jelas. Beberapa pria berpakaian sipil berdiri di titik tertentu dengan tatapan tajam dan gerakan yang terlalu disiplin untuk disebut pengawal biasa. Bahkan wartawan yang sejak semalam bertahan mulai saling melirik dengan perasaan tidak nyaman.

“Ini udah kayak negara lagi perang diam-diam…” gumam seorang kameramen pelan sambil mengusap wajahnya yang lelah.

Tidak ada yang menjawab.

Karena semua orang mulai merasakan hal yang sama.

Situasi ini sudah terlalu besar.

Bahkan beberapa security rumah sakit mulai terlihat gugup. Mereka yang biasanya hanya mengatur kendaraan pasien kini harus menghadapi lapisan pengamanan yang tidak mereka pahami. Setiap beberapa menit ada komunikasi pendek melalui headset. Setiap kendaraan diperiksa dua kali. Bahkan akses lift tertentu mendadak dibatasi.

“Pak Doni itu sebenarnya siapa sih…” bisik salah satu petugas rumah sakit kepada rekannya.

Namun rekannya hanya menggeleng pelan.

“Kayaknya…”

Ia berhenti sejenak sambil melihat iring-iringan kendaraan hitam masuk lewat jalur belakang.

“…kita semua baru sadar kalau selama ini beliau bukan orang biasa.”

Dan kalimat itu—

perlahan mulai menjadi kesimpulan semua orang.

PROGRAM ENERGI TERBARUKAN — MIMPI YANG SELAMA INI DIANGGAP MUSTAHIL

Di berbagai layar televisi nasional, pembahasan tentang percepatan energi terbarukan mulai memenuhi headline utama. Namun kali ini berbeda. Biasanya program EV hanya dibahas sebagai proyek pemerintah biasa—formal, kaku, dan terasa jauh dari masyarakat.

Tapi sekarang…

nama Doni dan GWM membuat semuanya terasa lebih nyata.

Lebih hidup.

Lebih emosional.

Karena untuk pertama kalinya, masyarakat mulai melihat bahwa ada orang-orang yang benar-benar bekerja diam-diam demi perubahan besar.

“Pemerintah selama ini memang sedang mendorong percepatan transisi energi…” ujar seorang analis energi nasional dalam siaran langsung televisi. “Namun yang dilakukan PT Gita Wahana Mandiri berbeda.”

Ia menunjuk grafik besar di layar.

“Mereka tidak hanya bicara kendaraan listrik.”

“Mereka membangun ekosistem.”

Kalimat itu langsung menarik perhatian publik.

Ekosistem.

Bukan sekadar mobil listrik mahal untuk kalangan atas.

Namun sistem menyeluruh.

EV Charging.

Solar panel.

Jaringan distribusi energi.

Transportasi umum listrik.

Digitalisasi kendaraan rakyat.

Semua mulai terlihat saling terhubung.

Dan masyarakat perlahan sadar—

yang sedang dibangun bukan proyek bisnis.

Melainkan pondasi masa depan.

“Kalau proyek ini berhasil…” lanjut analis itu pelan, “…Indonesia bisa jadi negara pertama di Asia Tenggara yang punya integrasi transportasi dan energi listrik nasional secara penuh.”

Sunyi memenuhi studio televisi.

Karena semua orang tahu—

itu bukan mimpi kecil.

Itu lompatan sejarah.

ENERNOVA — KEDATANGAN MR. LEO YANG MENGUBAH SUASANA

Ketika jet pribadi Enernova akhirnya mendarat di Soekarno-Hatta, media yang sudah menunggu sejak pagi langsung bergerak liar. Kamera diangkat tinggi-tinggi. Reporter mulai berbicara cepat ke arah siaran langsung mereka. Bahkan beberapa media internasional ikut mengambil posisi terbaik demi mendapatkan gambar pertama delegasi Enernova.

Namun suasana mendadak berubah ketika sosok yang turun dari pesawat terlihat sangat muda.

Pria itu berjalan tenang dengan setelan hitam sederhana tanpa pengawalan berlebihan. Wajahnya bersih dan terlihat lebih seperti entrepreneur muda teknologi dibanding petinggi perusahaan energi global.

“Itu… Mr. Leo?”

Salah satu wartawan sampai terlihat tidak percaya.

Karena nama Mr. Leo selama ini begitu besar di dunia energi internasional. Banyak orang membayangkan sosok tua penuh formalitas. Namun kenyataannya—

ia masih sangat muda.

Mungkin baru awal tiga puluhan.

Namun justru itu yang membuat auranya terasa jauh lebih mengintimidasi.

Karena di usia semuda itu…

ia sudah menjadi Direktur Sales Global Enernova.

Dan semua orang tahu—

jabatan seperti itu tidak mungkin diberikan kepada orang biasa.

Mr. Leo berjalan perlahan sambil melihat sekitar. Tatapannya tenang, namun sangat tajam. Ia seperti seseorang yang terbiasa membaca situasi hanya dalam beberapa detik.

Ketika salah satu pengawal lokal mendekat menjelaskan kondisi Doni yang masih berada di ICU, ekspresi wajah Mr. Leo langsung berubah.

“He still working while sick?”

Nada suaranya terdengar antara kesal dan khawatir.

Pengawal itu hanya tersenyum kecil.

“Pak Doni memang seperti itu, sir.”

Mr. Leo terdiam sesaat.

Lalu menggeleng pelan sambil tersenyum tipis.

“That old man…”

Namun di balik senyum kecil itu—

ada rasa hormat yang sangat besar.

PROF ARIEF — PENGAKUAN YANG MEMBUAT RAKYAT MULAI TERHARU

Siang itu, Prof Arief kembali berdiri di depan media.

Namun kali ini suasana benar-benar berbeda.

Tidak ada lagi pertanyaan sensasional murahan.

Karena masyarakat mulai melihat sisi lain dari semua ini.

Mereka mulai melihat perjuangan.

“Pak Arief…” suara seorang wartawan perempuan terdengar pelan. “Apakah benar Pak Doni sejak awal membantu program percepatan energi terbarukan pemerintah?”

Arief mengangguk perlahan.

“Benar.”

Sunyi.

“Bahkan jauh sebelum ramai dibicarakan seperti sekarang.”

Ia menarik napas panjang.

“Pak Doni percaya satu hal…”

Arief berhenti sejenak.

“…Indonesia tidak boleh terus tertinggal dalam energi masa depan.”

Beberapa wartawan mulai diam menunduk mendengar itu.

“Beliau selalu bilang…”

Suara Arief mulai sedikit bergetar.

“…kalau bangsa besar tidak boleh terus bergantung pada teknologi luar tanpa membangun sistemnya sendiri.”

Ia melanjutkan dengan lebih dalam.

“Karena itu beliau membangun EV Charging.”

“Membawa Enernova.”

“Membangun sistem solar panel.”

“Dan bahkan proyek angkot listrik.”

Arief menatap kamera satu per satu.

“Beliau ingin masyarakat kecil juga merasakan teknologi masa depan.”

Kalimat itu langsung membuat suasana berubah emosional.

Karena tiba-tiba semua orang sadar—

proyek ini bukan tentang elite.

Bukan tentang bisnis orang kaya.

Tapi tentang masa depan rakyat biasa.

ANGKOT LISTRIK — MIMPI YANG LAHIR DARI JALANAN

“Pak Doni paling keras kalau bicara transportasi rakyat.”

Kalimat itu keluar pelan dari mulut Arief.

Dan suasana langsung hening.

“Beliau tidak suka kalau kendaraan listrik hanya jadi simbol kemewahan.”

Arief tersenyum kecil mengingat sesuatu.

“Beliau pernah bilang ke saya…”

Ia berhenti.

“Kalau cuma orang kaya yang bisa menikmati teknologi…”

“…berarti kita gagal.”

Kalimat itu menghantam hati banyak orang.

Arief lalu mulai menjelaskan lebih detail tentang proyek Angkot Listrik GWM.

Kendaraan umum berbasis digital.

Tetap menggunakan sopir seperti Jaklingko agar masyarakat tidak kehilangan pekerjaan.

Namun dengan sistem yang jauh lebih modern.

Tidak ada lagi ngetem liar.

Tidak ada lagi rebutan penumpang.

Tidak ada lagi kendaraan tua penuh asap hitam.

Semua terintegrasi sistem digital.

Terhubung dengan EV Charging.

Dengan monitoring keamanan real-time.

Dengan jalur energi pintar.

“Bayangkan…”

Arief menatap kamera.

“…anak-anak sekolah naik angkot yang bersih.”

“…ibu-ibu tidak takut lagi naik kendaraan umum malam hari.”

“…dan sopir angkot punya penghasilan lebih stabil.”

Sunyi.

Dan untuk pertama kalinya—

beberapa wartawan terlihat benar-benar tersentuh.

Karena itu bukan sekadar proyek teknologi.

Itu harapan.

ICU — DONI DAN BEBAN YANG SELAMA INI IA PIKUL SENDIRI

Di dalam ICU, televisi kecil masih menayangkan siaran langsung Prof Arief.

Doni mendengarnya dalam diam.

Matanya terlihat lelah.

Namun ada sesuatu yang perlahan muncul di wajahnya—

kelegaan kecil.

Sri yang duduk di samping ranjang menggenggam tangannya erat.

Dan untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai—

air matanya jatuh tanpa bisa ditahan.

“Mas…”

Suaranya pecah pelan.

“Kenapa selama ini dipikul sendiri…”

Doni tersenyum tipis.

Senyum lelah seorang pria yang terlalu lama berjalan sendirian.

“Ada hal…”

Ia menarik napas pelan.

“…yang kalau terlalu banyak bicara…”

“…nggak akan pernah jadi kenyataan.”

Sri langsung menunduk menangis.

Karena akhirnya ia mengerti.

Suaminya selama ini tidak diam karena tidak peduli.

Namun karena terlalu banyak yang ia pikirkan untuk bangsa ini.

Doni menoleh pelan ke arah jendela ICU.

Jakarta terlihat samar dari balik kaca.

Lalu dengan suara yang hampir seperti bisikan—

ia berkata lirih.

“Aku cuma pengen…”

Ia berhenti cukup lama.

“…anak cucu kita nanti nggak hidup di negara yang selalu tertinggal.”

Dan kalimat itu—

menghancurkan hati semua orang yang mendengarnya.

More Chapters